Banyak lulusan pendidikan strata satu di Indonesia yang kini bekerja baik sebagai karyawan swasta, pegawai negeri sipil (PNS), ataupun pengusaha merasakan perlu memiliki pola piker yang entrepreneurial sehingga dapat memiliki daya saing di pasar global. Dalam harian “Kompas” (2002) dalam diskusi yang bertajuk “Economic Development: Does Entrepreneurship Matter?” yang diadakan oleh Ernst and Young di Jakarta merilis sebuah laporan yang menyatakan bahwa 90% pengusaha Indonesia merupakan eksekutif yang menjalankan bisnis keluarga, dan umumnya adalah mereka generasi kedua dari keluarga – keluarga yang berbisnis tersebut.

Dilematisnya, sekalipun mereka menduduki tampuk pimpinan paling puncak di perusahaan itu, keputusan akhir tetap dipegang oleh orang tua terutama ayah sebagai pendiri perusahaan. Karena keputusan akhir yang menentukan berada di tangan ayah selaku pendiri perusahaan, akhirnya banyak pengusaha Indonesia muda yang hanya melaksanakan perintah sang ayah ketimbang menjalankan idealisme yang ada dalam benak mereka sendiri. Apabila sang Ayah telah tiada, maka bisnis keluarga tersebut biasanya tidak lagi sejaya sewaktu dijalankan sendiri oleh sang pendirinya. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa proses regenerasi tidaklah berjalan dengan baik sebagaimana yang diharapkan.

Dilain sisi, pertumbuhan bisnis keluarga ataupun korporasi – korporasi besar sangatlah membutuhkan para intrapreneur yang berkualitas untuk merespon masalah – masalah yang dihadapi perusahaan seperti kebutuhan akan inovasi. Intrapreneur atau karyawan yang memiliki pola pikir seorang entrepreneur, selalu bertindak dan menjalankan profesionalisme yang terarah pada pemanfaatan peluang – peluang bisnis dalam rangka menciptakan ataupun meningkatkan nilai tambah bagi perusahaannya.

Ditingkat bangsa dan Negara, untuk dapat memenangkan persaingan global, maka sebuah pemerintahanpun harus mampu dengan jeli menangkap peluang yang muncul dari adanya perubahan – perubahan yang ada di tingkat lokal maupun global. Sebuah pemerintahan yang entrepreneurial harus mampu menterjemahkan peluang tersebut untuk menjadi sebuah gagasan bisnis dan kemudian merealisasikannya untuk menjadi “value-creating activities”, yaitu  penciptaan kemakmuran dan peningkatan kualitas dan taraf hidup masyarakatnya—peningkatan pendapatan bruto per kapita, peningkatan standar kesehatan, peningkatan tingkat pendidikan, dan seterusnya.

Hasil yang dicapai mahasiswa dari perkuliahan mahasiswa di program study masing-masing mencakup teknologi, keterampilan, sikap profesional & budi pekerti.

Ilmu pengetahuan & teknologi akan menghasilkan lulusan yang :

  1. Mengetahui terminologi dasar dari bidang ilmu pada program studinya.
  2. Mengetahui & dapat mengelaborasi konsep, etikan dan dasar hukum dari bidang ilmu pada program studinya,
  3. Mengerti penerapan dari bidang ilmu pada program studinya
  4. Terbiasa dengan penerapan dari ilmu yang terkait.

Bidang ketrampilan akan menghasilkan lulusan yang mampu :

  1. Menulis secara benar & teratur dengan bahasa yang baik.
  2. Berbicara secara jelas & mudah dipahami.
  3. Melakukan pertimbangan & pengambilan keputusan secara mandiri.
  4. Memperoleh informasi secara efisien.
  5. Berfikir kreatif, imaginatif dan dalam bentuk abstrak.
  6. Bekerjasama dengan rekan dan ahli profesi lain di kemudian hari.
  7. menyesuaikan diri dengan perubahan dibidang pengetahuan.

Bidang sikap, budi pekerti & kepribadian akan menghasilkan lulusan yang:

  1. Berpikir secara ilmiah, analitis dan intuitif.
  2. menciptakan dan memahami masalah kemasyarakatan secara moral, ekonomi & politik.
  3. mempunyai budi pekerti yang luhur, dan seimbang secara fisik, mental & spiritual.

Di bidang entrepreneurship, akan menghasilkan lulusan yang:

  1. Memiliki kecakapan untuk menciptakan & mengelola suatu bisnis.
  2. Secara aktif turut serta mengubah dunia menjadi lebih baik dengan mengedepankan inovasi serta peka dalam menjawab kebutuhan sekeliling.