Ghosting: Ada yang Seram, tapi Bukan Hantu

Ghosting: Ada yang Seram, tapi Bukan Hantu

Picture on Unsplash by Dole777

 

 

Bayangkan ini.

Kamu menjalin hubungan dengan seorang teman dari dunia maya. Kalian memiliki beberapa kesamaan, dan segera cocok satu sama lain. Lama kelamaan, kamu pun mulai menanti-nantikan saat chat dengan dia. Namun chat yang kamu kirimkan tidak dibalas, satu jam, sehari, dan seminggu kemudian. Lalu tanpa disadari, kamu sudah melewati sebulan tanpa mendapat kabar apapun dari dia.

 

Pernahkah kamu mengalami kejadian semacam itu? Kalau iya, kamu telah menjadi salah satu korban ghosting. Sebenarnya, apa sih ghosting itu?

 

Urban Dictionary (2016) mendeskripsikan ghosting sebagai saat di mana seseorang memutus komunikasi dengan teman atau pasangan, tanpa peringatan atau penjelasan sebelumnya. LeFebvre et al. (2019) menemukan bahwa ghosting dilihat sebagai cara untuk mengakhiri sebuah hubungan, terlebih dengan penggunaan teknologi.

 

Apakah ghosting terjadi secara tiba-tiba?

Ternyata, ada 2 tipe ghosting jika dinilai dari interval waktu yang berbeda, tiba-tiba (sudden) dan secara perlahan (gradual). Tipe ghosting pertama (sudden) adalah perilaku seseorang yang memutus semua komunikasi secara tiba-tiba, tidak ada pesan, tidak mengangkat telepon, bahkan sampai aksi block akun. Seseorang yang melakukan ghosting secara perlahan akan mengurangi komunikasi seiring berjalannya waktu, yang lalu berujung pada hilangnya komunikasi secara total.

 

Apa efek dari ghosting?

Jennice Vilhauer menyatakan bahwa ghosting bisa berdampak pada mental health seseorang. Ia menjelaskan bahwa mereka yang menjadi korban ghosting tidak memiliki kesempatan untuk bertanya atau diberikan informasi untuk memproses kejadian tersebut. Ghosting membuat mereka kehilangan suaranya, menghambat mereka dalam mengekspresikan emosi dan didengar, serta mendapatkan closure yang mana penting untuk menjaga self-esteem mereka.

 

Jika begitu, kenapa orang melakukannya?

Dr. Vilhauer menjelaskan bahwa perilaku ghosting berkaitan dengan tingkat kenyamanan dan bagaimana seseorang menangani emosinya. “Banyak orang yang tidak nyaman saat berpikir untuk mengutarakan perasaannya,” begitu jelasnya.

 

Dr. Freedman juga menemukan bahwa ghosting juga dipengaruhi pandangan kita tentang masa depan dan bahwa pasangan kita adalah “the one”. Pandangan ini merupakan pandangan seseorang terhadap hubungan, baik melihat hubungan sebagai sesuatu yang dapat dipupuk dan bertumbuh, atau pandangan seseorang yang berusaha menjalin hubungan untuk mencari “the one”. Beliau menjelaskan bahwa individu yang lebih percaya pada takdir memiliki kecenderungan untuk melakukan ghosting. “Jika kamu sedang menjalin relasi, lalu kamu menyadari bahwa dia bukan orang yang kamu cari, kamu tidak akan mengerahkan banyak upaya, jadi kamu ghosting orang itu.”

 

Bagaimana cara untuk menghindari ghosting?

  1. Kenali orang baru dengan lebih baik

Kamu dapat menilai orang dari bagaimana dia bertindak terhadap berbagai situasi dan bagaimana ia memperlakukan orang lain. Namun jagalah jarakmu agar kamu tidak terlalu lekat dengan orang tersebut.

  1. Pilihlah orang yang nantinya akan dekat denganmu.

Nantinya, saat kamu sudah kenal cukup baik orang itu, kamu bisa menentukan apakah orang itu bisa masuk ke teman dekatmu atau tidak. Jika memang tidak, tetap pertahankan dia sebagai teman. Orang yang seringkali di-ghosting memiliki tendensi untuk menjadi pelaku ghosting.

 

This Is Why Ghosting Hurts so Much. Available online: https://www.psychologytoday.com/us/blog/livingforward/201511/is-why-ghosting-hurts-so-much (accessed on 20 December 2019).

 

https://www.urbandictionary.com/define.php?term=Ghosting (diakses 25 Maret 2021)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *