https://www.timesindonesia.co.id/read/news/354038/netnografi-sebagai-alternatif-penelitian-di-tengah-keterbatasan-akses-realitas-fisik

blank

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Saat ini ruang gerak dan interaksi kita dengan sesama secara fisik masih terbatas oleh karena pandemi covid 19 yang masih belum juga berakhir di Indonesia. Berbagai kebijakan yang diarahkan untuk melakukan pembatasan tatap muka fisik serta interaksi dengan komunitas masyarakat tertentu mungkin akan menyebabkan para akademisi khususnya peneliti yang melakukan penelitian berbasis observasi dan interaksi langsung di lapangan menjadi terbatas. Seolah menjadi peneguhan bahwa realitas sosial masyarakat kini tak hanya dibangun dari realitas atau dunia fisik, tapi juga realitas virtual atau maya yang dibangun dengan kekuatan internet dan tangkapan digital. Dalam hal inilah netnografi dapat menjadi peluang bagi para peneliti untuk mengeksekusi gagasan-gagasan risetnya yang bersumber dari realitas virtual.

Sederhananya, netnografi merupakan etnografi yang dilakukan dari internet. Realitas yang tersaji dari dunia internet mengandung suatu tangkapan budaya yang tersaji secara digital. Jadi netnografi berupaya menangkap budaya dan interaksi yang terjadi dalam komunitas virtual atau online. Pandangan, persepsi, perilaku dari seorang individu maupun sekelompok orang (masyarakat) yang tercermin dari komunikasi didalam berbagai platform media sosial misalnya dapat merepresentasikan makna tertentu. Hal ini tentu menarik untuk diteliti lebih lanjut dalam ruang-ruang investigasi penelitian baik secara kajian interpretif maupun secara kritis atau bahkan bisa hingga beyond netnografi yang menghasilkan suatu konstruksi nilai tertentu.

Media online yang dianggap mampu menopang di tengah keterbatasan jangkauan pertemuan offline menjadi suatu wadah yang semakin diakui kekuatannya bagi terjadinya pertukaran informasi dan nilai. Seperti halnya berbagai sajian yang tertangkap dalam media sosial seperti Facebook, Whatsapp (termasuk berbagai grup didalamnya), Instagram, Twitter, Youtube, bahkan yang saat ini sedang hits yaitu Tiktok. Misalnya saja, berbagai media sosial ini dapat menghantar pada membawa kekuatan dalam membangun religiusitas atau justru sebaliknya terkikisnya religiusitas. Selain itu media sosial juga dapat menjadi alat untuk konstruksi budaya dan konstruksi realitas. Isu-isu seperti ini dapat diteliti lebih lanjut dengan netnografi dimana sumber datanya diperoleh dari tangkapan objek digital.

Peneliti dapat melakukan proses pengumpulan data secara diam-diam atau mengintai (peneliti lebih pasif) maupun dengan melakukan intervensi didalam komunitas online yang ia pilih (peneliti aktif berpartisipasi), ataupun kombinasi dari keduanya. Yang pasti etika penelitian tetap harus dikedepankan dalam melakukan proses pengumpulan data ini dan penyajian publikasi hasilnya nanti. Setiap komentar ataupun mungkin hanya sekedar gambar atau emoticon yang dituliskan seseorang pada kolom komentar sesungguhnya mencerminkan respon, reaksi ataupun ekspresinya atas isu yang terjadi di media sosial tersebut. Pola interaksi ini menarik untuk diamati bagi peneliti.

Jadi, tertarikkah Anda dengan alternatif penelitian ini? Ini dapat menjadi alternatif di tengah keterbatasan akses kita sebagai peneliti untuk turun ke realitas lapangan dalam pertemuan fisik agar tetap produktif dalam riset. Selamat berselancar di dunia maya internet untuk menemukan NILAI dari tangkapan digital tersebut.

Universitas Ciputra Surabaya-UC Surabaya

Menu