Self Empowerment: Upaya Meningkatkan Rasa Berdaya atas Kesehatan Kita

Self Empowerment: Upaya Meningkatkan Rasa Berdaya atas Kesehatan Kita

Dunia sedang diterpa wabah Corona. Kebijakan untuk mengurangi kegiatan dan bepergian sudah diterapkan di banyak tempat, termasuk di Indonesia. Interaksi sosial kita dibatasi dan kita dianjurkan agar jarak antar manusia sekitar 1-2 meter. Rutinitas pun berubah. Dari yang biasanya bebas bergaul dengan siapapun, aktivitas belajar atau bekerja dilakukan secara tatap muka, sekarang semuanya digantikan pertemuan online. Perubahan sendiri biasanya membutuhkan penyesuaian-penyesuaian dan seringkali menimbulkan tekanan psikologis tersendiri.

wikipedia.org

 

Para petugas medis yang menangani wabah pun banyak mengalami tekanan/stress (Chen, dkk, 2020). Bagaimana dengan kita? Apakah perubahan-perubahan yang kita alami dapat menimbulkan dampak psikologis juga?

Penelitian tentang dampak psikologis wabah Corona belum banyak dilakukan. Belum banyak peneliti yang meneliti tentang masyarakat. Partisipannya selama ini lebih banyak pada tenaga medis. Akan tetapi, kita bisa mengantisipasi problem yang mungkin dapat kita hadapi selama menghadapi risiko wabah Corona ini. Apabila kita menjadi takut berlebihan, stress, depresi dengan perubahan dan risiko di sekitar kita, tentu kita menjadi tidak berdaya (powerless). Padahal, apabila kita stress atau panik, imunitas kita menjadi menurun dan rentan sakit.

Oleh karenanya, kita perlu berdaya atau meningkatkan self empowerment. Pratto (2015) menyatakan empowerment  merupakan kondisi di mana kita dapat memenuhi tujuan-tujuan kita. Akan tetapi, ada pula ahli yang lebih fokus meneliti tentang self empowerment dalam konteks promosi kesehatan. Sharifi dan Majlessi (2017) menyatakan self empowerment dalam konteks promosi kesehatan merupakan kondisi di mana seseorang memiliki sumber power berupa keterampilan dan kepercayaan diri untuk mengelola kesehatannya. Hal yang dapat dilakukan agar kita self empowered dalam kesehatan kita antara lain:

 

Memiliki Sumber Power (Non-Material)

Sumber power ini berupa pengetahuan yang memadai tentang kesehatan dan cara mencegah/menghindari sumber penyakit. Termasuk di dalamnya, memilih sumber pengetahuan yang tepat dan dapat dipercaya. Sumber pengetahuan tidak hanya tentang penyakit, tetapi tentang dampak psikologis yang mungkin dapat dialami. Apabila terjadi kebosanan, stres, ataupun cemas akibat sakit yang diderita, kita juga perlu mencari sumber power berupa pengetahuan yang tepat dan dari sumber yang kredibel. Sebagai contoh, mencari sumber pengetahuan dari kementerian kesehatan atau jurnal penelitian akan lebih tepat dibandingkan dari sumber yang tidak jelas.

sciencenewsforstudents.org

 

Membuat Keputusan dengan Tepat

Keputusan yang tepat ini misalnya ketika kita merasakan perubahan kondisi di tubuh, apakah perlu istirahat atau masih dapat bekerja. Kita dapat berpikir secara logis untuk memutuskan hal yang tepat bagi diri kita sendiri.

 

Bertindak dengan Tepat dan Efektif

Kita dapat bertindak dengan tepat dan efektif atas situasi yang dihadapi, misalnya dengan menjaga higienitas diri ataupun menghubungi fasilitas kesehatan saat mengalami gejala sakit.

thejakartapost.com

 

Melakukan Langkah Antisipasi

Kita juga dapat melakukan langkah antisipasi yang diperlukan jika situasi yang tidak diinginkan terjadi. Sebagai contoh, apabila akhirnya kita sakit, kita perlu mempersiapkan sumber power material berupa uang/dana darurat sekiranya dibutuhkan untuk berobat atau check di laboratorium.

 

Dengan melakukan langkah tersebut di atas, yaitu memiliki pengetahuan, membuat keputusan tepat,  bertindak tepat, dan melakukan langkah antisipasi, hal ini diharapkan akan dapat meningkatkan rasa berdaya  dalam diri kita untuk menghadapi situasi berisiko terkait kesehatan masing-masing.

Salam sehat selalu!

 

 

Referensi :

Chen, Q., Liang, M., Li, Y., Guo, J., Fei, D., Wang, L., … & Wang, J. (2020). Mental health care for medical staff in China during the COVID-19 outbreak. The Lancet Psychiatry.

Pratto, F. (2016). On power and empowerment. British Journal of Social Psychology, 55, 1-20

Sharifi, N & Majlessi, F. (2017). Self empowerment of female students in prevention of osteoporosis. Global Journal of Health Science, 9, 7-11

 

 

Ditulis oleh:  Dr. Cicilia Larasati Rembulan, S.Psi., M.Psi., Psikolog.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *