Semester Opening Semester Genap 2017/2018 : “How To Deal With Generation Gap”

Semester Opening Semester Genap 2017/2018 : “How To Deal With Generation Gap”

Semester Opening yang diselenggarakan pada hari Kamis, 1 Februari 2018 kali ini mengangkat tema “How To Deal With Generation Gap”. Pembicara dalam acara ini adalah Maria Annegreth, S.Psi. Beliau merupakan alumni Psikologi UC angkatan tahun 2009, yang kini menjabat sebagai konselor di sekolah Citra Berkat. Sebelum menjadi konselor di Sekolah Citra Berkat, beliau sempat menjabat selama satu tahun sebagai HRD di Tong Tji. Namun, beliau kemudian memutuskan untuk beralih menuju dunia pendidikan demi mengikuti passion yang ia miliki. Selama berkuliah di Fakultas Psikologi Universitas Ciputra, beliau pernah menjadi anggota Himpunan Mahasiswa (HIMA) Psikologi Divisi Sosial, dan mengerjakan berbagai program sosial. salah satunya adalah mengajar ibu-ibu tuna aksara untuk dapat membaca dan menulis.

Acara dibuka oleh MC dan dilanjutkan dengan doa. Kemudian ada kata sambutan yang diberikan oleh Dekan sekaligus Kaprodi Fakultas Psikologi Universitas Ciputra, Bapak Dr. Jimmy Ellya Kurniawan, S.Psi., M.Si., Psikolog. Dalam sambutan yang diberikan, beliau menyampaikan sejumlah capaian & prestasi selama satu semester sebelumnya, serta aturan dan ketentuan yang berlaku bagi mahasiswa selama satu semester ke depan. Setelah sambutan yang diberikan oleh Bapak Jimmy, acara dilanjutkan dengan sharing yang diberikan oleh Siska Hermanto (PSY 2015) mengenai pengalamannya mengikuti Global Entrepreneurship Booth Camp di Kangwon National University di Korea Selatan.

Memasuki inti acara, diadakan sesi talk show yang dimoderatori oleh Siska. Moderator kemudian mengundang pembicara Ibu Maria Annegreth (Anne) untuk maju dan memulai talk show. Selama talk show berlangsung, moderator mengajukan sejumlah pertanyaan yang menggali pengalaman Ibu Anne selama menjadi guru di Sekolah Citra Berkat. Ibu Anne menceritakan bahwa ia awalnya merupakan seorang guru pengganti di sekolah tersebut, namun seiring berjalannya waktu ia kemudian berkesempatan untuk menjadi wali dari sebuah kelas. Setelah satu tahun mengajar, beliau sempat berpikiran untuk berhenti mengajar. Namun pada saat itulah kesempatan untuk berkembang kembali datang. Sekolah tempat beliau mengajar menawarinya untuk menjadi salah satu kandidat konselor untuk Bimbingan Konseling yang baru saja dibuka. Beliau menerima tawaran tersebut dan hingga kini menjabat sebagai konselor untuk sekolah tersebut.

Selama sesi talk show, Ibu Anne menceritakan banyak mengenai perjalanannya sebagai konselor di sekolah tersebut. Ibu Anne berujar bahwa dalam berkomunikasi dengan anak dengan usia yang berbeda, kita harus menempatkan diri dan menggunakan pendekatan yang berbeda. Menjadi seorang teman bagi anak usia SMP dan SMA akan menjadi salah satu pendekatan yang cukup baik. Sedangkan pada anak usia SD atau TK, pendekatan dengan menjadi sosok yang penuh keceriaan akan membantu kita membuat anak merasa lebih nyaman dan terbuka.

Lis, seorang mahasiswi peserta Semester Opening mengakui bahwa ia banyak belajar dari apa yang disampaikan oleh Ibu Anne. “Ya belajar banyak. Kayak misalkan tadi pas kakaknya cerita soal gimana mengahadapi anak dengan usia yang beda-beda, kalau sama anak SD harus ceria. Terus jadi tahu kalau ilmu yang dipelajari di Psikologi UC itu bisa terpakai,” ujar Lis (PSY 2014). Di sisi lain, Ibu Anne juga mengaku senang bisa kembali ke PSY UC. “Saya merasa senang ya bisa berbagi di sini, apa lagi melihat kalian itu saya jadi bisa nostalgia, dulu saya ada di gedung yang sama. Terus apa yang saya pelajari di UC bisa saya kembalikan ke UC, jadi saya merasa senang,” ungkap Ibu Anne.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *