Kisah Betari Aisah, Alumni Psikologi UC Angkatan 2013 yang Lolos Seleksi Beasiswa LPDP

Kisah Betari Aisah, Alumni Psikologi UC Angkatan 2013 yang Lolos Seleksi Beasiswa LPDP

Berita bahagia datang dari Betari Aisah, alumni PSY UC angkatan 2013. Wanita muda yang baru saja diwisuda pada bulan Oktober yang lalu ini dinyatakan lolos seleksi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Melalui beasiswa LPDP, Kementerian Keuangan dan Kementerian Pendidikan & Kebudayaan memberikan kesempatan bagi pemuda-pemudi Indonesia yang berprestasi untuk menempuh pendidikan dengan pembiayaan dari pemerintah. Betari, begitu ia biasa disapa, secara khusus, mendapatkan pembiayaan penuh LPDP BPI (Beasiswa Pendidikan Indonesia) Reguler untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 di luar negeri. S2 dalam bidang Applied Social Psychology di United Kingdom pun menjadi pilihannya.

Ketika ditemui oleh jurnalis PSY UC, Betari dengan gembira dan luwes menceritakan pengalamannya mempersiapkan dan menjalani proses seleksi beasiswa LPDP. Ternyata, ia telah memulai perjuangannya sejak semester 6 berkuliah di Fakultas Psikologi Universitas Ciputra. Hal pertama yang Betari lakukan adalah menentukan fokus bidang studi. Pada saat itu, Betari menemukan bahwa ia menyukai psikologi sosial bagian kajian tentang identitas. Sejalan dengan hal tersebut, skripsi yang disusun wanita asal Jember ini juga menangkat tema identitas. Fokus bidang studi yang disenangi ini menentukan jurusan serta universitas yang dipilihnya.

Betari ketika sidang skripsi

Hal kedua yang Betari lakukan adalah membangun track record. Oleh karena jurusan yang ia pilih berbasis riset, ia pun mencari lowongan magang di semester 7 yang berkaitan dengan riset. Ia berkesempatan mengenal riset lebih dalam dengan magang di Lembaga Penelitian dan Publikasi (LPP) UC. Ia juga menjadi asisten penelitian beberapa proyek di lingkungan UC.

Masuk ke semester 7 dan 8, Betari mulai menjalankan hal ketiga, yaitu mengumpulkan persyaratan dokumen. Dokumen tersebut meliputi esai, hasil tes IELTS, tes kesehatan, transkrip akademik, CV, hingga ijazah dari tingkat SD.

Proses seleksi yang dilalui wanita yang lulus dengan predikat Magna Cum Laude ini ada 3, yakni seleksi dokumen, psikotes online, serta tes substansi. Mulai dari bulan Juni 2017, pada tahap seleksi dokumen, Betari mengumpulkan semua berkas yang diminta. Ternyata, ia lolos tahap ini dan 2 bulan kemudian, ia pun menjalani tahap psikotes online. Tes ini berfungsi untuk mengetahui bagaimana kepribadian pendaftar.

Betari kembali lolos dan masuk ke tahap tes substansi. Ada tiga jenis tes yang harus dilaluinya, yaitu wawancara, esai on-the-spot, dan leaderless group discussion. Pada sesi wawancara, hal-hal yang tercantum pada esai maupun dokumen lainnya digali lebih dalam oleh interviewer. Pada sesi esai on-the-spot, Betari diminta memilih 1 dari 2 topik yang tersedia dan diberikan waktu berpikir hanya 20-30 menit sebelum menuliskan pendapatnya. Sedangkan, pada sesi leaderless group discussion, ia berkelompok dengan sekitar 7 orang pendaftar lainnya dan mereka berdiskusi mengenai suatu topik umum. Tidak ada pemimpin di dalam diskusi ini sehingga masing-masing dari mereka harus pandai mengatur kapan mereka perlu berpendapat dan kapan mereka perlu mendengarkan. Selama diskusi yang berlangsung sekitar 20-25 menit, mereka diamati oleh 2 orang pengamat. Semua proses tes berlangsung dalam Bahasa Inggris.

Betari bersama para pendaftar beasiswa lainnya ketika tes leaderless group discussion

Betari berhasil melewati semua tahapan seleksi dengan baik sehingga ia pun berhasil memperoleh beasiswa impiannya. Akan tetapi, lolos seleksi tidak berarti Betari dapat bersantai ria. Ternyata, ia sudah memiliki banyak rencana ke depan. Ia sedang mengejar surat penerimaan dari universitas pilihannya sembari menjadi freelancer asisten penelitian. Meskipun sudah lulus S1, Betari ingin tetap produktif dalam hal akademik agar keterampilan dan pengetahuannya meningkat. Sebelum berangkat kuliah S2 kelak, Betari juga akan mengikuti berbagai kegiatan persiapan keberangkatan, seperti pengarahan serta proyek dari LPDP selama setengah tahun.

Memperoleh beasiswa yang cukup bergengsi ini pastinya tak hanya membanggakan bagi diri sendiri namun juga keluarga. Betari menjadi satu dari sejumlah orang terpilih yang dapat studi lanjut tanpa harus pusing mengenai biaya kuliah maupun biaya hidup di luar negeri. Sedang mengejar beasiswa untuk studi lanjut seperti Betari? Berikut beberapa tips dari Betari Aisah:

1. Rajinlah membaca panduan program beasiswa

Panduan biasanya bisa diakses di web pemberi beasiswa. Penting bagi pendaftar beasiswa untuk membaca panduan program beasiswa dengan seksama dan menyeluruh. Meski tebal, Betari menyarankan kita untuk mencetaknya dan menandainya satu per satu. Jangan sampai jalan kita terhambat karena kurang memahami persyaratan dan tahapan seleksi.

 

2. Never settle for less

Menurut Betari, kita tidak boleh cepat puas dalam mencari pengalaman dan melakukan yang terbaik ketika kuliah. “Jangan pernah never settle for less. Perasaan ‘halah, sudahlah gini-gini aja cukup’ sebaiknya dibuang jauh-jauh. Kadang capek sih iya, tapi ketika baru lulus gini baru kerasa ‘Oh ya, kenapa aku gak ngejar lebih tinggi IPku misalnya. Atau kenapa aku gak aktif di organisasi?’ Karena gak akan ke ulang kalau sudah lulus dan pengalamanmu masih belum banyak.”. Jadi, pergunakan waktu selama masa kuliah semaksimal mungkin ya, PSYers!

 

3. Mulailah membuat timeline

Kita perlu menyusun timeline kapan hendak menjalani tes Bahasa Inggris, mengurus surat rekomendasi, menjalani tes kesehatan, dan lainnya. Menjelang tes kesehatan, kesehatan juga perlu prima. Memiliki timeline penting agar semua berkas dapat dilengkapi sebelum batas waktu yang ditentukan.

 

4. Risetlah kampus yang ingin dituju

Pengenalan akan kampus serta jurusan yang hendak dituju sangat penting. Satu bidang studi tertentu dapat tersedia di banyak universitas dan negara sehingga kita harus punya alasan kuat di balik pemilihan jurusan di kampus tertentu. Tentu saja, hal ini akan ditanyakan ketika wawancara. Proses meriset kampus dapat dilakukan selama hampir setahun karena kita perlu tahu biaya, kurikulum, hingga tenaga pengajar dan ahli yang dapat membantu kita mencapai tujuan karir pendidikan kita.

Betari bersama Kak Nafila, awardee beasiswa LPDP tahun sebelumnya, yang menjadi mentornya selama proses seleksi

Itu kira-kira tips yang diberikan Betari untuk kita semua. Semoga kisah suksesnya menginspirasi kita semua untuk berjuang semaksimal mungkin mengejar mimpi kita ya, PSYers!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *