Belajar Pertukaran Sosial Lintas Budaya!

Belajar Pertukaran Sosial Lintas Budaya!

Kuliah tamu kali ini diadakan sebagai bentuk kerjasama Fakultas Psikologi Universitas Ciputra (UC) dengan Fakultas Psikologi International Medical University (IMU), Malaysia. Pada Selasa, 20 April 2021 lalu, Ibu Dr. Cicilia Larasati Rembulan, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Cicilia Larasati Rembulan mengisi kuliah tamu untuk Mata Kuliah Cross Cultural milik IMU. Beliau membawakan topik mengenai Sonjo, bentuk pertukaran sosial dalam konteks masyarakat Jawa, yang juga merupakan topik penelitiannya. 

Sebenarnya, apa yang bisa disebut pertukaran?

Beliau memaparkan bahwa.pertukaran bisa berupa material, seperti kopi dan uang, dan nonmaterial, seperti program student exchange. Pertukaran juga dapat diklasifikasikan menjadi berbagai level, mulai dari individual (seperti contoh kopi di atas) sampai organisasi, seperti pada brand oreo supreme, yang merupakan kolaborasi dari kedua merek untuk meningkatkan brand awareness masing-masing. 

Dalam perkenalan materinya, beliau membawa teori social exchange klasik, dalam konteks Asia, lalu mengerucut ke masyarakat Jawa. Berbagai tokoh yang turut menyumbangkan insight mereka dalam mengembangkan teori pertukaran klasik ini:

  1. Skinner, seorang psikolog, mengembangkan sistem di mana reward berlaku sebagai penguatan perilaku (reinforcement).
  2. Peter Blau, seorang sosiolog, menyatakan bahwa pertukaran dipengaruhi oleh struktur sosial yang ada. Motivasi dari pertukaran bersifat self-centered, untuk memaksimalkan reward yang didapat. Contohnya, kita berusaha membangun relasi dengan orang berstatus sosial tinggi untuk meningkatkan status kita. 
  3. George Homans, yang juga seorang sosiolog, memiliki pendapat yang kontras dengan Blau. Ia mengungkapkan bahwa pertukaran sosial terjadi di level dyadic, tidak berhubungan dengan struktur sosial. Contohnya, kita membeli cabai di pasar karena kita memang membutuhkannya, tidak berhubungan dengan struktur sosial yang ada. Beliau juga menjelaskan equilibrium principle, di mana hubungan interpersonal terbangun dari pertukaran reward/resources.
  4. Thibaut & Kelley, keduanya adalah psikolog sosial membuat teori bahwa manusia menanggapi setiap situasi dengan membuat perbandingan. Yuk kalian juga ikut percobaan singkat dari Bu Laras ini! Jangan scroll banyak-banyak yaa. Kalian harus milih dulu di antara kedua popcorn ini sebelum move on ke gambar selanjutnya!

Kalau kalian, pilih yang mana nih? Yang 3 RM atau yang 7 RM?

Mungkin pertimbangan kalian banyak nih, mulai dari jumlah orang yang ikut jalan-jalan, kapasitas perut (baca: sebelumnya sudah makan, atau ada rencana makan setelah ini), dan lain-lain. Tapi jangan kelamaan milihnya, biar kita bisa move on ke gambar selanjutnya.

Udah milih kan?

Bener udah?

Oke deh, aku kasih gambar selanjutnya.

Dari contoh itu, kita tahu kalau kalau kita membuat perbandingan. Pada gambar pertama, banyak murid IMU (dan juga mungkin kamu) memilih untuk membeli popcorn yang 3 RM. Sedangkan pada slide kedua saat muncul variabel diantaranya, kebanyakan murid (aku termasuk) memilih popcorn besar seharga 7 RM. Dari sini, kita belajar bahwa reward bersifat dinamis, karena tergantung dari konteksnya, seperti pada contoh yang kita coba tadi.

Ada pula perdebatan mengenai sifat dari reward yang didapat dalam pertukaran ini, statis dan dinamis.

  1. Foa & Foa di sisi lain membahas teori yang berfokus pada sumber pertukaran (terutama yang non-material) dan berada pada level interpersonal. Menurut mereka, sumber dari pertukaran (resources) bersifat stabil dan tidak dapat dibandingkan satu sama lain, jenis-jenisnya adalah:
  1. Cinta
  2. Status
  3. Informasi
  4. Uang
  5. Barang
  6. Jasa

Cook & Emerson, yang merupakan sosiolog, setuju dengan teori Peter Blau bahwa pertukaran berkaitan dengan struktur sosial. Di sini Cook dan Emerson (1978) menyatakan bahwa pelaku pertukaran memiliki dependensi kekuatan. Makin banyak/ kuat reward yang dimiliki satu pihak, maka pihak itulah yang lebih punya kekuatan. Untuk mengilustrasikannya, Ibu Laras memberikan ilustrasi berikut:

 

Saat B menjadi satu-satunya penyedia jasa penerbangan, A menjadi dependen dengan B. Maka dari itu, B memiliki kekuatan di atas A.

Di sini, A memiliki berbagai pilihan penyedia jasa penerbangan, Z, B, dan Y. Maka dari itu A lebih memiliki kekuasaan untuk memilih, sedangkan B kehilangan kekuatan atas A.

Nah, sekian teori klasik dari pertukaran yang bisa saya bagikan dengan teman-teman sekalian. Semoga materi yang dibawakan kali ini dapat memberikan insight bagi kalian!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *