Mengapa Sebuah Berita Hoaks Dapat Memviral?

Mengapa Sebuah Berita Hoaks Dapat Memviral?

(Part 1: Elemen Berita yang Provokatif)

 

Jika tantangan kita sebagai bangsa 70 tahun lalu adalah berperang melawan penjajah, maka tantangan kita di era digital ini barangkali adalah berperang melawan penyebaran berita hoaks. Kita tidak bisa lagi untuk mengabaikannya. Riset terbaru dari DailySocial yang dilakukan pada 2.032 responden pengguna internet Indonesia pada medio 2018 merilis beberapa fakta penting yang perlu kita cermati.

 

Pertama, 44,19% dari total responden menyatakan tidak terlatih untuk membedakan berita hoaks. Kedua, 51,03% dari total responden memilih berdiam diri ketika menemui konten hoaks. Ketiga, hanya 55% dari total responden yang aktif melakukan verifikasi kebenaran berita hoaks yang mereka terima. Data-data ini menunjukkan bahwa hoaks merupakan salah satu isu nasional terpenting dan paling mendesak yang perlu mendapatkan perhatian kita saat ini.

 

Serangkaian data statistik tersebut sebenarnya juga menunjukkan setidanya dua interpretasi penting. Pertama, kita membutuhkan kesepakatan kolektif untuk memeranginya. Mengingat isu ini merupakan isu besar nasional, maka gerakan perlawanan tidak dapat dilakukan secara sporadis dan individual. Kita membutuhkan sebuah gerakan sosial yang masif sebagai hasil dari kesadaran bersama bahwa kehidupan demokrasi kita hanya dapat tercapai jika informasi yang kita konsumsi adalah informasi sahih yang dapat dipercayai.

 

Untuk bagian ini, sebenarnya kita dapat berbangga. Telah ada beberapa start-up  yang mendedikasikan diri untuk memerangi hoaks, seperti situs Turn Back Hoax yang merupakan situs aduan untuk masyarakat yang menemukan berita hoaks yang digagas forum Masyarakat Anti Fitnah Indonesia. Beberapa media nasional seperti Tirto dan Jawa Pos juga menyediakan rubrik fact checker untuk mengklarifikasi apakah sebuah berita yang sedang ramai menjadi perbincangan adalah hoaks atau tidak. Di level internasional, ada Snopes, Politifact, dan Factcheck.org sebagai yang menjadi situs penyedia fakta.

 

Kedua, kita membutuhkan sebuah pemahaman komprehensif mengapa sebuah berita hoaks dapat memviral. Pemahaman ini akan membantu kita menyadari bahwa viralisasi berita merupakan sebuah perilaku yang terpola. Jika kita hendak berperang dalam sebuah medan perang, kita perlu tahu persis siapa lawan kita. Dengan memahami pola penyebaran hoaks, kita akan dapat merumuskan strategi penangkalnya dengan presisi dan efektif.

 

Secara tematik, alasan mengapa sebuah berita hoaks dapat memviral dapat dibagi menjadi dua, yakni aspek pesan dan aspek psikologis. Aspek pesan bicara tentang karakteristik berita yang berpotensi menjadi hoaks, sedangkan aspek psikologis lebih mengulas tentang dinamika yang terjadi pada pelaku-pelaku penyebarannya. Pada tulisan ini, kita akan lebih banyak membahas tentang elemen pertama, yakni karakteristik pesan.

 

Pesan-pesan hoaks menjadi viral karena informasi yang terkandung di dalamnya mengandung unsur yang membangkitkan provokasi dan emosi insani kita, misalnya menjijikkan, memantik kemarahan, menakutkan, menyenangkan, di luar kebiasaan, dan sebagainya. Ketika sebuah berita memiliki unsur ini, maka orang yang membacanya akan terpantik untuk membagikannya kepada orang lain. Vosoughi, Roy, dan Aral (2018) dalam laporan penelitiannya menegaskan bahwa fake news kerap terviral lebih kuat daripada truth news.

 

Sumber Gambar: https://static.boredpanda.com/blog/wp-content/uploads/2018/10/examples-media-truth-manipulation-93-5bd314f5bc1a3__700.jpg

 

Tragedi bom Jakarta 2016 barangkali dapat menjadi contoh menarik. Beberapa jam setelah terjadi peristiwa ledakan, muncul gambar-gambar potongan tubuh korban di Twitter yang diretweet oleh ribuan pengguna. Setelah diverifikasi, berita tersebut adalah hoaks. Namun pun mendapatkan klarifikasi, tetap saja informasi telah tersebar luas. Uniknya, peristiwa ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di dunia. Simak pula gambar ilustrasi di atas yang menggambarkan Pangeran Harry dari Kerajaan Inggris seolah sedang mengacungkan jari tengah, padahal ia sedang menunjukkan tiga jari.

 

Ilustrasi di bawah ini juga menjadi contoh menarik. Pada gambar pertama, kita seolah mendapat gambaran seorang tentara yang sedang mengalami penganiayaan. Padahal jika kita cermati gambar utuhnya gambar ini justru menunjukkan kepedulian tentara lainnya yang sedang memberikan minuman.

 

 

Sumber Gambar: https://static.boredpanda.com/blog/wp-content/uploads/2018/10/examples-media-truth-manipulation-5bd2d0fd1cb37__700.jpg

 

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa hoaks terviral karena karakteristik informasi yang dimiliki oleh berita tersebut bersifat provokatif. Jika kita reaktif dan tidak terbiasa untuk melakukan verifikasi, maka kita akan cenderung untuk terjebak menjadi bagian dari berita yang terviral tersebut.

 

Selanjutnya, elemen kedua tentang mengapa sebuah berita hoaks dapat memviral juga disebabkan oleh karena faktor psikologis. Penjelasan dari elemen ini akan disajikan pada bagian kedua dari tulisan ini.

 

Penulis:

Jony Eko Yulianto, S.Psi., M.A.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *