Mengapa Introspeksi Diri Saya Tidak Membuahkan Hasil?

Mengapa Introspeksi Diri Saya Tidak Membuahkan Hasil?

Tasha Eurich, seorang Psikolog Industri dan Organisasi sempat berpikir bahwa orang-orang yang sering melakukan introspeksi dan refleksi diri akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibanding mereka yang jarang. Atas dasar pemikiran itu, Eurich dan tim sepakat untuk meneliti hubungan antara introspeksi diri, kebahagiaan, stress, dan kepuasan kerja.

Nasihat-nasihat di buku self-help mungkin sering berkoar tentang ‘kenali diri sendiri’ hingga akhirnya kalian terpengaruh untuk percaya bahwa orang yang sering menginstropeksi diri adalah orang yang sangat paham dengan dirinya dan pasti bahagia. Sayangnya, penelitian yang dilakukan Tasya memberikan hasil yang bertolak belakang dengan ekspektasinya. Dari hasil studi yang dilakukan, orang-orang yang sering melakukan introspeksi diri malah mudah merasa cemas, stres, depresi, dan tidak puas dengan kehidupannya.

veeroes.com

 

Untungnya, Eurich curiga dengan hasilnya dan jadi tertantang untuk melakukan studi lebih lanjut tentang hasil penelitiannya. Berkat kerja kerasnya ini, Eurich bisa menghindarkan kita untuk berpikir bahwa introspeksi diri tidak penting dan harusnya kita go with the flow saja.

Nah, bagaimana melakukan introspeksi diri yang lebih sehat?

Ganti pertanyaan ‘Kenapa?’ dengan ‘Apa?’

pixabay.com

 

Eurich menyadari bahwa orang-orang dengan introspeksi diri yang tinggi sering bertanya ‘Kenapa’ ketika mengalami masalah-masalah sederhana dan rumit dalam hidupnya. Pertanyaan ‘kenapa’ ini menjadi masalah karena memaksa kita untuk mencari-cari alasan dan akhirnya membuat kita terfokus pada alasan. Sayangnya lagi, alasan ini seringkali tidak benar tapi sudah terlanjur kita percayai.

Bertanya ‘Apa?’ dipercayai lebih efektif untuk mengenali diri sendiri dan situasi yang terjadi. Jadi, alih-alih bertanya “Kenapa sih aku susah mendengarkan ceramah dosen ini?”, kamu bisa bertanya “Apa yang membuatku susah mendengarkan cermah dosen ini?”. Jika kamu bertanya ‘Kenapa’, jawabanmu bisa menyerempet ke:

“Soalnya, dosen ini sudah tua”,

“Aku memang gak cocok sama dosen ini”, dan

“Aku bodoh”

Ketika kamu bertanya ‘Apa’, kamu bisa lebih objektif dalam menemukan jawaban seperti, “Jadwal dosen ini mengajar hari Senin pagi dan setiap Minggu malam durasi tidurku tidak cukup, jadi aku sulit berkonsentrasi”.

 

Ada batas tipis antara Instropeksi dan Ruminasi

medium.com

 

Ruminasi mungkin belum jadi kata yang akrab bagi kalian. Ruminasi terjadi ketika kalian sudah terjebak dalam pola pikir negatif dan terus mengulang-ulang persepsi negatif tersebut di berbagai kesempatan. Ruminasi dianggap menjadi  langkah tercepat jika kamu ingin merusak harga dirimu sendiri. Orang yang terbiasa melakukan ruminasi akan menyamaratakan penyebab masalah hidupnya oleh satu alasan. Bisa dibilang, ruminasi akan membuatmu sulit untuk menemukan solusi karena selalu fokus pada masalah itu sendiri. Contoh sederhananya ketika kamu mendapat laporan bahwa kinerjamu di organisasi masih kurang dan perlu ditingkatkan. Jika kamu mendengar hal itu dan merasa bahwa turunnya kinerjamu adalah karena beberapa faktor luar, tapi kemudian kamu merasa bahwa ketuamu tidak mengerti dan akhirnya membuat hubungan kalian renggang karena kamu jarang ikut rapat, kamu sedang melakukan ruminasi.

Kabar baiknya, ruminasi bisa diatasi, kok! Beberapa cara sederhana adalah mengambil jeda dan melakukan kegiatan yang menyenangkan bagimu. Dengan cara ini, kamu bisa tenang sejenak dan berpikir jernih.

Jadi, tidak masalah kalau sebelumnya kamu termasuk orang yang sering introspeksi diri, tapi pastikan untuk melakukannya dengan benar ya!

 

Disadur oleh:

  1. https://ideas.ted.com/the-right-way-to-be-introspective-yes-theres-a-wrong-way/
  2. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-introverts-corner/201302/introspection-versus-rumination
  3. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/overcoming-self-sabotage/201002/rumination-problem-solving-gone-wrong

Ditulis oleh Elvira Linda Sihotang

Konten ini merupakan kerjasama antara Fakultas Psikologi Universitas Ciputra dengan Riliv. Riliv adalah startup konseling online dengan psikolog nomor 1 di Indonesia. Riliv senantiasa mengajak masyarakat untuk lebih sadar dengan kesehatan mental mereka. Kunjungi http://riliv.co/rilivstory untuk informasi lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *