Betutu Kecak : Semangat Bali Sampai ke Surabaya

Betutu Kecak : Semangat Bali Sampai ke Surabaya

Bicara soal persistensi atau pantang menyerah, tim Betutu Kecak patut diacungi jempol! Meskipun mulanya sempat harus berganti-ganti bisnis, ketiga pioneer Betutu Kecak, Putu Anggi, I Kadek Aditya, dan Angella Glory (PSY 2013), tidak menghentikan perjuangannya.

Dari kiri : Angella, Fikriyah, Aditya, Anggi, Amelinda

Dari kiri : Angella, Fikriyah, Aditya, Anggi, Amelinda

Tiga sekawan asal Bali ini memulai perjalanannya di semester 2 yaitu di kelas Entrepreneurship 2.

“Awalnya kami berniat untuk membuka bisnis jasa konseling untuk orang tua muda. Jadi idenya waktu itu ingin membantu mereka untuk menyiapkan diri saat punya baby baru, semacam itu”, jelas Putu Anggi.Namun akhirnya, tim ini memutuskan untuk meninggalkan ide ini, karena dari evaluasi yang dilakukan bersama fasilitator, masalah yang diangkat tersebut dinilai kurang tajam.

Logo Betutu Kecak

Logo Betutu Kecak

Datanglah ide kedua, yaitu bisnis cuci kendaraan keliling. Tetapi setelah melakukan perencanaan dan pertimbangan modal, ternyata ide bisnis ini memerlukan modal financial yang cukup tinggi. Tidak hanya tentang modal keuangan, kendala lainnya adalah ide cuci kendaraan ini membutuhkan tenaga kerja yang betul-betul dapat dipercaya.

“Ya karena kami waktu itu berpikir untuk memodali tenaga kerja kami dengan kendaran dan seluruh peralatan cucinya”. Berdasarkan pertimbangan resiko yang terlalu besar, ide ini pun terpaksa kembali ditinggalkan.

1427446238240

Anggi, Angel, dan Adit memilih untuk break sejenak, memikirkan ide lain yang mungkin dieksekusi. Mereka kembali pada konsep entrepreneurship Birds in Hands, yang menyatakan untuk memulai sebuah bisnis, mulailah dari apa yang kita miliki. Dan eureka! Ketiganya akhirnya mencetuskan ide awal Betutu Kecak.

Sebagai orang asli dari Bali, mereka mengenal Betutu sebagai makanan tradisional yang banyak diburu oleh wisatawan yang datang ke Pulau Dewata. Berbekal resep keluarga dari Anggi, tim ini mengolah produk ayam betutu yang kemudian dkenal dengan nama Betutu Kecak.

“Kami tidak menggunakan pengawet buatan, dan juga sedikit minyak. Sehingga, betutu olahan kami lebih sehat”, jelas Anggi.

Nama ‘Kecak’ diambil dari salah satu tarian asli Bali yang sudah dikenal secara mendunia, Tari Kecak. Terbukti, sejak pertama kali dipasarkan, Betutu Kecak berhasil menarik animo dari mereka yang merindukan cita rasa Bali di Surabaya. Dikemas dengan cantik menggunakan lunchbox bertutup transparan, berisi nasi dan 1 potong ayam bumbu betutu, satu porsi tersebut dibanderol cukup murah seharga Rp 15.000 saja! Bahkan, Anda dapat memilih potongan ayam yang diinginkan.

1427446234323

“Hingga saat ini konsumen kami biasanya relasi-relasi asal Bali yang tinggal di Surabaya. Selain itu juga teman-teman mahasiswa”.

Selain dipasarkan di kalangan teman-teman sekampus, rupanya Betutu Kecak telah melebarkan sayap pemasarannya hingga ke kampus lain di daerah Surabaya Barat. Antusiasme luar biasa sempat membuat tim Betutu Kecak kewalahan melayani order. Kewalahan tersebut teratasi sejak Amelinda Fairus (PSY 2013) dan Fikriyah Nur (PSY 2013) turut bergabung dengan Tim Betutu Kecak di semester 3. Meskipun hanya membuka pesanan seminggu sekali, dalam sebulan rata-rata Betutu Kecak dapat mencapai lebih kurang 40 porsi.

“Rencana selanjutnya kami ingin membuka stan untuk Betutu Kecak ini”, pungkas Anggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *