Pembukaan dan Peresmian Pusat Kajian Warisan Budaya Kreatif

Pembukaan dan Peresmian Pusat Kajian Warisan Budaya Kreatif

Bangsa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang beragam, banyak diantaranya terancam punah karena gerusan arus globalisasi. Warisan Budaya bangsa Indonesia perlu untuk dilestarikan dan dihidupkan kembali dengan berbagai cara dan media yang kreatif. Penting untuk disadari bahwa pelestarian warisan budaya tidaklah berbicara mengenai pelestarian suatu benda, situs, maupun nilai-nilai luhur masa lampau semata, melainkan sebuah upaya bersama untuk menciptakan warisan budaya baru di masa kini berdasarkan nilai-nilai masa lalu untuk masa depan. Inilah esensi dan definisi dari warisan budaya. Kesadaran inilah yang sangat diperlukan bagi para pemerhati, pelaku budaya, dan praktisi industri kreatif saat ini. Seperti halnya masa kini tak dapat dilepaskan dari masa lampau, maka pelestarian nilai-nilai budaya juga tidak terpisahkan dari nilai-nilai ekonomi dan sosial. Di sinilah kita dapat menyadari urgensi dan potensi dari kajian warisan budaya sebagai sumber inspirasi bagi pengembangan ekonomi kreatif baik dalam bentuk Kriya, Busana, Arsitektur, dan Desain demi terciptanya warisan budaya Indonesia yang berkelanjutan. Universitas Ciputra sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mengedepankan spirit entrepreneurship, inovasi, dan kreativitas berkomitmen untuk menjawab peluang ini dengan membentuk Pusat Kajian Warisan Budaya Kreatif (Centre for Creative Heritage Studies / CCHS).

CCHS digagas sebagai sebuah lembaga riset lintas disiplin ilmu di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Ciputra yang bekerja sama dengan institusi-institusi kebudayaan nasional dan internasional. Lembaga ini berfungsi pertama sebagai pusat penelitian, pelestarian, dan penciptaan warisan budaya. Kedua sebagai pusat pembinaan, pendampingan, dan pengembangan pelaku budaya, dan Ketiga sebagai pusat diseminasi budaya dan produk ekonomi kreatif berbasis budaya. Adapun kegiatan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam Pusat Kajian ini meliputi penelitian, penciptaan warisan budaya baru, pelatihan dan pendampingan pelaku budaya, penerbitan artikel dan buku, pameran, seminar, dan festival budaya.

“Kami diajak untuk menikmati museum universitas yang sedang memamerkan berbagai ragam Keris, Wayang Wahyu untuk desa Peniwen, beragam kain nusantara, kuliner kontemporer yang terinspirasi dari citra rasa khas Majapahit” , tutur Ir. Yohannes Somawiharja, M.Sc., Rektor Universitas Ciputra.
“Berbagai tugas mahasiswa terkait budaya Indonesia juga akan dipamerkan. Generasi muda harus didekatkan dengan budaya untuk mencipta rasa memiliki kemudian timbul rasa cinta”, imbuhnya.

Acara yang digelar pada Senin 15 Oktober 2018 ini bertempat di lantai 2 gedung A Universitas Ciputra, menghadirkan Bapak Kwan Hwie Liong, seorang tokoh penutur batik lasem dan batik batang.