About Passion: Finding What to do in Life

unsplash.com

 

“Kalau besar nanti mau jadi apa?” Pertanyaan sederhana yang sering kita dengar bahkan sejak kecil. Namun, walaupun pertanyaan ini terdengar ‘sederhana’, proses mencari jawaban dari pertanyaan tersebut bukanlah tanpa tantangan. Pertanyaan ini menjadi pergumulan penting dalam kehidupan setiap orang, terutama remaja yang memasuki tahap pencarian identitas (Erikson dalam Friedman & Schustack, 2016).

Dalam menjawab pertanyaan ini, kita akan mencoba untuk mencari passion kita dalam hidup. Passion merupakan keinginan besar yang dimiliki individu untuk meluangkan waktu dan tenaga untuk melakukan aktivitas yang disukai dan dianggap penting (Vallerand dalam Vallerand & Verner-Filion, 2013). Menurut Dualistic Model of Passion (DMP), terdapat dua tipe passion, yaitu Harmonious Passion dan Obsessive Passion. Harmonious passion adalah ketika individu dapat mengontrol passion yang dimilikinya dan tetap menjalankan kegiatan-kegiatan lain tanpa membiarkan passion-nya menjadi halangan. Sedangkan, obsessive passion adalah ketika individu tidak dapat mengontrol passion-nya sehingga passion tersebut dapat mengganggu aktivitas lain dalam kesehariannya dan menciptakan konflik. Di antara dua tipe passion ini, harmonious passion memiliki dampak positif yang lebih baik serta dapat membantu individu menjalani hidup dengan tujuan yang signifikan baginya (Vallerand & Verner-Filion, 2013).

Passion merupakan hal yang sangat penting untuk menunjang performa kita ketika mengerjakan sesuatu. Jika kita melakukan pekerjaan yang sesuai dengan passion kita, kita akan merasa bahwa hal yang dikerjakan penting sehingga kita termotivasi untuk melakukannya dengan baik (Vallerand dalam Halim, 2019). Dalam hal entrepreneurship, passion juga merupakan salah satu faktor yang penting bagi keberhasilan sebuah bisnis (Drnovsek dalam Halim, 2019). Penelitian Pollack, Ho, O’Boyle dan Kirkman (2020) juga menemukan bahwa harmonious passion dalam pekerjaan memiliki dampak yang lebih positif terhadap performa kerja individu. Ini berdasarkan hasil bahwa harmonious passion memiliki hubungan yang positif dengan positive affect (perasaan/emosi positif), self-efficacy, kepuasan kerja, dan kreativitas (Pollack, Ho, O’Boyle & Kirkman, 2020).

Maka dari itu, menemukan passion merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan kita. Akan tetapi, menemukan passion bukan proses yang mudah. Terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui sebelum passion dapat terbentuk dalam diri individu. Menurut Vallerand (2010), proses pembentukan passion dimulai dari activity selection dan activity valuation. Di proses tersebut, individu menyeleksi aktivitas yang ia sukai dan memberikan nilai atas aktivitas tersebut. Semakin bernilai aktivitas tersebut bagi individu, semakin terinternalisasi aktivitas tersebut sebagai passion (Vallerand, 2010).

Untuk mencari passion, kita dapat memulai dengan melakukan proses activity selection. Hal ini diawali dengan mendorong diri untuk mengeksplorasi berbagai aktivitas yang dapat menjadi passion. Eksplorasi ini dapat dilakukan dengan melibatkan diri di berbagai kegiatan ekstrakurikuler, organisasi, pengalaman kerja, dan hobi-hobi yang berbeda. Setelah mengeksplorasi banyak aktivitas yang berbeda, kita akhirnya bisa memilih hal apa yang paling kita sukai. Sangatlah penting bagi kita untuk mencobanya terlebih dahulu agar kita dapat lebih yakin ketika memilih aktivitas yang paling kita sukai.

Setelah proses ini, kita dapat menjalankan activity valuation dengan menilai seberapa penting aktivitas tersebut untuk diri kita (Vallerand, 2010). Proses ini bisa dibantu dengan membuat jurnal berisi aktivitas reflektif agar kita berpikir kembali tentang mengapa aktivitas itu penting bagi kita serta seberapa banyak waktu dan tenaga yang kita rela luangkan untuk aktivitas itu. Dengan melakukan refleksi ini, kita bisa mengetahui seberapa penting aktivitas yang kita lakukan dan apakah itu merupakan passion kita.

Ketika kita menilai bahwa suatu hal penting untuk kita, kita akan menginternalisasi hal tersebut dalam diri kita. Namun, sangatlah penting bahwa internalisasi ini dilakukan secara otonom tanpa paksaan, yaitu atas kemauan kita sendiri agar yang terbentuk adalah harmonious passion. Sebaliknya, jika internalisasi dilakukan dengan adanya faktor yang mengontrol atau memaksa, yang akan terbentuk adalah obsessive passion (Vallerand, 2010).

Dengan menerapkan langkah-langkah ini, kita bisa mencari passion dalam hidup yang dapat menunjang performa kita, membuat kita merasa termotivasi, serta memberikan tujuan yang signifikan bagi hidup kita.

 

Written by: Felicia Angie Hosea

 

 

Daftar Pustaka

Friedman, H. S., & Schustack, M. W. (2016). Personality: Classic theories and Modern Research (6th ed.). Boston: Pearson.

Halim, S. A. (2019). Pengaruh passion dan lingkungan kerja non fisik terhadap kinerja mahasiswa dalam menjalankan bisnis. Jurnal Performa: Jurnal Manajemen Dan Start-Up Bisnis, 4(4), 602. https://doi.org/10.37715/jp.v4i4.1672

Pollack, J. M., Ho, V. T., O’Boyle, E. H., & Kirkman, B. L. (2020). Passion at work: A meta-analysis of individual work outcomes. Journal of Organizational Behavior, 41(4), 311–331. https://doi.org/10.1002/job.2434

Vallerand, R. J. (2010). On passion for life activities: The Dualistic Model of Passion. Advances in Experimental Social Psychology, 42, 97–193. https://doi.org/10.1016/s0065-2601(10)42003-1

Vallerand, R. J., & Verner-Fillion, J. (2013). Making people’s life most worth living: On the importance of passion for positive psychology. Terapia Psicológia, 31(1).

Menu