“I Will Finish It Later: Good or bad?”

By: Arnelita Natalie Antonio

unsplash.com

 

“Kerjain nanti aja, ah! Masih lama deadlinenya”

Satu perilaku yang seringkali kita lakukan saat ada tugas yang perlu dikerjakan. Perilaku ini disebut sebagai “Prokrastinasi”. Prokrastinasi adalah kecenderungan individu untuk memulai sebuah aktivitas atau menyelesaikan pekerjaan di menit-menit terakhir, atau bahkan tidak menyelesaikan sama sekali (Gafni dan Geri dalam Azar, 2013). Prokrastinasi umum terjadi di berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Terjadinya prokrastinasi tidak memandang usia, jenis kelamin, waktu, dan tempat.

Banyak sekali jenis-jenis prokrastinasi, namun prokrastinasi yang paling sering dialami oleh pelajar maupun mahasiswa adalah prokrastinasi akademik. Prokrastinasi akademik adalah penundaan mengerjakan tugas dalam ranah akademik baik itu tugas sebagai seorang siswa sekolah maupun tugas sebagai mahasiswa. Prokrastinasi akademik meliputi penundaan tugas seperti menunda belajar untuk ujian, menunda untuk mengerjakan pr, menunda aktivitas sekolah yang seharusnya dilakukan dan lain sebagainya (Solomon & Rothblum dalam Rahmania, Budi, & Utami, 2021).

Ada 2 faktor yang mempengaruhi prokrastinasi, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Salah satu faktor internal yang mempengaruhi prokrastinasi akademik adalah kondisi psikologis (Ghufron dan Risnawati dalam Nafeesa, 2018). Motivasi dan prokrastinasi berbanding terbalik. Individu yang memiliki motivasi tinggi memiliki kecenderungan yang rendah untuk melakukan prokrastinasi. Sebaliknya, individu yang memiliki motivasi rendah cenderung menjadi prokrastinator. Kemudian, faktor eksternal yang turut mempengaruhi terjadinya prokrastinasi adalah karakteristik tugas dan lingkungan. Bentuk tugas yang diterima oleh individu dapat mempengaruhi terjadinya prokrastinasi. Pada umumnya, bentuk tugas yang dianggap kurang menarik akan membuat individu melakukan prokrastinasi. Kemudian, adanya distraksi dari lingkungan pun turut mempengaruhi. Kondisi lingkungan yang kurang mendukung dan memadai akan membuat individu menunda pekerjaannya (Rizki dalam Nafeesa, 2018).

Tingginya tingkat prokrastinasi akademik bila terus menerus dibiarkan dapat berdampak pada kondisi psikologis, seperti timbul perasaan cemas, stres, hingga depresi (Kiamarsi & Abolghasemi dalam Suhadianto & Pratitis, 2019). Selain itu, prokrastinasi mampu membuat individu gagal menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Menurut Ursia (dalam Nafeesa, 2018), prokrastinasi membuat waktu terbuang sia sia tanpa menghasilkan sesuatu yang penting ataupun berguna. Prokrastinasi juga mampu menyebabkan individu merasa tertekan sehingga dapat menimbulkan stres (Tice & Baumeister dalam Nafeesa, 2018). Tidak hanya dampak negatif seperti kehilangan kesempatan untuk mengembangkan pemahaman mengenai materi atau tugas yang diberikan, Namun prokrastinasi memiliki dampak positif jika, penundaan tersebut dikarenakan menunda tugasnya agar lebih lengkap dan lebih baik (Munawaroh et al., 2017)

Untuk mengatasi prokrastinasi, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya prokrastinasi, yaitu sebagai berikut;

  1. Mengenali diri sendiri

Remaja yang dapat memahami dirinya diharapkan dapat memanfaatkan kelebihan yang dimilikinya, serta mengevaluasi dan mengatasi kelemahan yang ada di dalam dirinya seperti prokrastinasi.

 

  1. Manajemen Waktu

Jika seseorang dapat melakukan manajemen waktu dengan baik, maka individu tersebut dapat mengalokasikan waktunya secara tepat dan mencapai tujuan yang ingin dicapai. Hal ini sejalan dengan pendapat Pasaribu, Elburdah, Sudarso, dan Fauziah (2019) bahwa manajemen waktu memiliki peran penting dalam kegiatan belajar. Karena manajemen waktu adalah salah satu faktor internal yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.

 

  1. Goal Setting

Goal Setting artinya adalah individu mampu menetapkan tujuan yang ingin ia capai. Dengan adanya goal setting, diharapkan prokrastinator dapat merubah perilakunya dengan mempunyai tujuan yang spesifik, terukur, dapat diraih, relevan, dan memperhatikan batas waktu sehingga individu akan terdorong untuk berkomitmen dan mencari strategi yang tepat untuk mencapai hasil yang diinginkan.

 

Dengan mengetahui apa itu prokrastinasi, faktor penyebab prokrastinasi, dan cara mencegah prokrastinasi, diharapkan mahasiswa dapat mengatasi prokrastinasi yang ada di dalam diri. Selain mengatasi prokrastinasi akademik, mahasiswa juga diharapkan dapat menjadi pribadi yang produktif dan memiliki tujuan yang terarah.

 

Daftar Pustaka

Azar, F. S. (2013). Self-efficacy, achievement motivation, and academic procrastination as predictors of academic performance. US-China Education Review B, 3(11), 847-857. 10.17265/2161-6248

Munawaroh, M. L., Alhadi, S., & Saputra, W. N. E. (2017). Tingkat prokrastinasi akademik siswa sekolah menengah pertama muhammadiyah 9 Yogyakarta. Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling, 2(1), 26-31.

Nafeesa. (2018). Faktor-faktor yang mempengaruhi prokrastinasi akademik siswa yang menjadi anggota organisasi siswa intra sekolah. Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya, 4(1), 53-67.

Pasaribu, V. L. D., Elburdah, R. P., Sudarso, E., & Fauziah, G. (2019). Penggunaan manajemen waktu terhadap peningkatan prestasi belajar di smp araisiyah. Jurnal Abdimas, 1(1), 84-91.

Rahmania, A. M., Budi, W., & Utami, D. N. (2021). Gambaran prokrastinasi akademik siswa smp di daerah pesisir surabaya. Jurnal Psikologi : Media Ilmiah Psikologi, 19(1), 1–7.

Suhadianto & Pratitis, N. (2019). Eksplorasi faktor penyebab, dampak dan strategi untuk penanganan prokrastinasi akademik pada mahasiswa. Jurnal RAP (Riset Aktual Psikologi), 10(2), 204-223. 10.24036/rapun.v10i2.106672

Menu