Menjadi Creativepreneur lewat hobi menggambar

Karya ilustrasi Ayang Cempaka yang dicetak dalam bentuk notebook. Sumber: theitgirl.id

Industri kreatif di Indonesia kian berkembang, menurut kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, pada tahun 2015 sektor ekonomi kreatif telah menyumbang Rp 852 triliun dan nilai ini menunjukkan pertumbuhan 4,38%. Pada tahun 2019, Bekraf memprediksi pertumbuhan produk domestik bruto ekonomi kreatif meningkat hingga di atas 1,2 ribu triliun. Data ini menunjukkan bahwa kian banyak orang yang mengapresiasi karya seni dalam berbagai wujud, contohnya dalam wujud produk aksesoris fesyen dan stationery.

David Wijaya, owner dari DWS Kellington yang menjual karya doodle art dalam bentuk kartu ucapan, boneka dan lain-lain, adalah salah satu contoh creativepreneur yang berhasil memperbesar bisnis karya seni. Dalam sharingnya di press release Tokopedia, David tidak pernah menyangka bahwa hobi menggambarnya mampu menjadi sumber penghasilan utama. Peraih gelar cumlaude dengan IPK 3,98 di bidang IT ini menolak tawaran pekerjaan tetap dan beasiswa demi menekuni bisnisnya. Pada awalnya orang tua David sempat menentang karena prospek karir di perusahaan besar tentunya lebih menjanjikan masa depan. Dengan tekad yang kuat akhirnya David mampu meyakinkan orang tuanya dan kini bisnisnya mampu menghasilkan  puluhan juta rupiah per bulan dalam waktu 2 tahun.

Kisah sukses lain yang mampu menjadikan hobi menggambar menjadi bisnis yang stabil adalah Ayang Cempaka. Lulusan arsitek di Yogyakarta ini pindah ke Dubai untuk mengikuti suami. Tidak ingin menjadi stereotype ibu rumah tangga yang ‘hanya’ mengurus rumah dan menjaga anak, Ayang memilih untuk menekuni hobinya dan mencetak hasil karyanya ke berbagai produk seperti kartu, scarf, tas dan aneka barang lainnya. Kini, Ayang memiliki lebih dari 100.000 follower di akun Instagramnya dan mendapat proyek dari Transjakarta untuk mengerjakan ilustrasi di badan bus Transjakarta yang melintasi rute Ancol dan Ragunan. Selain proyek lokal, Ayang juga mengerjakan proyek milik brand-brand internasional seperti Lancome, Elle Décor, dan Furla.

Selain Ayang adapula Martha Puri Natasande, pemilik brand ideku handmade yang menjual beragam produk kerajinan tangan dengan ciri khas gambar doodles yang berwarna-warni. Dengan jumlah follower yang juga lebih dari 100.000, Martha sering menjadi pembicara di event-event yang berkaitan dengan bisnis kreatif. Sarjana bidang desain komunikasi visual ini juga memaparkan bahwa ketika kuliah ada mahasiswa lain yang gambarnya lebih bagus daripada miliknya namun tidak memupuskan semangatnya untuk terus menekuni bisnis di bidang kreatif ini. Dengan modal awal 500.000 rupiah, kini Martha memiliki 7 pegawai serta melibatkan ibu-ibu rumah tangga dalam proses produksi.

Keberhasilan yang diraih oleh Ayang dan Martha tidak serta merta terjadi dalam waktu singkat. Keduanya telah menjalankan bisnis kreatif sekitar 10 tahun dan tentunya ada tantangan dalam proses pengembangan bisnis. Sama halnya dengan David, dimana harus berhemat dan disiplin dalam mengatur keuangan di awal bisnisnya karena masih belum ada pemasukan yang stabil. Namun, dengan kerja keras dan konsistensi mereka bertiga mampu menjadi creativepreneur yang memiliki nama di dalam maupun luar negeri.

 

Sumber artikel:

http://www.bekraf.go.id/berita/page/10/bekraf-outlook-ekonomi-kreatif-opus-2019

https://kumparan.com/@kumparanstyle/martha-puri-perempuan-kreatif-di-balik-bisnis-kriya-ideku-handmade-27431110790543960