Menyelamatkan Kuliner Indonesia dari Serbuan Budaya Kuliner Asing

Menyelamatkan Kuliner Indonesia dari Serbuan Budaya Kuliner Asing

Masuknya budaya asing tidak bisa lagi dielakkan termasuk pada komoditas produk makanan. Sangat mudah untuk menemukan menu khas negara lain bahkan dalam bentuk instant. Bagaimana dengan kuliner Indonesia seperti semangi, rawon, gado-gado, soto, papeda, ketoprak dan lain-lain?

Inilah tantangan dan peran Food Technology untuk mampu menyajikan menu-menu kuliner Indonesia dalam kemasan praktis, higienis dan dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia lintas pulau, bahkan yang berada di luar negeri. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan cara pengawetan makanan tanpa bahan pengawet. Hal ini dikupas pada acara seminar yang juga merupakan launching dari Program Studi International Food Technology Universitas Ciputra. Sentuhan Food Technology yang mengambil peranan penting pada penyediaan pangan yang berkualitas.

Pada seminar ini, hadir sebagai narasumber Bapak Thomas Darmawan, Ketua Komite Tetap Industri Makanan dan Protein, Ibu Eva Dianita selaku Kepala QA Bernardi, dan Ibu Aminah seorang pelopor semanggi instant Selendang Mayang.

Adapun Program International Food Technology ini mengedepankan pembelajaran tentang inovasi di bidang teknologi pangan berbasis kearifan lokal yang akan menjadi solusi terhadap persaingan di pasar global. Untuk itu profil lulusan diantaranya adalah food technopreneur, food industrialist, food scientist.