UC Surabaya Gali Potensi Ekokuliner Tengger. 17 Juni 2021. timesindonesia.co.id. CB

blank

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Kawasan Wisata Gunung Bromo menjadi salah satu tujuan wisata unggulan Indonesia. Seharusnya ekowisata kuliner khas Tengger dapat dijadikan rumah kuliner yang ramah lingkungan. Universitas Ciputra atau UC Surbaya melalui Program Studi Kulineri Bisnis dan Program Studi Teknologi Pangan mencoba bukan hanya menggali potensi ekokuliner di Kawasan Bromo, tetapi juga berniat memperkenalkannya sebagai kekayaan kuliner Tengger, untuk dapat disajikan bagi wisatawan mancanegara maupun nusantara.

Kementerian Pendidikan mendukung usaha ini dengan memberikan hibah penelitian melalui Simlitabnas tahun 2021 dan diharapkan daapat dituntaskan pada tahun 2022 mendatang.

Pariwisata Bromo telah sangat cepat berkembang, tetapi telah menelantarkan kulineri lokal. Sebuah penelitian di tahun 2017, mendata kuliner local Etnis Tengger yang terdiri atas tujuh kategori makanan pokok, hidangan sayuran, lauk pauk, kondimen, jajanan, one dish meal, dan minuman yaitu kopi lokal.

Bila kuliner lokal tersebut dapat bertumbuh seiring perkembangan pariwisata di Bromo, maka ekowisata kuliner Bromo dapat bertumbuh sehingga memungkinkan untuk menjadi pilar utama dari Pariwisata Bromo.

Tetapi hal itu rupanya masih seperti pepatah, jauh api dari panggang. Penyebabya bisa jadi karena letak geografis Bromo yang berada dalam empat kabupaten, Malang, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, telah menyebabkan multi-management sangat kental. Ketual PHRI Probolinggo, Digdoyo menyatakan setiap kabupaten memiliki peraturan dan kepentingan sendiri-sendiri untuk menjaga Bromo.

blank

Festival makanan lokal di keempat kabupaten diadakan secara berkala namun tidak serta merta mengantarkan makanan etnis Tengger menjadi tuan rumah kuliner di hotel maupun café yang tumbuh subur di Bromo. Tidak ada satupun dari makanan local yang difestivalkan tersebut yang dianggap layak disajikan dalam salah satu stakeholder pariwisata, tersebut. Salah satu sebab karena, beberapa dari makanan seringkali dianggap sebagai makanan masyarakat ekonomi lemah bahkan termasuk makanan hewan, contoh aron dan mbote.

Aron bagi masyarakat Tengger adalah pengganti nasi yang terbuat dari jagung putih. Tanaman jagung putih dan bermasa tanam sembilan bulan, yang kemudian diolah menjadi makanan tradisional yg dikenal sebagai aron. Aron dikonsumsi dengan cara dibakar, dikukus dan dimakan seperti nasi serta dikonsumsi dengan lauk lain. Kekurangan dari aron, adalah aron sangat padat sehingga mengeringkan tenggorokan dan susah untuk ditelan bagi beberapa orang.

Namun demikian, ketua PHRI Probolinggo sekaligus pemilik Hotel Yoschi di Sukapura, Digdoyo mengatakan bahwa makan aron sedikit saja sangatlah mengenyangkan sehingga petani dapat bertahan bekerja hingga siang hari, tanpa merasa lapar. Namun, aron seringkali dianggap sebagai makanan utama orang yang berekonomi lemah, padahal kandungan serat dan karbohidrat dalam jagung putih adalah serat sangat tinggi.

Sedangkan mbote merupakan sejenis umbi yang mempunyai kandungan nutrisi penting-protein, kalium, kalsium, serat, magnesium- bagi masyarakat local hanyalah dijadikan makanan hewan. Mbote, yang dapat tumbuh subur di daerah Bromo, juga belum mendapat tempat di hari masyarakat Tengger untuk diperkenalkan pada parawisatawan sebagai kekayaan.

Hal itu dipertegas dengan kenyataan bahwa mbote yang merupakan tanaman berbentuk batang dan mudah tumbuh,  adalah makanan ternak. Sungguh ironis, karena dari hasil banyak penelitian membuktikan bahwa mbote baik untuk Kesehatan, karena kandungan lemaknya rendah sehingga baik untuk dinikmati oleh penderita diabetes; terlebih lagi mbote dapat diolah menjadi tepung berbumbu.

blank

Bukankah mbote dapat dipakai sebagai tepung bumbu untuk mengolah kentang dan jagung yang menjadi ciri khas kekayaan pertanian di Kawasan Bromo?

Sementara itu, hasil bumi pertanian lain, kentang, selalu dijual keluar Bromo sehingga yang tersisa adalah kentang-kentang dengan kwalitas kedua karena cacat saat dipanen. Sehingga kentang yang bagus jarang dinikmati oleh penduduk setempat, karena itu mereka hanya menggorengnya untuk disantap dalam keluarga.

Keripik kentang, sebagai jajanan yang dipasarkan dikalangan penduduk setempat, baru saja dimulai dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun tambahan lagi, baru satu orang yang memulai bisnis keripik kentang tersebut. Sementara itu dinegara yang berudara dingin, seperti negara-negara di Eropa dan di Amerika, kentang goreng panas disajikan di warung, restoran, food truct, bahkan termasuk street food  serta sangat laris.

Negara-negara tersebut juga menyajikan sup kentang yang sehat, yang mudah dibuat. Bromo, dengan keanekaragaman kentang, seolah belum sadar akan kekayaannya, dan hanya menyajikan berbagai mi instant yang meninggalkan banyak sampah un-organik bagi lingkungan Bromo.

Kenyataan itu diperparah dengan sebuah hasil penelitian terdahulu yang telah menemukan adanya sate kentang, perkedel kentang sebagai bagian dari kuliner khas Tengger, namun hal itu juga belum ada yang mengangkatnya sebagai salah satu jajanan khas Bromo yang layak ditawarkan pada para wisatawan yang mengunjungi Bromo.

Disarikan dari hasil penelitian dan pengabdian masyarakat yang didanai oleh Badan Riset Inovasi Nasional Universitas (BRIN) periode 2021-2022 yang dilakukan Dra. Juliuska Sahertian, M.Sc., Hari Minantyo, S.Pd., M.M. dan Oki Krisbianto, S.TP., M.Sc., Dosen Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya. (*)

Menu