Mengapa Sebuah Berita Hoaks Dapat Memviral?

Mengapa Sebuah Berita Hoaks Dapat Memviral?

(Part 2: Faktor Psikologis Pembaca)

 

Anto membagikan informasi yang ia terima dari WhatsApp temannya ke sebuah WhatsApp Group alumni SMA. Bunyinya, “Salah satu BUMN terkemuka membuka rekruitmen anggota. Calon pelamar diminta menghubungi nomor berikut ini”. Sebulan kemudian, Anto mendapatkan kabarbahwa berita itu adalah modus penipuan. Salah satu temannya menjadi korban karena telah mentransfer sejumlah uang. Anto dimintai pertanggungjawaban. Tetapi Anto berkilah, ia hanya membantu menyebarkan informasi itu.

 

Petikan situasi di atas adalah hal yang lazim kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Dari situasi tersebut, kita kemudian memahami bahwa proses penyebaran berita hoaks tidak hanya disebabkan oleh karakteristik informasi semata seperti yang telah dipaparkan dalam bagian pertama dalam tulisan ini, tetapi juga karena adanya faktor insani dengan segala kompleksitasnya.

 

Dalam ilmu psikologi, ada beberapa penjelasan mengapa seseorang menyebarkan berita hoaks. Pertama, rendahnya need for cognition yang dimiliki penyebar. Need for Cognition (selanjutnya akan disebut NFC), adalah kebutuhan seorang individu untuk menggunakan rasionalitasnya untuk memproses informasi. Individu dengan NFC tinggi akan gemar menggunakan nalar dan rasionalitasnya dalam kehidupan sehari-hari. Ia gemar untuk bermain puzzle, catur, atau permainan yang membutuhkan kemampuan kognitif tinggi.

 

Ketika mendapatkan sebuah informasi, individu-individu dengan NFC yang tinggi akan cenderung untuk skeptis dengan apa yang diterimanya sebelum ia mendapatkan penjelasan yang logis yang menjelaskan informasi tersebut. Ia adalah orang yang tidak mudah percaya dengan informasi yang beredar di masyarakat, dan cenderung secara independen memeriksa fakta-fakta yang sesungguhnya.

 

Sebagaimana telah dipaparkan dalam bagian pertama tulisan ini, prevalensi penyebaran hoaks yang tinggi salah satunya juga ditunjang dengan ketidakmampuan dalam membedakan apakah sebuah informasi terpercaya atau tidak. Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran hoaks salah satunya disebabkan karena kepemilikan NFC yang rendah.

 

Pennycook dan Rand (2018) dalam penelitian terkininya tentang penyebaran hoaks bahkan menggunakan sebuah istilah yang vulgar untuk menjelaskan dinamika psikologis penyeba hoaks ini: Malas. Para peneliti ini menemukan bahwa para penyebar hoaks adalah orang-orang yang malas dalam memverifikasi kebenaran berita yang diterima. Dalam penelitian ini, para responden cenderung hanya membaca headline berita yang bombastis tanpa mengecek informasi yang ada di dalamnya. Hal ini sangat berbahaya.

 

Bagaimana cara agar kita tidak terhindar dari penyebaran berita hoaks? Kita perlu mengembangkan sikap skeptis. Dengan mengembangkan sikap skeptis, kita akan terbiasa untuk menempatkan informasi yang kita terima sebagai referensi dan bukan kebenaran mutlak. Manfaatnya, kita akan terbiasa untuk mencari adanya fakta-fakta lain yang kemungkinan bertolak belakang dengan fakta pertama yang kita terima. Karl Popper menyebutnya dengan istilah falsifikasi.

 

Budaya skeptis merupakan budaya yang perlu kita kembangkan mengingat kita berada dalam sebuah era dimana informasi sedemikian tersedia melimpah. Sikap skeptis akan menolong kita untuk memilah informasi yang valid dan tidak valid. Kita tidak akan mudah terjebak untuk menyebarkan berita-berita hoaks hanya karena memiliki judul berita yang menarik. Kita juga akan terhindar dari penipuan-penipuan dengan modus menjanjikan keuntungan.

 


Jony Eko Yulianto, S.Psi., M.A.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *