Tidak Setia dalam Pernikahan, Mengapa Bisa Terjadi?

Tidak Setia dalam Pernikahan, Mengapa Bisa Terjadi?

Hubungan di luar pernikahan, atau perselingkuhan, adalah fenomena yang marak terjadi dalam pernikahan. Terlepas dari pelaku perselingkuhan yang menikmati hubungannya di luar pernikahan, perselingkuhan adalah masalah bagi pasangan, keluarga, dan orang-orang sekitar.

Sering kali, perselingkuhan dimulai dari pertemanan. Pertemanan ini dianggap tidak salah dan menjadi salah satu alasan mengapa hubungan di luar pernikahan tetap diteruskan hingga jadi perselingkuhan. Perilaku ini kemudian dipertahankan karena individu mendapatkan perhatian dan pengalaman positif yang tidak ia rasakan dalam pernikahan. Dalam beberapa kasus, ada juga keluarga individu yang mendukung perbuatan selingkuh dan menawarkan “bantuan”. Dukungan ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah ketika keluarganya tidak menyukai pasangan.

Lalu, apa yang sebenarnya menyebabkan seseorang dapat teralihkan dan memulai hubungan yang baru di luar pernikahan? Berikut adalah faktor-faktor yang berkontribusi pada hubungan di luar pernikahan berdasarkan penelitian Zapien (2016).

1.Ketidakpuasan dalam pernikahan

Perselingkuhan dimulai dari dua hal kontras ini. 1) Hubunganku dengan orang lain sangat-sangat baik, 2) Hubungan pernikahanku sangat kontras dengan kehidupan perselingkuhanku. Ada 2 isu penting mengapa ketidakpuasan adalah alasan yang selalu muncul dalam perselingkuhan.

Pertama, bagi individu yang selingkuh, pernikahan dan kehidupan perselingkuhan selalu dilihat sebagai sesuatu yang kontras. Hubungan di luar pernikahan bukan dilihat sebagai “hubungan tambahan” atau “hubungan selain” pernikahan. Dalam artian, hubungan pernikahan dan perselingkuhan tidak mendapatkan nilai yang setara di mata individu tersebut.

Kedua, ketidakpuasan tumbuh seiring dengan perasaan bahwa sudah tidak ada lagi harapan bagi pernikahan individu dan pasangan. Hal ini menutup individu untuk berusaha meningkatkan kualitas pernikahan dan akhirnya membuat pernikahan kehilangan vitalitasnya.

2. Perbedaan nilai gairah romantis/ relasi seksual

Salah satu hal yang sering disebutkan menjadi penyebab perselingkuhan adalah adanya perbedaan gairah dalam pernikahan. Zapien (2016) menyebutkan bahwa individu yang selingkuh sering kali merasa bahwa gairah dan seks adalah hal yang penting dan vital dalam pernikahan. Mereka juga merasa berhak atas kepuasan seksual yang seharusnya mereka dapatkan dari pernikahan. Disatu sisi, mereka menyebutkan bahwa pasangan mereka tidak seromantis yang mereka inginkan. Hal ini membuat individu merasa semakin tidak puas pada pernikahan mereka.

3. Melihat diri sendiri dan pasangan sebagai karakter permanen yang tidak akan dapat berubah

Individu yang membangun hubungan di luar pernikahan biasanya melihat diri sendiri dan pasangan sebagai dua individu berbeda yang tidak dapat berubah. “Aku orangnya seperti ini, dan kamu orangnya seperti itu.” Dalam kasus perselingkuhan, individu melihat kebutuhan yang tidak dapat diubah (gairah, aktivitas seksual yang memuaskan, keinginan untuk dilayani, dll), dan pasangan tidak memiliki kapasitas untuk memberikan apa yang mereka butuhkan. Hal ini kemudian meluas pada bagaimana individu menilai diri sendiri dan pasangan. Diri sendiri dilihat sebagai orang yang baik, dan pasangan dinilai kurang baik karena tidak memiliki keinginan atau gairah yang sama dengannya.

4. Minimnya keinginan/ adanya kegagalan untuk memahami perspektif pasangan

Individu yang membangun hubungan di luar pernikahan biasanya kesulitan untuk memahami perspektif pasangan atas hal vital dalam pernikahan. Contoh, individu merasa bahwa hubungan intim adalah kunci pernikahan. Ketika ia tidak mendapatkan itu dari pasangannya dan malah mendapatkannya dari orang lain, maka individu menjadi kesulitan untuk memahami mengapa pasangan tidak merasakan hal yang sama tentang hubungan intim.

Pemikiran ini juga menjadi tembok pembatas yang menghalangi individu untuk merestorasi hubungan dengan pasangan.

5. Perasaan yang cenderung mempengaruhi penilaian seseorang

Perselingkuhan juga dirasa “terjadi begitu saja”. Sering kali dalam kasus perselingkuhan, individu tidak menyadari bahwa yang ia lakukan adalah perselingkuhan hingga ada pengalaman intim atau seksual dengan orang lain.

Keputusan demi keputusan untuk membangun dan meneruskan hubungan di luar pernikahan diakui sebagai hasil dorongan dari perasaan. Hal ini membuat gap yang lebih besar lagi antara kehidupan pernikahan yang dinilai tidak memuaskan, dan kehidupan perselingkuhan yang malah sebaliknya.

Bagaimana Menyikapi?

Perselingkuhan tentu saja adalah masalah komitmen. Sering kali, baik individu maupun pasangan tidak mengerti bagaimana ia dapat mengkhianati janji pernikahan tanpa mempertimbangkan perasaan pasangan disertai kegagalan menahan diri (Zapien, 2016). Individu dan pasangan bisa muncul dengan berbagai macam alasan penyebab perselingkuhan. Tapi fakta bahwa ketidakpuasan yang dibiarkan mengontrol komitmen pernikahan menunjukan bahwa pernikahan tersebut membutuhkan bantuan. Kegagalan individu untuk menjaga, apalagi mengkhianati komitmen pernikahan dapat melukai dan menumbuhkan masalah yang lebih besar.

Masalah komitmen bukanlah hal yang bisa diselesaikan sendiri. Meskipun kecenderungan budaya kita merasa tabu untuk membahas masalah keluarga, perselingkuhan membutuhkan intervensi sosial. Pasangan tidak hanya perlu untuk mencari bantuan professional, tapi juga lingkungan/ komunitas yang dapat membantu individu mengurangi keinginan membangun hubungan di luar pernikahan.

Referensi
  • Zapien, N. (2016). The beginning of an extra-marital affair: A descriptive phenomenological psychological study and clinical implications. Journal of Phenomenological Psychology47(2), 134-155.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: People photo created by shurkin_son – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed