SOLUSI MASALAH SEKS TKI

SOLUSI MASALAH SEKS TKI

 

Kasus penemuan mayat bayi di tempat sampah toilet pesawat Etihad  nomor penerbangan EY474 rute Abu Dhabi – Jakarta pada sabtu tanggal 6 januari 2017, pelakunya  diduga bernama HN (37 tahun) wanita asal Cianjur Jawa Barat yang menjadi TKI di Uni Emirat Arab, berangkat secara nonprosedural. Kasus tersebut di atas, adalah salah satu dari banyak kasus akibat masalah seks TKI, selain masalah aborsi, terjangkit  infeksi menular seks (IMS), dan hancurnya bahtera rumah tangga.

TKI dan Resiko terkait seks

Tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berangkat ke luar negeri, sebenarnya adalah orang-orang yang pemberani. Hidup di negeri orang, jauh dari keluarga, dengan tingkat stres yang relatif tinggi karena dituntut kerja keras, yang kinerjanya akan dinilai dengan imbalan sejumlah uang.

Latar belakang para TKI juga sangat beragam, menurut data BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) tingkat pendidikan sekolah dasar (SD) (33%), SMP (37%), SMA (25%), Diploma (4%), Sarjana (0.92%), dan Pascasarjana (0.05%). Sedangkan daerah asal 7 terbanyak yaitu Lombok Timur, Indramayu, Cilacap, Cirebon, Lombok Tengah, dan Cianjur. Mereka yang berangkat ada yang sudah berkeluarga dan ada yang bujangan.

Para TKI dengan tingkat stres yang tinggi dan jauh dari keluarga, bagi yang sudah berkeluarga menjadi tantangan yang tidak mudah untuk tetap mempunyai komitmen tidak melakukan seks diluar nikah. Menurut Maslow, seks  merupakan kebutuhan dasar manusia, juga seks bisa menjadi sarana pelepas stres (rekreasi).

Bahwa resiko dari seks bebas, selain kehamilan, abortus, dan resiko terjangkit infeksi menular seks (IMS), bagi yang sudah menikah umumnya akan meningkatkan resiko kehancuran bahtera rumah tangga. Hal tersebut antara lain karena wanita mau melakukan hubungan seks karena ada rasa cinta. Sementara laki-laki bisa melakukan hubungan tanpa dasar cinta.

Suami yang ditinggal istri menjadi TKI dalam waktu yang cukup lama, sementara kiriman uang dari istri tetap mengalir, menjadi tantangan tersendiri bagi para suami untuk tidak tergoda seks diluar pernikahan.

Terhadap resiko terjangkit infeksi menular seks (IMS) bahwa semakin beragam pasangan seksnya maka akan semakin besar resiko terjangkit infeksi menular seks. IMS jenis kencing nanah (GO) dan Syphilis akan mudah diketahui dari tanda dan gejala yang muncul. Sedangkan HIV, Khlamydia dan Virus hepatitis tidak dengan mudah diketahui, kecuali periksa laboratorium.

Seks TKI diluar nikah potensial terjadi, berbagai resiko bisa diminimalkan jika ada intervensi dalam konsep soft skill (pengetahuan) dan hard skill (keterampilan), selain pembekalan terkait pekerjaan saat jadi TKI.

Entrepreurship sebagai salah satu solusi

Bahwa para TKI berangkat ke luar negeri, faktor dominan utama pastinya untuk alasan ekonomi. Kalau mereka mempunai pekerjaan atau usaha di negaranya sendiri, dengan pendapatan yang memadai maka tak perlu harus menjadi TKI di luar negeri.

Kelompok Ciputra telah melakukan pendidikan entrepreneurship pada sebagian TKI di luar negeri, agar ketika mereka kembali ke Indonesia akan bisa membuka usaha sendiri dari modal yang telah didapat saat bekerja di luar negeri.

Dalam entrepreneurship terdapat 4 prinsip tahapan yang dilakukan : (1) membangun empathy untuk peka terhadap masalah/fenomena (2) membuat rencana solusi untuk mendapat manfaat  (3) melaksanakan rencana/calculated risk taker (4) evaluasi terhadap pelaksanaan untuk bisa dilakukan perbaikan. Juga dalam melakukan usaha, harus berangkat dari kebutuhan masyarakat atau kebutuhan pasar.

Upaya melatih entrepreneurship pada keluarga para TKI tersebut telah banyak membantu pengelolaan usaha para keluarga TKI, mereka tidak perlu kembali lagi ke luar negeri menjadi TKI, hal tersebut karena telah mempunyai pendapatan rutin yang layak, dan bisa berkumpul dengan keluarga.

Membangun jiwa entrepreneurial untuk cakupan yang lebih banyak, akan lebih cepat menjadi kenyataan jika banyak komponen bangsa ikut terbeban dan terlibat.

 

Kesehatan reproduksi untuk TKI

Para TKI yang sebagian besar memiliki tingkat pendidikan tidak tinggi, berasal dari daerah dengan latar belakang masalah ekonomi, perlu diberikan pembekalan masalah kesehatan reproduksi.

Materi kesehatan reproduksi untuk TKI antara lain tentang : seksualitas manusia,infeksi menular seks (IMS) dan dampak terhadap kesehatan reproduksi, lahirnya anak cacat (teratology), kekurang suburan (infertilitas), aborsi dan dampaknya serta aspek hukum, kontrasepsi untuk mencegah kehamilan, perawatan organ reproduksi, menstruasi, kehamilan, dan kesetaraan gender.

Kasus terkait seks bisa terjadi, antara lain karena : korban tidak mengetahui yang seharusnya (bujuk rayu), tidak menyadari dampaknya, dan ketidakberdayaan.

Pengetahuan yang kurang tentang seksualitas manusia akan potensial seorang wanita menjadi korban, misalnya “bujukan bahwa hubungan seks yang hanya sekali, tak akan menyebabkan kehamilan”. Hal tersebut tidak benar karena jika sekali tersebut terjadi saat masa subur (ovulasi) maka potensi terjadi kehamilan akan dimungkinkan.

Tentang aborsi juga bukan hal yang sederhana, mungkin aborsinya sukses tetapi apakah rasa berdosa karena pembunuhan janin dengan mudah bisa hilang, jawabnya tidak. Pada sisi lain, jika aborsi dilakukan dengan cara yang beresiko, maka bukan hanya janin yang mati, bahjkan ibunya bisa juga meninggal. Lahirnya anak yang merepotkan orang-tua sampai anak lahir cacat karena percobaan aborsi, banyak terjadi.

Tentang keterpaksaan dan ketidak berdayaan para korban kekerasan seks, bisa disikapi dengan pengetahuan, sikap dan tingkah laku yang bisa meminimalkan terjadinya kekerasan seks.

Dalam kesehatan reproduksi diajarkan : yang baik atau benar seperti apa, bersikap dewasa yaitu bertangggung jawab berhadap pilihannya, dan bisa memilih pilihan yang lebih baik.

Para TKI sang pemberani yang kadang disebut para pahlawan penghasil devisa, perlu kita dukung supaya menjadi pribadi dan keluarga yang suskes. Sukses memperbaiki ekonomi keluarga, bahtera keluarga utuh, terbebas dari masalah terkait seks yang dampaknya merugikan.

Oleh:

Hudi Winarso

Ahli Kesehatan Reproduksi

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra Surabaya