Redakan Konflik Perbedaan melalui Film

Redakan Konflik Perbedaan melalui Film

(Surabaya/ 22 Februari 2019) Tahun 2019 pesta demokrasi Indonesia akan dilaksanakan. Gejolak “panas” yang cenderung mengganggu persatuan pun tidak terelakan. Momen inilah yang ditangkap oleh Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UC dengan membuat lomba film pendek dengan tema Education for Unity yang ditujukan untuk siswa SMA sederajat se-Indonesia.
Sesuai dengan tema, maka film pendek yang disajikan bertujuan mempersatukan semua kalangan yang berbeda ras, suku, bangsa, agama. Patrisia Amanda Pascarina, S.I.Kom., M.A selaku dosen Pembina menyatakan bahwa dunia pendidikan haruslah mampu menjadi jembatan pemersatu. “Film kita pilih jadi medianya karena film ini sifatnya universal”, tutur dosen yang akrab dipanggil Amanda ini. “Peserta berasal dari jawa timur, jawa tengah, jawa barat, denpasar dan samarinda”, imbuhnya.

Film pendek dengan durasi 3-5 menit ini sudah dikumpulkan 31 Januari 2019 untuk diseleksi. Sepuluh karya terbaik akan langsung dinilai oleh 3 juri yang terdiri dari akademisi FIKOM UC, Fauzan Abdillah (Chief of INFIS Surabaya), Joshua Axel (Founder Lumago Picture) pada Jumat 22 Februari 2019 jam 10.00-14.00 WIB. Peserta diberi kesempatan untuk memprrsentasikan dihadapan juri. Febryan siswa kelas 11 SMAN 10 Kota Bogor, salah satu peserta, menuturkan bahwa keresahan yang dia rasakan bersama teman-temannya tentang adanya konflik mengatasnamakan agama, golongan yang marak dalam pesta demokrasi ini menjadi motivasinya untuk berkarya melalui film pendek ini. “Politik harusnya berbicara bagaimana bersama-sama membangun negara, bukan justru berantem karena beda pendapat”, tuturnya. “Perbedaan agama, ras, suku, golongan jangan jadi sumber konfliklah,” imbuhnya.

“Harapan saya dengan media film ini generasi milenial ini mulai menyadari bahwaa krisis dan konflik karena perbedaan itu ada dimasyarakat. Pemahaman bahwa adanya perbedaan itu jangan menjadikan dasar untuk konflik penting ditanamkan kepada anak-anak milenial. Pemahaman itu bisa dengan cara pembuatan film pendek ini”, jelas Amanda. “Konflik yang didasari oleh perbedaan pun bisa mereda”, imbuhnya.