Menjaga Kelestarian Suku Aborigin melalui Fashion

Menjaga Kelestarian Suku Aborigin melalui Fashion

Setelah sukses dengan pagelaran fashion di Jakarta, Claire digandeng oleh Konsulat Jendral Australia bersama dengan Centre For Creative Heritage Studies dari Universitas Ciputra untuk menyempatkan diri berbagi pengalamannya selama mengikuti Jakarta Fashion Week (JFW) pada harı Sabtu, 20 Oktober 2018 yang lalu.

Pada kesempatan ini, Claire Summer selaku Direktu Eksekutif Darwin Aboriginal Art Fair Foundation (DAAFF) menjelaskan bahwa saat ini fashion pun bisa menjadi cara untuk melestarikan budaya. Koleksi yang Ia tampilkan kali ini berfokus pada cara unik para desainer Australia dan Indonesia menerjemahkan akar budaya mereka ke dalam busana.

Menariknya Claire sempat menuturkan bahwa sejak tahun 1970-an batik Indonesia diakui telah menginspirasi seni tekstil penduduk asli Australia. Dia lantas menunjukkan beberapa motif dari Indonesia yang menginspirasi warna negeri Kanguru tersebut. Di antaranya, batik parang dan batik kuwung. Yang membedakan adalah pemilihan warna tekstil Australia, lebih banyak yang berwarna cerah.

DAAFF yang mewakili 60 pusat seni penduduk asli Australia tersebut membawa koleksi bertema From Country to Couture. Empat busana yang telah ditampilkan pada ajang JFW juga dibawa pada kelas siang itu. Koleksi tersebut berasal dari empat designer yang berbeda dan memiliki cerita masing-masing. Salah satu koleksi menampilkan kalung dan anting yang dibuat dari jala nelayan yang sudah rusak, kemudian juga aksesoris bulu dari burung emu, hingga motif pakaian yang terinspirasi dari aliran sungai yang dekat dengan tempat seniman tersebut tinggal. Begitu banyak hal-hal kecil yang menjadikan koleksi fashion ini menjadi bermakna.

Michael N. Kurniawan selaku Ketua pusat Kajian Budaya Kreatif Universitas Ciputra menambahkan dengan berkunjungnya DAAFF ke universitas tersebut, ke depar dia ingin menjalin kerja sama untuk membuat gerakan melawan globalisasi.

Namun, melawan globalisasi disini bukan berarti tidak mau maju. Tapi, yang ingin dia sampaikan adalah bagaimana budaya itu tidak hilang, tapi tetap bisa dimodifikasi dengan zaman yang semakin maju. “Kita harus berhenti berpikir bahwa budaya tidak boleh diubah. Padahal kenyataannya selalu berubah.” jelasnya. Nah, yang harus diprrhatikan adalah peran budaya tersebut pada era sekarang.

Source: Jawa Pos, 23 Oktober 2018 & Inspirasi Pagi (https://inspirasipagi.id/fashion-suku-aborigin/)