Suka Marah-Marah? Kenali Bedanya Marah Biasa dan Intermittent Explosive Disorder!

Suka Marah-Marah? Kenali Bedanya Marah Biasa dan Intermittent Explosive Disorder!

Seringkali dalam hidup kita, kita menghadapi orang-orang yang menyebalkan sehingga kita merasa terpancing dan ikut menjadi kesal. Kadang, situasi-situasi negatif yang kita hadapi dapat membuat kita juga merasakan emosi negatif, misalnya rasa marah. Apa yang biasanya anda lakukan ketika kalian marah? Apakah berbicara dengan nada tinggi? Memaki orang lain di sekitar kalian? Atau membanting barang dan merusaknya? Yuk, kenali perbedaan marah yang wajar dan Intermittent Explosive Disorder.

unsplash.com

 

Saat kita mengalami hari atau keadaan yang melelahkan, menyebalkan, dan bertemu dengan orang-orang yang tidak menyenangkan, sangat wajar jika kita jadi merasa kesal dan jengkel. Kita menjadi lebih sensitif dan mudah terpancing akan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu terlalu kita risaukan. Respon ini merupakan respon yang wajar ketika kita menjadi lebih sensitif, marah, dan kesal setelah mengalami suatu hal yang buruk. Namun perlu diketahui, ada beberapa respon yang dapat digolongkan sebagai hal yang tidak wajar dan bisa membahayakan, misalnya berteriak, membentak, merusak benda, atau bahkan memukul orang atau benda. Respon yang tidak wajar ini dapat mengarah pada Intermittent Explosive Disorder.

Intermittent Explosive Disorder merupakan sebuah gangguan saat seseorang mengalami kegagalan dalam mengontrol rasa marahnya dan memiliki dorongan-dorongan untuk bertindak secara kasar. Saat ada masalah, bahkan masalah kecil sekalipun, amarahnya dapat “meledak-ledak”. Ada agresi yang timbul, baik itu agresi secara verbal maupun fisik. Agresi verbal yang timbul dapat berupa berteriak, membentak, mengumpat atau berkata-kata kotor, menghina, dan sebagainya. Agresi non-verbal yang muncul dapat berupa perilaku merusak, menyakiti, memukul, dan sebagainya. Perilaku agresi ini tidak dapat dikontrol. Perilaku ini juga sulit diprediksi karena dapat muncul sewaktu-waktu bahkan jika masalah yang dihadapi sebenarnya bukan masalah yang besar. Penderita Intermittent Explosive Disorder juga biasanya mengalami gejala fisik sebagai akibat dari ledakan amarahnya, seperti sakit kepala, sulit bernafas, tremor, dan sebagainya.

pinterest.com

 

Gangguan ini dapat muncul akibat berbagai macam faktor, yaitu faktor biologis dan faktor lingkungan. Faktor biologis yang dimaksud adalah adanya abnormalitas pada fungsi otak yang mengatur emosi yaitu amigdala. Fungsi amigdala yang tidak dapat bekerja dengan baik dalam mengatur emosi, dapat membuat emosi yang dirasakan seseorang menjadi tidak stabil sehingga rentan meledak-ledak. Tak hanya faktor biologis, faktor lingkungan juga memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk kepribadian seseorang. Cara seseorang mengekspresikan emosi juga merupakan salah satu ciri kepribadian. Anak-anak yang sedari kecil tidak dibiasakan untuk mengekspresikan emosi marah dengan tepat, maka saat ia dewasa, ia juga jadi rentan meledak-ledak karena tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa marahnya. Orangtua yang tidak dapat memberikan contoh yang baik dalam mengekspresikan rasa marah juga dapat menyebabkan anak ikut meledak-ledak karena meniru cara orangtuanya mengekspresikan kemarahan.

Amarah yang meledak-ledak sebaiknya harus segera diatasi. Jika tidak diatasi, hal ini dapat merugikan diri sendiri maupun orang-orang lain di sekitar. Hubungan sosial dengan orang lain bisa jadi terganggu akibat agresi keluar tanpa kita sadari. Kita bisa menyakiti orang lain sehingga mungkin saja kita dijauhi. Tak hanya relasi dengan orang lain, amarah yang meledak ini juga dapat menyakiti diri kita sendiri, terutama jika muncul agresi yang sifatnya non-verbal.

Lalu, bagaimana jika kalian termasuk orang yang amarahnya meledak-ledak? Yang pertama yang dapat kalian lakukan adalah berusaha untuk mengatasinya. Hal ini dapat diatasi dengan berbagai macam cara.

 

Mengikuti Training atau Kelas Anger Management

Dengan training ini, kalian dapat diajarkan cara-cara untuk meregulasi emosi negatif dengan tepat. Jika tidak sempat mengikuti training atau kelas anger management, kalian bisa berlatih sendiri dengan membaca buku-buku atau menonton video terkait anger management, namun jangan ragu meminta bantuan expert jika kalian merasa sulit berlatih sendiri. Kalian juga dapat mencoba teknik-teknik relaksasi maupun teknik kontrol diri agar kalian dapat meregulasi emosi dengan lebih efektif.

valleyangermanagement.com

 

Kita Harus Menyadari bahwa Marah Sebenarnya adalah Emosi yang Wajar Saja Terjadi

Yang penting kita mampu mengekspresikan rasa marah dengan tepat tanpa merugikan diri sendiri dan orang lain. Rasa marah dapat diekspresikan dengan berbagai cara, misalnya komunikasi asertif untuk mengungkapkan rasa marah pada orang yang membuat kalian kesal. Kalian juga bisa bercerita pada orang lain untuk mengekspresikan emosi negatif dan menyalurkan energi atau rasa marah lewat aktivitas lain misalnya olah raga muay thai. Jika kalian merasa sudah sering mendapati diri sendiri melakukan agresi, baik secara verbal maupun non-verbal, segera konsultasikan ke expert agar anda bisa segera ditolong.

 

Ditulis oleh: Novensia Wongpy, S.Psi., M.Psi., Psikolog.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *