Kuliah Tamu Ethics of Psychology: Kupas Tren Etika Psikolog Zaman Now

Kuliah Tamu Ethics of Psychology: Kupas Tren Etika Psikolog Zaman Now

Seiring dengan perkembangan zaman, banyak hal bergeser dan berubah. Apa yang diaplikasikan pada 10 tahun yang lalu, belum tentu cocok dipakai sekarang maupun pada masa yang akan datang. Begitu pula dengan kode etik psikolog. Kode etik adalah nilai-nilai yang diturunkan dari etika, yang disepakati oleh dan diberlakukan untuk sekelompok orang yang melayani masyarakat. Tujuannya adalah agar hak-hak orang yang dilayani tetap terjaga. Sama seperti dokter dan jurnalis, psikolog juga memiliki kode etik yang memastikan bahwa klien yang mereka layani terlindungi. Dengan munculnya generasi baru, yakni generasi Z, yang memiliki ciri-ciri dan kebiasaan yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya, kode etik psikolog yang ada perlu diperbaharui. Begitulah pendapat Ibu Dra. Astrid R. S. Wiratna, Psikolog, narasumber Kuliah Tamu Kode Etik Psikologi pada Kamis, 15 Februari 2018 yang lalu.

Ibu Astrid sebagai narasumber

Kuliah tamu yang mengusung topik “Tren Etika Psikolog Jaman Now” ini diadakan di Teater UC dari pukul 14.00. Para peserta merupakan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Ciputra (PSY UC) berbagai angkatan aktif. Ibu Astrid yang dihadirkan sebagai narasumber merupakan seorang psikolog klinis yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Jawa Timur. Beliau juga pernah mengajar di PSY UC sebagai dosen luar biasa selama 10 tahun.

Suasana kuliah tamu

Ibu Astrid mengenalkan para mahasiswa dengan nilai-nilai sumpah profesi psikolog dan nilai-nilai kode etik psikolog. Beberapa di antaranya adalah memperhatikan perikemanusiaan, menjaga martabat dan tradisi luhur psikologi, menjamin kerahasiaan klien, dan saling menghormati rekan sejawat (psikolog). Menurut beliau, inti dari nilai-nilai dasar ini tidak akan berubah meskipun zaman berganti. Akan tetapi, hal-hal teknis dapat berubah.

Generasi Z, yaitu generasi yang lahir pada sekitar tahun 1995-2012, memiliki ciri-ciri seperti hiper-kustomisasi (ingin yang dimiliki berbeda dari orang lain), figital (orang di dunia virtual dianggap tidak ada bedanya dengan orang di dunia nyata), cenderung punya FOMO atau fear of missing out (khawatir tertinggal perkembangan terkini), dan kompetitif. Dengan begitu berkembangnya teknologi, apakah pengertian kerahasiaan atau konfidensialitas yang kita kenal akan tetap sama? Bisa jadi tidak. Oleh karena itu, kode etik perlu diperbaharui untuk mengakomodasi perubahan yang ada. Menurut Ibu Astrid, mengevaluasi kembali kode etik psikolog yang ada adalah salah satu agenda Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dalam kongres yang akan diadakan September tahun ini.

Sesi tanya jawab

Para mahasiswa mengapresiasi diadakannya kuliah tamu ini. Lusiana Fadila (PSY 2015) misalnya berpendapat bahwa kode etik memang salah satu hal penting bagi psikolog. “Bagus sih kuliah tamu ini diadakan, kode etik sendiri kan emang bagian yang sangat penting di dunia psikologi. Kuliah tamu ini juga tentunya menambah wawasan mahasiswa. Kita jadi semakin tahu etika-etika yang perlu diperhatikan ketika melakukan kegiatan yang berhubungan dengan psikologi,” ujarnya.

Nabilla (PSY 2015) mengajukan pertanyaan kepada narasumber

Tak hanya Lusiana, Nabilla Aulia (PSY 2015) juga memiliki respon yang positif terhadap kegiatan ini. “Kebetulan aku belum ambil mata kuliah PSY Kode Etik, jadi aku bisa tahu lebih dulu gambaran kode etik di psikologi seperti apa. Di kuliah tamu, banyak yang aku dapatkan. Jujur, kuliah tamu ini melebihi ekspetasiku tentang kode etik psikologi. Intinya, kode etik itu tidak dibuat untuk mengekang tetapi untuk membuat kita memiliki standar berperilaku yang lebih baik. Hal yang paling menarik saat kuliah tamu adalah waktu mengupas tren psikologi di masa datang. Itu bener-bener bekal yang berharga buat kita sebagai calon psikolog di masa depan,” ungkap Nabilla.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *