Pacaran Lama, Sudah Yakin kah Dengan Si Dia?

Pacaran Lama, Sudah Yakin kah Dengan Si Dia?

Salah satu tujuan berpacaran adalah agar siap untuk memasuki jenjang relasi dengan komitmen yang lebih serius, yaitu menikah. Tetapi seringkali biarpun kita sudah berpacaran dengan durasi waktu yang cukup lama, masih muncul keraguan untuk maju ketahapan relasi yang lebih serius dari pacaran. Biasanya beberapa langkah yang muncul dari keraguan ini adalah menunda pernikahan baik dengan cara memperpanjang durasi berpacaran ataupun berhenti berelasi, atau tetap maju kejenjang pernikahan tetapi dengan banyak keraguan dalam pikiran. Pilihan terakhir ini, yaitu tetap menikah walupun penuh dengan keraguan, bisa jadi merupakan langkah yang berbahaya karena akan menjadi sumber konflik di kehidupan pernikahan kelak.

Perlu kita sadari bahwa, walupun dua manusia berusaha bersatu dalam sebuah relasi, baik itu relasi pacaran maupun relasi pernikahan, kita tetaplah manusia yang berbeda. Mungkin sebagian besar sudah mengetahui bahwa masing-masing kita memiliki perbedaan, tetapi hanya sedikit yang menganggap bahwa perbedaan itu harus dikelola. Setiap individu memiliki latar belakangnya masing-masing, baik itu latar belakang secara pendidikan, status sosial ekonomi, kebuadayaan dan banyak hal yang lain. Latar belakang itu akan membuat seseorang punya harapan, ketakutan, kelemahan dan kekuatannya masing-masing. Hal yang sering dilupakan adalah, masing-masing individu, biarpun sudah berada dalam sebuah relasi, baik itu relasi berpacaran maupun pernikahan, tetap membawa hal-hal ini. Penyesuian antara individu menjadi kunci yang penting supaya relasi yang penuh dengan perbedaan ini tetap bisa berjalan dengan baik.

Berdasarkan hal tersebut, yaitu perbedaan yang tidak bisa dihilangkan, ada baiknya juga kita untuk bisa berstrategi dalam pemilihan pasangan untuk ke jenjang yang lebih serius, baik itu dari masa sebelum berpacaran maupun ketika berpacaran. Murstein (1987) mengusulkan sebuah teori tentang pemilihan pasangan yang sering kali disebut dengan The Stimulus-Value-Role Theory, atau seringkali disingkat dengan SVR Theory. Teori ini akan membantu kita dalam mengisi masa-masa perkenalan kita sehingga diharapkan membantu dalam pengambilan keputusan untuk ke jenjang yang lebih serius.

  • Stimulus
    Ketika kita masih belum memiliki relasi tertentu, stimulus menjadi sebuah kunci agar sebuah relasi bisa tercipta. Stimulus merupakan apa yang kita tunjukan ke publik sehingga orang lain bisa menangkap keberadaan dan bahkan tertarik dengan diri kita. Stimulus dalam hal ini bisa berupa apapun, sesuai dengan bidang atau minat yang kita sukai dan kembangkan. Berdasarkan konsep ini, kunci pertama seseorang bisa memiliki pasangan adalah terus mengembangkan diri sehingga menjadi pribadi yang semakin menarik dalam hal tertentu. Contohnya adalah, jika kita memang seorang yag menyukai hobi tertentu terus kembangakan sehingga bisa jadi melalui hal itu, orang lain akan tertarik dengan diri kita. Selain mengembangkan diri, penting juga untuk tetap terbuka mengungkap diri ke orang lain, sehingga kemampuan kita bukan hanya untuk kita simpan sendiri.
  • Value Complementary
    Ketika fase stimulus selesai, atau biasanya sudah berada tahapan pacaran di masa-masa awal, mereka mulai membandingkan nilai-nilai yang mereka punya seperti kepercayaan, nilai-nilai hidup, bagaimana memaknai uang, gaya hidup, dan sebagainya. Hal ini yang seharusnya dibicarakan ketika pasangan berada dalam masa-masa perkenalan ataupun pacaran. Bisa jadi dengan membicarakan hal ini, pasangan merasa ada perbedaan yang terlalu besar di antara mereka. Tetapi justru semakin awal kita menyadari ada perbedaan nilai-nilai tertentu diantara pasangan akan membuat relasi ini menjadi semakin kuat. Hal yang seringkali menjadi sumber permasalahan adalah, ketika berada dalam masa pacaran, waktu dihabiskan untuk hal-hal yang bersifat romantic dan menyenangkan saja sehingga melewatkan membicarakan hal-hal yang bersifat prinsip.
  • Role Complementary
    Seringkali dalam sebuah relasi pernikahan, peran dari masing-masing individu dibangun berdasarkan peran yang bersifat tradisional. Ayah keluar bekerja, mencari nafkah sedangkan urusan domestic seperti mengurus anak, membersihkan rumah dan memasak menjadi tanggung jawab dari Ibu. Tidak ada yang salah dalam hal ini, tetapi akan menjadi masalah ketika peran tradisional ini hanya bersifat kewajiban semata tanpa kita menghidupinya. Karena itu, sebaiknya pembagian peran ini juga memasukan unsur nilai, kompetensi dan minat juga. Semisal, seorang wanita tidak ingin mejadi ibu rumah tangga penuh waktu, tetapi juga ingin bekerja. Ada baiknya hal seperti ini dibicarakan ketika dalam masa-masa pacaran sehingga bisa terjadi diskusi dengan pasangannya. Atau sebaliknya bisa jadi seorang pria menyukai memasak sehingga peran memasak dirumah dikerjakan oleh seorang ayah. Akan menjadi masalah ketika ketidakcocokan peran ini dibawa terus sampai ke pernikahan dan menimbulkan konflik yang berkepanjangan.

Teori ini bisa dipakai untuk pasangan memiliki keyakinan maju ke jenjang relasi yang lebih serius, yaitu pernikahan. Sebaliknya dengan mempertimbangkan hal ini, pasangan juga bisa merasa tidak bisa maju ke jenjang berikutnya karena tidak terjadi kesepakatan yang diharapkan. Tetapi dengan kita memahami segala perbedaan yang ada pada masing-masing individu, diharapkan sebuah relasi akan menjadi lebih kuat.

Ditulis oleh: Ersa L. Sanjaya, S.Psi., M.Si.
Sumber gambar: Wedding photo created by jcomp – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed