Kunjungan ke Panti Werdha Usia “Anugrah”: Lebih dari Sekedar Ilmu

Kunjungan ke Panti Werdha Usia “Anugrah”: Lebih dari Sekedar Ilmu

Perjalanan hidup manusia akan terus berkembang melewati tahap-tahap perkembangan. Ada masanya manusia menjadi muda dan kemudian menjadi tua. Melalui mata kuliah Psikologi Perkembangan Dewasa dan Lansia, mahasiswa PSY UC 2017 memahami karakteristik perkembangan individu dewasa dan lansia. Salah satu metode pembelajaran adalah dengan memiliki pengalaman empiris terhadap subjek perkembangan dalam hal ini adalah individu lanjut usia. Pada Kamis, 3 Mei 2018, mahasiswa PSY UC berkunjung ke Panti Werdha Usia “Anugrah” didampingi oleh Ibu Sendy Sofiana Limono, S.Psi., M.Psi., Psikolog selaku dosen pengampu mata kuliah.

Kehangatan antara mahasiswa dengan penghuni panti werdha “Anugrah”

Canda dan tawa menghiasi panti werdha  dimana mahasiswa melakukan interview dengan ramah terhadap penghuni panti jompo sesuai materi yang telah mereka persiapkan sebelumnya. Sebelum interview, mahasiswa memang telah dipersiapkan terkait etika dan pembuatan pertanyaan agar tidak menimbulkan konflik. Mereka diarahkan untuk menggali informasi terkait tujuan hidup lansia, apa yang diinginkan lansia dalam sisa hidupnya, dan bagaimana lansia memaknai kehidupannya. Ketiga hal ini dikatikan dengan teori tahap perkembangan Erikson, antara lain keintiman vs isolasi, generatifitas vs stagnasi, integrity vs despair.

Keceriaan yang terpotret dalam foto bersama di Panti

Kegiatan yang dilakukan hanya seputar interview ditambah adaya sumbangan sukarela berupa barang maupun uang oleh beberapa mahasiswa. Menurut Fibia Avanti (PSY 2017), ada saran pengembangan untuk kunjungan selanjutnya. “Kuliah kunjungan panti jompo, menyenangkan karena bisa observasi langsung ke lapangan dan jarang-jarang melakukan kegiatan seperti itu. Kita juga diajarkan untuk bisa wawancara ke orang yang lebih tua dengan bahasa-bahasa yang tepat serta bersikap yang sesuai. Tapi kita kurang persiapan sehingga kurang ada kegiatan yang melibatkan semua oma-oma di sana, jadi kayak kita cuma mau wawancara saja,” ujar Fibia Avanti.

Selain untuk mengoptimalkan ilmu, kunjungan ini juga bermakna personal bagi mahasiswa. “Ini membuat saya menyadari betapa lemah dan pendeknya kehidupan manusia. Mata saya menjadi terbuka untuk lebih menghargai kehidupan,” tambah Devin (PSY 2017).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *