Geliat pelaku bisnis kreatif dalam memerangi sampah plastik di Indonesia

Kantong daur ulang dari bahan cassava produksi Avani Eco. Sumber Gambar: Avani Eco instagr

Menurut penelitian yang dilakukan oleh University of Georgia, sekitar 3,22 juta metrik ton sampah plastik dibuang ke perairan di sekitar Indonesia tiap tahunnya. Hal ini membuat Indonesia menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah China.

Pada Bulan Juli 2018, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti menyerukan agar masyarakat beralih dari sedotan dan kantongan plastik ke barang-barang yang dapat didaur ulang. Namun, tentunya untuk mengubah pola pikir masyarakat terhadap penggunaan plastik akan cukup menantang karena plastik di Indonesia sangatlah mudah didapat sebab harga produksi yang murah. Ditambah pula dengan berkembangnya industri kreatif di Indonesia terutama di bidang fesyen dan kuliner, yang juga menggunakan plastik sebagai bagian dari produk dan brand identity, membuat penggunaan plastik semakin bertambah.

Sebuah lembaga konsultansi sustainabitlity di London, Ecoage, juga mengutarakan sampah plastik industri fesyen tidak hanya sebatas kemasan plastik untuk baju namun juga dari produksi pakaian berbahan kain sintetis yang terbuat dari plastik mikro. Sebesar 35% dari 1,5 juta ton plastik mikro yang dibuang ke laut adalah hasil dari pencucian tekstil sintetis, dimana jumlah ini setara dengan 50 miliar botol plastik sehingga dapat dikatakan industri tekstil sintetis adalah sumber terbesar dari pembuangan plastik mikro ke lautan. Hal ini tentunya akan mengancam ekosistem laut, bahkan diprediksi pada tahun 2050 akan lebih banyak plastik di lautan daripada ikan.

Untungnya, di tengah menjamurnya brand-brand fesyen lokal yang mayoritas menggunakan kain sintetis masih ada beberapa pemilik bisnis kreatif lokal yang memiliki misi untuk berkontribusi positif terhadap lingkungan. Contohnya Danica Flesch, pemilik brand Sukkha Citta yang telah dikenal sebagai social entrepreneur yang berfokus pada tekstil tradisional Indonesia. Danica memilih bahan non sintetis untuk material produk, juga menyuarakan gaya hidup less plastic kepada customer yang biasa berbelanja baju online untuk memberi info kepada seller agar tidak membungkus baju tersebut dengan kantong plastik.

Selain brand fesyen adapula brand asal Bali yang bergerak di bidang eco-friendly packaging yaitu Avani Eco, dimana produknya bervariasi mulai dari kantong plastik hingga food and beverage packaging. Adapun kantong plastik yang dihasilkan oleh Avani bukanlah kantong plastik biasa namun terbuat dari 100% tanaman cassava dimana memiliki tekstur dan penampilan seperti plastik. Kantongan ini bisa terurai secara alami di lingkungan dalam hitungan bulan. Beberapa brand fashion baik dari dalam maupun luar negeri telah menggunakan packaging ini untuk kemasan produk mereka. Untuk industri kuliner, brand lokal yang berada di kota-kota besar, contohnya Volks Café di Surabaya, juga telah menggunakan paper cup Avani yang memakai bahan tepung jagung untuk mencegah kebocoran pada gelas. Gelas ini juga bisa terurai dan menjadi kompos bila diolah di fasilitas kompos yang berpartner dengan Avani. Selain paper cup, Avani juga mengeluarkan produk sendok dan garpu makan serta sedotan yang juga terbuat dari tepung jagung sehingga bisa didaur ulang.

Bisa kita lihat bahwa brand-brand lokal mulai mengusung sustainability value di bisnis mereka walaupun masih belum banyak jumlahnya. Semoga kesadaran dan minat untuk melestarikan lingkungan akan terus bertambah di kalangan pelaku bisnis muda kita.

Paulina Tjandrawibawa

 

 

Sumber artikel:

https://theaseanpost.com/article/indonesias-plastic-waste-problem-0

https://www.liputan6.com/news/read/3589395/menteri-susi-indonesia-penyumbang-sampah-plastik-terbesar-kedua-dunia

http://www.ecoage.com

https://www.msn.com/id-id/ekonomi/ekonomidanbisnis/industri-makanan-sulit-cari-pengganti-plastik-untuk-kemasan/ar-BBQgZlC