Merawat Anggota Keluarga yang Sakit Kritis, apa yang Dialami Keluarga?

Merawat Anggota Keluarga yang Sakit Kritis, apa yang Dialami Keluarga?

Memiliki anggota keluarga yang sakit tidaklah mudah, apalagi ketika anggota keluarga diperhadapkan pada resiko kematian. Selain rasa cemas dan kesedihan, keluarga bisa diliputi oleh prediksi-prediksi negatif yang mematikan semangat dan harapan.

Keluarga yang memiliki anggota sakit kritis menjadi lebih sensitif pada perkataan dan gerakan tubuh, membuat mereka mudah stress dan overthinking. Sebagai teman ataupun bagian dari keluarga besar, kita mungkin sering menghadapi kesulitan memilih kata-kata atau menentukan perlakuan yang tepat untuk mendukung mereka.

Sebenarnya, apa sih yang sedang dialami oleh keluarga ketika ada anggota keluarga yang sakit kritis?

Bertambahnya tanggung jawab
  1. Keluarga sebagai yang orang kunci untuk mengatur dan mengambil keputusan
    Dalam hal ini, terkadang keluarga diperhadapkan pada pilihan yang harus mereka ambil seputar anggota keluarga yang sakit (seperti keputusan untuk operasi, penggunaan alat bantu, dll). Ini bukanlah keputusan yang mudah. Keluarga memiliki banyak pertimbangan seperti nyawa, keuangan, rasa sakit yang akan diderita, serta dampak keputusan untuk anggota keluarga inti dan besar lainnya.

    Keluarga juga terbeban untuk menjadi organizer guna menyeimbangkan kerja, tugas rumah tangga, dan kebutuhan untuk perawatan anggota yang sakit. Tentu saja ini adalah tantangan bagi keluarga karena harus menyesuaikan banyak hal (rutinitas, management keuangan, pembagian tugas dan waktu, dll). Tidak jarang, keluarga mengambil cuti atau berhenti dari pekerjaan untuk fokus merawat anggota yang sakit.
  2. Keluarga jadi waspada setiap waktu
    Karena merawat anggota keluarga yang sedang sakit kritis, keluarga jadi lebih waspada. Mereka membuat diri menjadi sensitif pada tanda-tanda apabila anggota yang sakit membutuhkan bantuan, atau menunjukan kondisi yang menurun. Keluarga mungkin tidak mendapatkan istirahat yang cukup atau menjadi restless karena harus siaga.
  3. Tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik
    Satu hal lain yang akan menjadi sulit bagi keluarga adalah penyesalan. Hal ini mendorong keluarga untuk memberikan yang terbaik untuk merawat anggota yang sakit. Untuk melakukan itu, keluarga melakukan penyesuaian prioritas. Merawat anggota keluarga yang sakit akan diutamakan, sedangkan hal-hal lain mungkin turun dari peringkat prioritas.
  4. Kecemasan: Apakah aku merawat dengan cukup baik?
    Keluarga juga bisa menjadi cemas dan menyalahkan diri sendiri. Hal ini bisa terjadi ketika kondisi anggota keluarga yang sakit tidak membaik. Keluarga bisa saja berpikir jika saja memiliki uang lebih, atau jika saja tidak tertidur saat anggota yang sakit butuh bantuan, jika saja ia bisa membeli obat yang mahal, jika saja ia tidak terlambat, dll.

    Ketika ada anggota yang sakit, keluarga menjadi merasa bertanggung jawab untuk merawat dan melibatkan bantuan professional. Oleh sebab itu, mendukung mereka dalam keputusan yang akan diambil, membantu mengarahkan pada professional, dan menasehati dengan lembut akan membantu mereka.

    Ubahlah kata-kata “Loh, kok begitu?” menjadi “Oh, apa pertimbangannya mengambil keputusan itu?”; “Yakin pasti bisa?” menjadi “Baik, kabari saja jika tidak berhasil dan membutuhkan pilihan yang lain”; “Seharusnya kan yang ini dulu diselesaikan” menjadi “Aku bisa membantumu melakukan hal ini, dan kamu bisa fokus pada hal lain. Bagaimana?”
Ada perasaan terisolasi

Keluarga juga beresiko mengalami perasaan terisolasi. Perasaan “berjuang sendiri” bisa muncul ketika keluarga kesulitan mendapatkan bantuan professional, atau ketika tidak mendapat social support yang bisa memahami apa yang mereka rasakan. Sering kali sebagai pihak luar (pihak keluarga inti) tidak dapat memahami 100% pertimbangan dari keputusan mereka. Kita juga sulit untuk mengerti kecemasan mereka karena kita tidak berada dalam posisi mereka.

Oleh sebab itu, hindari mengeluarkan judgement yang berasal dari pengalaman pribadi untuk menggambarkan apa yang mereka rasakan. Hindari nada seolah-olah kita lebih tahu dan mereka butuh untuk tahu dari kita. Ubah kata-kata “Udahlah, pasti bisa kok. Aku pernah mengalami juga, kalau aku bisa kamu pasti bisa” menjadi “Dulu berdasarkan pengalamanku, aku mencoba cara ini dan berhasil Mungkin bisa kamu coba juga”.

Menghadapi resiko kematian

Pertemuan dengan resiko kematian secara terus menerus merubah cara pandang dan kesiapan akan menghadapi kematian. Hal ini membuat keluarga harus dihadapkan dengan rasa duka.

  1. Mengetahui tapi tidak mengetahui
    Ada kesenjangan antara apa yang diketahui oleh profesional dan apa yang keluarga rasakan tentang resiko kematian. Dalam hal ini, meskipun kondisi vital anggota yang sakit dan prediksi professional buruk, keluarga masih bisa berpegang pada harapan akan kesembuhan, sekecil apapun itu.
  2. Memikirkan tentang kematian anggota keluarga dan diri sendiri
    Seringkali pemikiran bahwa anggota keluarga yang sakit akan meninggal membuat keluarga kaget dan sedih. Hal ini membuat mereka berduka walaupun kematian belum terjadi. Keluarga juga akhirnya cenderung memikirkan makna kematian untuk diri mereka sendiri.

    Sering kali, sebagai upaya untuk membuat keluarga kuat menghadapi kematian, kita membuat mereka berhadapan dengan “realita” secepat mungkin. Dalam artian, kita membuat mereka tidak berharap tinggi pada kelangsungan hidup anggota yang sakit. Kita mungkin berkata “Sudahlah, relakan saja” atau “Tidak ada harapan. Persiapkan saja dirimu”.

    Memang, harapan yang tidak sehat membuat keluarga lebih sulit menerima kematian, dan kemudian membuat mereka lebih tertekan jika dibandingkan dengan tidak berharap.

    Keluarga yang mengalami rasa duka seringkali membutuhkan dukungan emosional. Terlepas dari semua prediksi negatif, keluarga berpegang pada harapan akan kesembuhan dan keberlangsungan hidup anggota yang sedang sakit. Hal ini menunjukan bahwa harapan adalah hal yang penting untuk mereka. Memotong harapan tersebut tanpa adanya konsiderasi akan membuat keluarga merasa tidak dimengerti. Sebagai social support, kita perlu membantu dengan mengarahkan mereka untuk memiliki pengharapan yang sehat dan realistis. Contoh, bagi keluarga yang religious, harapan akan kesembuhan mungkin diletakkan pada mujizat Tuhan. Pemahaman/ perspektif keluarga atas otoritas Tuhan dalam menyembuhkan menjadi kunci untuk menentukan sehat tidaknya harapan yang mereka miliki.
Memaknai situasi

Memiliki anggota keluarga yang sakit bukanlah tantangan yang menyenangkan. Tapi bagaimana keluarga memaknai situasi ini membuat mereka mampu bertahan dan bersikap positif.

  1. Melakukan hal baik untuk anggota keluarga yang sakit
    Keluarga melihat usaha dan tantangan yang mereka hadapi untuk merawat anggota keluarga worth it untuk dilakukan ketika mereka mengingat kembali apa yang sudah anggota keluarga tersebut lakukan untuk mereka.
  2. Agama
    Keluarga memikirkan makna kematian dan kehidupan setelah kematian berdasarkan apa yang mereka percayai. Bahwa ketika anggota keluarga yang sakit meninggal dan masuk ke surga, maka anggota keluarga tersebut akan bahagia dan tidak sakit lagi.
  3. Keintiman
    Resiko kematian membuat keluarga lebih menghargai waktu bersama. Mengetahui bahwa hari-hari kebersamaan mereka tidak banyak, keluarga akan mengusahakan waktu berkualitas bersama. Ini juga adalah kesempatan untuk memperbaiki relasi dan meningkatkan kehangatan.
  4. Penerimaan dan ucapan syukur
    Tidak ada anggota keluarga yang sempurna, dan sering kali hal ini menjadi konflik dalam keluarga. Tapi ketika dibandingkan dengan kematian, maka ketidaksempurnaan itu tidak ada apa-apanya. Hidup anggota keluarga menjadi lebih berharga daripada memusingkan tentang apa yang bisa dan tidak bisa mereka lakukan.

    Keluarga juga lebih menghargai hal-hal sederhana yang biasanya dianggap remeh. Contoh, dibuatkan teh oleh ibu saat bekerja. Memang terkesan sederhana. Tapi pemikiran bahwa sang ibu sedang sakit dan memiliki resiko meninggal membuat gesture membuat teh menjadi hal yang berharga.

    Sebagai social support (baik teman ataupun keluarga), kita perlu membantu keluarga untuk mengambil makna dari peristiwa ini. Makna sangatlah penting agar keluarga menyadari bahwa energi dan emosi yang mereka tuangkan tidak akan terbuang sia-sia.
Referensi
  • Totman, J., Pistrang, N., Smith, S., Hennessey, S., & Martin, J. (2015). ‘You only have one chance to get it right’: A qualitative study of relatives’ experiences of caring at home for a family member with terminal cancer. Palliative medicine29(6), 496-507.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar:

1 Comment. Leave new

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed