Young Entrepreneur : Kopi Kampoeng Arab

Young Entrepreneur : Kopi Kampoeng Arab

Para pecinta kopi tentunya sudah mengetahui bahwa minuman yang memiliki rasa pahit dan asam ini memiliki keunikan rasa. Keunikan rasa kopi tergantung dari masing-masing tempat atau daerah penanamannya. Seperti yang kita ketahui, banyak sekali jenis-jenis kopi, seperti kopi Aceh, kopi Papua, kopi Toraja, dan lain sebagainya. Tentunya para penikmat kopi tidak terbatas pada orang-orang didalam negeri, diluar negeri seperti di Negara Eropa juga terdapat banyak penikmat kopi lainnya. Sama halnya dengan Arab, di Arab sendiri penikmat kopi memiliki citarasa tersendiri terhadap rasa kopinya.

Banyak mahasiswa di Universitas Ciputra yang berasal dari berbagai background budaya yang berbeda, hal ini tentunya membuat akulturasi budaya di Universitas Ciputra yang beragam pula. Beberapa mahasiswa tersebut adalah mahasiswa keturunan Arab yaitu Fadly Abdul Aziz dan Abdullah Novel Mahri. Kedua mahasiswa ini tinggal di kawasan Ampel Surabaya yang memang dikenal sebagai kampung Arab. Berbicara mengenai kopi, tentunya Fadly dan Abdullah mengenal kopi khas Arab. Keunikan dari kopi Arab adalah kopi tersebut bukan kopi polos, melainkan harus dicampur dengan rempah kapulaga. Keluarga dan lingkungan mereka di Arab kebanyakan tidak terbiasa meminum kopi dengan cara ‘polosan’ atau tidak ada campuran apapun tersebut. “Kopi kami itu ya kopi dicampur dengan rempah-rempah. Nah karena sudah alkuturasi di Indonesia, jadinya rempah kapulaga diganti cengkeh, kayu manis dan jahe,” jelas Fadly, lulusan SMA Muhammadiyah 2 Surabaya.

Kopi Kampung Arab - UCEO - by Koko (111)Meminum kopi Arab ala Indonesia telah diterapkan selama bertahun-tahun oleh kedua mahasiswa jurusan International Business Management (IMB) angkatan tahun 2013 ini. Fadly dan Abdullah telah menganggapnya sebagai tradisi minum dan rasa kopi yang biasa karena mereka telah terbiasa dengan rasa kopi tersebut. Namun ketika mereka mulai kuliah di Universitas Ciputra yang mengutamakan spirit entrepreneurship, maka mereka dapat membacanya sebagai peluang bisnis. Yaitu bahwa citarasa kopi Arab yang unik ini dapat dikenalkan kepada penikmat kopi selain di komunitas orang Arab.  “Di Universitas Ciputra kita diajarkan untuk peka melihat peluang. Apalagi tugas kelas entrepreneur ini harus membuat bisnis. Jadi kita berfikir kenapa nggak bisnis kopi Arab saja,” kenang Abdullah, alumni SMA Al Irsyad Surabaya.

Fadli dan Abdullah kemudian bergabung dengan William Elfrado dan Jawahir Muhammad untuk berkelompok membuat tim di kelas Entrepreneur. Akhirnya mereka membuat brand dengan nama Kopi Kampoeng Arab dengan produk utama berupa kopi. Karena target mereka adalah penggemar kopi diluar komunitas Arab, maka mereka menyesuaikan citarasa kopi tersebut agar dapat dinikmati oleh seluruh kalangan masyarakat. Cara yang mereka lakukan adalah meminimalisir agar rasa rempahnya terasa tidak terlalu kuat. Ternyata banyak yang menyukai rasa Kopi Kampoeng Arab ini. Hal ini terbukti ketika mereka mengikuti bazaar Sunday Market dan membuka booth di chapter The Big Kampoong, banyak anak muda yang membeli produk kopi mereka.

Tidak berhenti sampai disitu, produk Kopi Kampoeng Arab yang unik ini juga diminati oleh berbagai macam kalangan sehingga menarik perhatian media untuk dipublikasi. Beberapa media yang telah meliput bisnis Kopi Kampoeng Arab diantaranya adalah Jawa Pos, Radio Pas FM, Radio Sam FM dan Radio Suara Muslim Surabaya. “Itu promosi gratis lho, tapi dampaknya signifikan untuk penjualan,” kata Abdullah yang menjadi CMO atau marketing manager di tim ini. Selain melalui media massa, promosi yang dilakukan oleh tim Kopi Kampoeng Arab adalah dengan cara mengikuti pameran-pameran dengan skala nasional dan bahkan internasional.

Salah satu event pameran besar yang telah diikuti oleh Kopi Kampoeng Arab adalah event bertajuk International Trade (Intrade) yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2015. Beberapa dari pameran tersebut merupakan bentuk dukungan dari Universitas Ciputra dalam mendukung mahasiswanya untuk menjadi pengusaha muda berkelas internasional. Selain itu, tim Kopi Kampoeng Arab juga berusaha melakukan pengembangan tim dan produk dengan cara mengikuti berbagai kompetisi bisnis startup mahasiswa yang diinisisasi oleh perwakilan tim riset bisnis yaitu William dan Jawahir. Dalam hal pendistribusian produk, Kopi Kampoeng Arab telah melakukan distribusi ke berbagai bidang seperti hotel, rumah makan, atau bahkan warung karena target pasar Kopi Kampoeng Arab ini memang untuk semua kalangan. Hingga saat ini, Kopi Kampoeng Arab telah memiliki agen-agen penjualan dan pendistribusian kopi di 5 kota di Pulau Jawa dan Sulawesi.

William Elfrado, yang lebih akrab dipanggil Pedro saat ini sedang mengikuti sistem pertukaran pelajar di Solbridge University. Namun demikian, Pedro tidak lupa untuk selalu mempromosikan brand Kopi Kampoeng Arab di Daejon, Korea Selatan. “Aku memang ingin ikut program ini supaya punya networking internasional,” kata Pedro.

Salah satu mimpi dari Fadly, Abdullah, William, dan Abdullah adalah ingin Kopi Kampoeng Arab menjadi brand yang dapat menyaingi Unilever dan Wings. Karena nantinya brand Kopi Kampoeng Arab ini tidak hanya memiliki produk berupa kopi. Saat ini bisnis mereka memang masih startup, namun mereka sangat yakin dengan target kedepan serta sangat serius dalam mengusahakannya. “Kami beruntung mengawalinya di Universitas Ciputra, karena Kami memulai lebih awal dan memiliki mentor khusus. Networkingnya kuat, dan Kami bisa belajar dari orang-orang besar,” tutup Fadly, CEO Kampoeng Arab. Melalui Kopi Kampoeng Arab, Fadly, William, Abdullah dan Jawahir telah berani mengawali bisnis mereka lebih awal bersama Universitas Ciputra. Mereka mencari ilmu, pelajaran, dan pengalaman sebanyak mungkin sebagai bekal untuk terjun kedalam industri bisnis yang sesungguhnya.