Bencana, Atribusi Metafisika, dan Skeptisisme

Bencana, Atribusi Metafisika, dan Skeptisisme

Indonesia sedang berduka. Setelah Lombok, Donggala, dan Palu, kita kembali mendapatkan kabar bahwa Situbondo juga mengalami gempa.  Di antara penjelasan-penjelasan ilmiah dari sudut pandang ilmu geodesi dan geomatika yang tersaji di berbagai platform berita, ada pula yang mengaitkan tragedi ini sebagai peristiwa metafisika.  Golongan masyarakat ini cenderung mengaitkan bencana dengan tema-tema yang mengarah pada rendahnya level religiusitas dan atribusi bernuansa agamis lainnya.

 

Jika kita berpikir untuk abai dengan fenomena eksistensi metafisika dalam konteks bencana, ada baiknya kita sedikit mundur ke belakang. Kita akan menemukan bahwa adanya tendensi untuk menjelaskan sebuah bencana dengan pendekatan metafisika bukanlah peristiwa yang baru. Pada tahun 2014, dua bulan setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikukuhkan sebagai presiden Republik Indonesia, bencana tsunami melanda Provinsi Daerah Istimewa Aceh dan menelan lebih dari 150.000 korban jiwa. Peristiwa ini kemudian diikuti dengan adanya gempa bumi susulan, erupsi Gunung Merapi, fenomena flu burung, dan gelombang tsunami kedua. Saat itu, semua lawan politik Presiden SBY mendorong agar presiden melakukan sesuatu, termasuk bertapa untuk mendapatkan keris. Penjelasan tentang metafisika dalam menjelaskan bencana merupakan sebuah pola lama yang perlu mendapatkan perhatian kita.

 

Menariknya, kecenderungan untuk mengaitkan sebuah bencana dengan penjelasan metafisika sebenarnya bukanlah fenomena lokal yang hanya terjadi di Indonesia. Di Ghana, ketika sebuah daerah berkali-kali mengalami banjir atau tanah longsor, maka penduduk setempat akan meminta bantuan dari sosok yang mereka anggap sebagai orang pintar untuk menjelaskan apa yang menjadi penyebab bencana-bencana yang sedang mereka alami. Di Jepang, terdapat sebuah kepercayaan bahwa ketika bulan sedang termanifestasi bulat sempurna (the Super Moon), maka tidak lama kemudian akan terjadi bencana. Di Haiti, adanya gempa bumi pada tahun 2010 juga dipercayai sebagaian masyarakat setempat sebagai hukuman dari Tuhan yang sedang marah. Setiap negara di dunia memiliki golongan masyarakat yang punya tendensi menjelaskan bencana dengan tema meta-fisika.

 

Mengapa hal ini dapat terjadi? Mengapa di era kontemporer dengan kemajuan teknologi informasi yang sedemikian masif, sebagaian masyarakat dunia masih mempercayai hal-hal yang bersifat metafisis untuk menjelaskan sesuatu? Bukankah manusia dipercayai sebagai sosok individu yang mengedepankan rasionalisme dan nalar? Bagaimana ilmu perilaku menjelaskan fenomena ini?

 

Fenomena Psikologis

 

Tendensi sebagian kelompok masyarakat yang menjelaskan bencana dengan paparan metafisika adalah sebuah fenomena psikologis. Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan untuk mencari penjelasan dari sebuah fenomena, khususnya pada kejadian-kejadian di luar dugaan yang bernuansa negatif. Dalam ilmu psikologi sosial, hal ini disebut sebagai atribusi (Arceneaux & Stein, 2016). Tujuan utama dari proses atribusi adalah untuk memahami, mengorganisasikan, dan membentuk pemaknaan, memprediksi serta mengontrol fenomena tersebut.

 

Secara umum, kita akan cenderung melakukan dua macam atribusi, yakni eksternal dan internal. Atribusi eksternal adalah pola dimana kita memberikan atribut akar terjadinya sebuah peristiwa pada hal-hal di luar diri kita, sedangkan atribusi internal adalah ketika kita merasa bahwa akar terjadinya peristiwa adalah hal-hal yang ada di dalam diri kita. Atribusi eksternal biasanya akan dilakukan untuk peristiwa-peristiwa negatif, sedangkan atribusi internal untuk peristiwa yang positif.

 

Misalnya, kita mendukung sebuah tim sepakbola secara fanatis. Ketika tim sepakbola yang kita dukung menang, maka kita akan cenderung untuk merasa bahwa hal ini disebabkan oleh kemampuan pemain-pemain yang handal. Singkatnya, kita melakukan atribusi internal. Tetapi jika kalah, kita berpikir bahwa hal ini disebabkan oleh karena faktor-faktor eksternal, seperti wasit yang kurang kompeten, perangkat pertandingan yang tidak profesional, atau kualitas rumput lapangan yang kurang memadai. Sangat jarang kita temukan fans sepakbola yang menyerang pemainnya sendiri setelah kekalahan dari rival beratnya.

 

Yang perlu dipahami, proses untuk melakukan pengatribusian ini mengandung potensi kesalahan mendasar (fundamental attribution error). Seperti pada contoh kasus tim sepakbola yang kalah di atas, mendasarkan kesalahan semata-mata pada faktor eksternal adalah sebuah penarikan kesimpulan yang gegabah. Bisa saja kekalahan disebabkan karena faktor kurangnya koordinasi antar pemain dan bukan hanya performa wasit semata. Namun, kita cenderung tidak mengakuinya. Hal ini disebabkan karena kita memiliki kecenderungan bias untuk mengglorifikasi diri kita sebagai orang-orang yang positif, sedangkan kelompok lain sebagai pihak yang lebih buruk. Hal ini dalam ilmu psikologi disebut sebagai self-serving bias.

 

Dalam konteks bencana, kelompok-kelompok masyarakat yang mengatribusikan bencana sebagai peristiwa metafisik mempercayai eksistensi pribadi transendental sebagai pusat segala sesuatu yang terjadi di bumi. Kelompok-kelompok ini mendasarkan pemahamannya pada filsafat transendentalisme yang berpengaruh pada abad ke 18, yang menekankan bahwa pengetahuan itu tidak terbatas pada pengalaman dan pengamatan melainkan melampauinya. Secara ontologi, paham ini merupakan lawan dari empirisme dan positivisme yang menekankan pada penjelasan-penjelasan yang dapat diverifikasi secara empiris.

 

Uniknya, mengatribusikan sebuah bencana sebagai sebuah kejadian metafisika ini tidak ada kaitannya dengan tingkat pendidikan dan intelegensi. Jika kita menganggap bahwa atribusi bencana sebagai peristiwa supranatural hanya terjadi di kalangan masyarakat yang berpendidikan rendah, maka tampaknya kita perlu meluruskan pemahaman kita. Pada tahun 2015, salah satu pejabat tinggi di Sabah Malaysia mendapatkan kritik keras karena menjelaskan kepada pers bahwa adanya gempa bumi di Malaysia disebabkan karena adanya anggota dari komunitas telanjang (nudist) melakukan perilaku-perilaku yang tidak menghormati gunung tersebut.

 

Penjelasan ini kemudian memantik sebuah pertanyaan penting lainnya. Mengapa sebagian orang dapat sedemikian mudah percaya kepada hal-hal supranatural sedangkan orang lain tidak? Dalam perspektif ilmu neurosains, jawaban dari pertanyaan ini terkait dengan fungsi inhibisi kognitif dalam otak manusia. Sebagian dari kita memiliki inhibisi kognitif di otak yang sedemikian kuat, sedangkan yang lain tidak. Semakin kuat inhibisi kognitif seseorang, semakin kuat kecenderungan kita untuk menjadi skeptis. Individu dengan inhibisi kognitif yang kuat membutuhkan sebuah alasan yang logis untuk dapat mempercayai sesuatu.

 

Secara psikologis, perilaku-perilaku mempercayai hal-hal yang supranatural juga terjadi karena adanya penguatan (reinforcement) dari hal-hal yang sebenarnya tidak berkaitan satu sama lain. Kepercayaan terhadap metafisika merefleksikan ketidakmampuan logika dan kognisi manusia untuk memahami bahwa korelasi (keterkaitan) tidak sama dengan kausalitas (hubungan sebab akibat). Misalnya, hanya karena menyimpan jimat dan seseorang terhindar dari sebuah kecelakaan, maka lantas ia cenderung berpikir bahwa agar ia terhindar dari kecelakaan, maka ia harus menyimpan sebuah jimat.

 

Menumbuhkan Skeptisisme

 

Secara psikologis, kondisi dimana seseorang mudah percaya terhadap suatu hal meskipun hal tersebut meragukan, dalam Bahasa Inggris disebut sebagai credulity. Secara linguistik, rasanya belum ada padanan kata ini dalam Bahasa Indonesia. Credulity adalah hal yang harus kita perangi, karena hal inilah yang kerap kali menjadi akar dari segala bentuk penipuan. Untuk mengatasinya, kita dapat mengembangkan sikap skeptis.

 

Dewasa ini, mengembangkan sikap skeptis merupakan hal yang relevan untuk dikembangkan mengingat ketersediaan informasi semakin melimpah di era disrupsi saat ini. Skeptisme merupakan bagian dari pemikiran kritis dan menjadi tujuan serta esensi dari pendidikan. Kata skeptis berasal dari Bahasa Yunani Skepticos  yang artinya “inkuiri”, “investigasi”,  atau “mencari dengan cermat”. Perilaku skeptis mensyaratkan evidensi yang cukup sebelum menyatakan bahwa pandangan seseorang benar atau salah. Orang-orang yang memilik pemikiran skeptis selalu bersahaja untuk tetap bersedia mempertanyakan status quo dengan pemikiran yang terbuka.

 

Hingga tahun 1589, hampir setiap orang mempercayai klaim dari Aristoteles bahwa benda-benda yang lebih berat akan jatuh ke bawah lebih cepat daripada benda-benda yang ringan. Adalah seseorang yang bernama Galileo Galilei, yang kemudian meragukan klaim tersebut. Ia lalu membuat sebuah eksperimen dengan menjatuhkan dua benda yang memiliki berat berbeda dari atas Menara Pisa. Hasilnya, kedua benda tersebut sampai di tanah dalam waktu yang bersamaan. Karena dianggap berani mempersalahkan klaim Aristoteles, Galileo Galilei kemudian dipecat dari pekerjaannya. Tetapi sejarah kemudian mencatat Galileo sebagai ilmuwan yang menegaskan pentingnya verifikasi sebagai mediator terbaik dalam klaim kebenaran.

 

Kebiasaan untuk skeptis harus mulai dibangun. Dengan mengembangkan sikap skeptis, individu tidak akan terjebak dalam penipuan-penipuan yang mengatasnamakan uang, investasi, dan bahkan Tuhan. Manfaat lainnya, individu yang mengembangkan sikap skeptis secara kognitif akan terbiasa untuk memeluk dua kutub benar-salah dengan kemungkinan yang sama besar. Secara keperilakuan, ia kemudian lapang dada untuk menerima saat sebuah pendapat benar ataupun salah. Ia akan memiliki sikap yang bersahaja.

 

Rene Descartes bahkan menyatakan bahwa setiap orang akan memiliki kebersahajaan ilmiah ketika ia menyadari bahwa setiap pendapat kita berpeluang salah. Komponen penyusun bangunan argumentasi kita bisa saja tidak memiliki kekuatan yang kuat. Dengan memiliki sikap yang skeptis, sebenarnya kita sedang menjamin kualitas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di negara kita. Dengan memiliki budaya yang skeptis, nalar akan memiliki posisi yang terhormat. Efeknya, akan muncul generasi-generasi yang kreatif dan inovatif dalam memecahkan masalah.

 

Dalam konteks bencana, skeptisme perlu dibalut dengan rasa humanisme dan empati. Penjelasan yang bersifat klenik dan mengarah kepada narasi tentang Tuhan yang marah merupakan bentuk justifikasi yang membuat proses resiliensi masyarakat menjadi lebih lambat. Kita perlu sepakat untuk menolak narasi-narasi yang bersifat supranatural dan mulai menggunakan sisi kemanusiaan dan empati kita untuk bahu-membahu membangun daerah yang tertimpa musibah untuk dapat bangkit kembali.

 

Penulis:

Jony Eko Yulianto, S.Psi., M.A.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *