Remaja dengan Autisme Berkarya? Bisa!

Remaja dengan Autisme Berkarya? Bisa!

Sebagai anak yang lahir dengan keterbatasan atau kerap disebut autisme, cukup sulit rasanya jika diharuskan untuk bisa bertarung dengan dunia luar yang sering kali menuntut anak-anak dengan keterbatasan untuk berperan normal seperti anak-anak lain pada umumnya. Dalam lingkungan sekitar, stigma masyarakat tentang anak-anak autis cenderung negatif. Banyak orang yang berpikir bahwa anak autis tidak bisa menghasilkan prestasi apapun yang membanggakan. Tentunya hal ini tidak benar. Sebagai seorang psikolog klinis anak, Tanti Wydia Rani, S.Psi., M.Psi., Psikolog. berusaha untuk membuktikan pada masyarakat bahwa anak-anak autis, terutama usia remaja, tetap bisa berprestasi dengan menghasilkan karya-karya yang membanggakan.

Dengan adanya berbagai tanggapan dari lingkungan tentang pemikiran apakah remaja yang autis bisa berkarya, diadakanlah seminar “Remaja dengan Autisme Berkarya? Bisa!” pada Sabtu, 27 April 2019 yang diselenggarakan oleh Kupompong bertempat di Universitas Ciputra. Seminar ini bertujuan untuk membahas bagaimana cara orangtua untuk bisa menjadi perantara yang baik antara anaknya (remaja dengan autisme) dengan lingkungan, untuk bisa bersaing di dunia normal.

Terdapat 3 pembicara dalam seminar ini. Pembicara pertama adalah seorang psikolog klinis anak, Tanti Wydia Rani, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Beliau membahas tentang autisme dilihat dari sisi biologis. Mulai dari alasan mengapa anak remaja bisa autis, hingga perkembangan remaja autis secara biologis. Pembicara kedua adalah seorang praktisi pendidikan anak berkebutuhan khusus, Efisien Dakhi, S.Pd. Beliau mengajarkan tentang cara mendekatkan anak remaja autis dengan lingkungan, melalui pendekatan sosial dan pendidikan. Kupompong sendiri merupakan start-up business milik Elisabeth Santoso, S.Psi., M.Psi., Psikolog. (alumni PSY UC angkatan 2012) yang bergerak memiliki concern di bidang proses tumbuh kembang keluarga.

 

 

Pembicara terakhir adalah Bapak Rudy Purwono, ayah Vincent, seorang pelukis remaja dengan autisme. Sebagai ayah dari seseorang remaja dengan autisme, Bapak Rudy membagikan kisah inspiratif dalam merawat Vincent dan mengasah kemampuannya dalam bidang melukis. Kisah tersebut dimulai dari perjalanan Vincent sebagai remaja dengan autisme biasa, hingga kini bisa berkarya dan menghasilkan lukisan-lukisan yang indah. Beliau mengungkapkan bahwa remaja autis memiliki potensi jika diasah dengan baik. Sudah menjadi kewajiban bagi orangtua untuk bisa menjembatani anak dengan minat dan bakatnya supaya bisa diasah menjadi suatu prestasi yang membanggakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *