Masa Remaja: Fase Tersulit?

Masa Remaja: Fase Tersulit?

Konon katanya, remaja merupakan salah satu fase paling sulit bagi orang tua dan remaja itu sendiri. Kata remaja berasal dari bahasa latin adolescene yang artinya to grow atau to maturity (Golinko, 1984, Rice, 1990 dalam Jahja, 2011). Sedangkan menurut Papalia dan Olds (dalam Jahja, 2011) mendefinisikan remaja sebagai masa transisi antara kanak-kanak dan dewasa di rentang usia 12 atau 13 tahun hingga akhir belasan atau awal puluhan. Pada masa ini, banyak perubahan yang terjadi pada anak dari segi fisik, kognitif, maupun sosioemosi mereka.

Secara fisik, perubahan yang sangat nampak merupakan fase pubertas. Pubertas merupakan periode di mana kematangan fisik berlangsung cepat dan melibatkan perubahan hormonal dalam tubuh. Pada pria, testosteron meningkat 18x lipat dan estradiol hanya 2x lipat, sedangkan pada wanita testosteron meningkat 2x lipat dan estradiol 8x lipat. Dari segi kognitif, kemampuan berpikir kritis pada remaja meningkat secara drastis, karena remaja sudah mulai memikirkan dirinya sendiri. Dan terakhir secara sosioemosi, ditandai dengan self-centered, self-concerned, dan self-congratulatory.

Melihat permasalahan ini, pada Selasa, 12 Februari 2019 Bapak Ersa Lanang Sanjaya, S.Psi., M.Si. atau kerap disapa Pak Ersa berkesempatan mengisi talkshow pada acara Parents Gathering di SMA Jembatan Budaya yang terletak di Kuta, Bali. Dengan mengangkat judul “Sinergi Orang Tua dan Sekolah, Wujud Anak Hebat” Pak Ersa bercerita mengenai berbagai isu terkait remaja termasuk perkembangan mereka, pendidikan, dan bagaimana orang tua harus memposisikan diri mereka guna optimalisasi perkembangan sang anak. Orang tua dan sekolah harus menjadi mentor, dan mampu secara hangat serta tegas membimbing remaja. Anak hebat, Indonesia hebat!

 

Referensi :

Jahja, Yudrik. (2011). Psikologi Perkembangan. Jakarta : Kencana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *