Siapapun Bisa Mengalami OCD, Cek Fakta Terkait OCD Di Sini

Siapapun Bisa Mengalami OCD, Cek Fakta Terkait OCD Di Sini

Di Amerika, 1 dari 40 orang dewasa dan 1 dari 100 anak mengalami OCD. Nah, tahukah kalian apa itu OCD?

http://whatibeproject.com

Secara sederhana OCD atau Obsessive Compulsive Disorder adalah suatu gangguan psikologis yang menyebabkan penderitanya merasa perlu melakukan suatu hal secara berulang-ulang. Apabila tidak melakukannya, penderita akan merasa cemas dan takut.

Beberapa film pernah mengangkat topik OCD. Di dalam film, penderita sering digambarkan sebagai seorang yang sangat rapi dan perfeksionis dalam berbagai hal. Namun sayangnya, tidak jarang film-film ini justru melebih-lebihkan gejala dari OCD.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai fakta OCD, Riliv dan PSY UC hadir khusus untukmu dengan fakta-fakta tentang OCD. Yuk simak selengkapnya dibawah ini!

1. Ketahui 2 Ciri Utama OCD: Kompulsi dan Obsesi

Dua ciri utama gangguan ini adalah penderitanya yang memiliki pikiran obsesif, perilaku kompulsif (ritual) atau keduanya terhadap objek tertentu.

Individu yang memiliki OCD sadar bahwa pikiran obsesif yang dimilikinya tidak rasional, namun ia hanya bisa melakukan kegiatan kompulsi untuk menghilangkan kecemasan terhadap pikiran obsesif.

cassiegoodluck.com

Sebagai contoh, seseorang dengan pikiran obsesif terhadap penyusup dapat memeriksa ulang berkali-kali kunci pintu rumah untuk memastikan bahwa tidak ada yang bisa masuk.

Perilaku kompulsi sering terlihat nampak. Namun, perilaku ini juga dapat dilakukan secara tidak nampak, seperti berdoa atau menghitung dalam hati berulang kali. Meskipun kita tidak bisa mengamatinya, perilaku kompulsi yang tidak nampak juga sangat mengganggu seperti halnya perilaku kompulsi yang nampak.

2. Rata-Rata, Orang Didiagnosis Menderita OCD Ketika Mereka Berusia 19 Tahun Ke Atas

Diagnosis OCD paling banyak ditemukan pada usia 19 tahun ke atas. Beberapa ahli berpendapat bahwa mungkin pada usia anak-anak, mereka mungkin sudah menunjukkan gejala OCD, namun anak dan orangtua masih belum mempermasalahkannya dan menganggap bahwa hal tersebut wajar.

3. Penduduk Negara Maju Lebih Banyak yang Mengalami Gangguan Ini

Menurut World Health Organization (WHO), gangguan kecemasan, seperti OCD, lebih banyak terjadi di negara maju daripada di negara berkembang.

Di 6 Negara Eropa, yaitu Belgia, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Spanyol. Ditemukan bahwa dari jumlah 2804 orang, 13% darinya ditemukan memiliki gejala OCD.

4. Belum Ditemukan Perbedaan Signifikan Pada Jenis Kelamin Penderita OCD

OCD dapat dialami oleh siapapun, baik laki-laki ataupun perempuan. Selama ini, belum ada penelitian dan data yang menunjukkan perbedaan signifikan pada presentasi penderita berdasarkan jenis kelamin.

5. Apa Penyebabnya? Salah Satu Penyebabnya Adalah Riwayat Keluarga loh!

  • Keluarga dan Genetik: Studi pada saudara kembar dan keluarga telah menemukan bahwa orang dengan kerabat langsung (orang tua, saudara kandung, atau anak) yang mempunyai riwayat OCD akan memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami OCD. Sebuah studi yang dilakukan selama lebih dari 70 tahun menemukan:
  1. Kembar dewasa yang mengalami gejala OCD memiliki peluang 25-47% untuk mewarisi gejala tersebut.
  2. Anak kembar yang mengalami gejala OCD memiliki tingkat peluang 45-65% lebih tinggi untuk mewarisi gejala OCD.

 

  • Kimiawi Otak: Penelitian yang mempelajari otak telah menemukan bahwa orang yang menderita OCD menunjukkan aktivitas yang berbeda dan seringkali berlebihan di otak bagian depan, dibandingkan dengan individu non-OCD.
  • Stres dan Trauma: Orang yang menderita pelecehan atau trauma lain di masa kecilnya memiliki risiko OCD yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat seperti itu.

6. Tenang, OCD Dapat Diobati dan Individu yang Mengalaminya Dapat Hidup Normal

Penanganan seperti konseling, psikoterapi dengan CBT (cognitive behavioural therapy), atau Response Prevention (ERP) serta konsumsi obat-obatan dapat diberikan pada penderita OCD untuk membantu mengontrol obsesi dan kompulsi mereka.

bcgavel.com

Selain itu, sebuah studi di Selandia Baru menemukan bahwa diet dan nutrisi yang tepat dapat memiliki pengaruh yang sangat kuat untuk meredakan gejala OCD dan keparahannya.

Untuk itu, apabila kamu atau temanmu merasa memiliki obsesi yang tidak rasional disertai dengan perilaku kompulsif, jangan malu dan ragu untuk mengunjungi psikolog, dokter atau psikiater ya.

Jangan segan untuk bicarakan dengan keluarga maupun orang terdekat juga ya. Kamu membutuhkan semangat dan dukungan dari mereka. Have a nice day!

Disadur dari:

  1. Van Grootheest, D. S., Cath, D. C., Beekman, A. T., & Boomsma, D. I. (2005). Twin studies on obsessive–compulsive disorder: a review. Twin Research and Human Genetics, 8, 450-458.
  2. Veale, D. M., Sahakian, B. J., Owen, A. M., & Marks, I. M., 1996. Specific cognitive deficits in tests sensitive to frontal lobe dysfunction in obsessive–compulsive disorder. Psychological medicine, 26, 1261-1269.)
  3. De Silva, P., & Marks, M. (1999). The role of traumatic experiences in the genesis of obsessive–compulsive disorder. Behaviour Research and Therapy, 37, 941-951.
  4. Fullana, M. A., Vilagut, G., Rojas-Farreras, S., Mataix-Cols, D., De Graaf, R., Demyttenaere, K., & Alonso, J. (2010). Obsessive–compulsive symptom dimensions in the general population: Results from an epidemiological study in six European countries. Journal of affective disorders, 124, 291-299.
  5. https://barendspsychology.com/interesting-ocd-facts/

 

Written by Syarifah Muadzah

 

Konten ini merupakan kerjasama antara Fakultas Psikologi Universitas Ciputra dengan Riliv. Riliv adalah startup konseling online dengan psikolog nomor 1 di Indonesia. Riliv senantiasa mengajak masyarakat untuk lebih sadar dengan kesehatan mental mereka. Kunjungi http://riliv.co/rilivstory untuk informasi lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *