Mengenal Languishing: Ketika Hidup Menjadi Hampa, Kehilangan Arah, dan Tidak Bermakna

Setiap kita tentunya memiliki target dan tujuan dalam hidup, namun ada kalanya kita tidak bisa mencapai perencanaan dan target yang kita buat sebelumnya. Ketidakpastian hidup nyatanya membuat remaja dan generasi muda merasa takut dan cemas terhadap hidupnya sendiri. Hari-hari dipenuhi rasa bimbang dan pertanyaan: masa depan ku bagaimana ya? Akankah aku menjadi orang yang sukses? Jalan mana yang harusnya aku pilih? Benarkah pilihan ini yang terbaik untuk ku? Ke mana hidup ini akan membawa ku?.

Hari depan yang dulunya nampak terang, kini menjadi abu-abu dan jauh dari harapan. Hidup terasa kian sulit sehingga tidak dapat menikmati hidup. Perasaan seperti hampa, kehilangan semangat dalam bekerja, kegembiraan dan sukacita mulai sirnah. Setiap aktivitas mulai kehilangan makna dan hidup perlahan-lahan mulai tidak terarah.

Pernahkah anda mengalami hal itu? Jika ya, bisa jadi anda mengalami languishing.

Apa itu Languishing?

Konsep languishing pertama kali diperkenalkan oleh Corey Keys pada tahun 2002. Dalam bahasa Indonesia, Languishing berarti mendekam atau kegagalan untuk membuat kemajuan. Languishing dapat dideskripsikan sebagai kurangnya arah, menjadi apatis, dan mengalami stagnasi sehingga anda tidak dapat memberikan usaha dan penampilan terbaik sesuai dengan kapasitas yang anda miliki. Sejak merebaknya pandemi COVID-19 di dunia, termasuk Indonesia, fenomena languishing kembali menjadi sorotan dan perhatian dalam ranah kesehatan mental. Seseorang yang mengalami languishing cenderung sulit merasakan emosi positif dalam hidupnya. Sebaliknya, fenomena ini menyebabkan seseorang mudah merasa hampa dan bingung dengan emosinya sendiri.

Apa saja Tanda-Tanda Anda Sedang Mengalami Languishing?

Berikut merupakan tanda-tanda jika anda sedang mengalami languishing:

  • Perasaan kosong dan hampa ketika melakukan berbagai aktivitas
  • Tidak tertarik untuk melakukan berbagai aktivitas
  • Motivasi menurun
  • Kurangnya semangat untuk bekerja
  • Mudah kehilangan fokus
  • Menarik diri (mengisolasi diri) atau memisahkan diri
  • Mudah merasa gelisah

Apakah Languishing Termasuk Gangguan Mental?

Languishing dapat menghambat dan mengganggu rutinitas dan kehidupan seseorang, namun languishing tidak dapat dikategorikan sebagai gangguan mental. Berbeda dengan gangguan mental seperti depresi, PTSD, dan berbagai gangguan mental lainnya yang dapat terdiagnosis oleh Psikolog atau Psikiater, languishing merupakan kurangnya kesehatan dan kesejahteraan mental secara umum. Secara umum, fenomena languishing memiliki keterkaitan dengan gangguan mental jika kondisi ini dibiarkan begitu saja. Berada dalam kondisi ini secara terus menerus, menyebabkan seseorang rentan mengalami gangguan mental, terutama ketika menghadapi kehidupan yang menantang dan pengalaman negatif secara terus menerus.  

Apa yang bisa Anda Lakukan?

  • Mindfulness – membantu anda untuk fokus pada aktivitas dan apa yang sedang terjadi pada diri dan tubuh anda saat ini.
  • Journaling  – melalui tulisan, anda dapat menyalurkan dan mengekspresikan berbagai emosi yang anda rasakan, yang mungkin tidak dapat tersampaikan secara langsung kepada orang-orang yang bersangkutan.
  • Membangun support system yang positif – memiliki lingkungan yang positif dapat membantu anda memiliki penilaian yang lebih positif terhadap hidup. Tentunya keluarga memiliki peran penting sebagai support system bagi setiap anggotanya.
  • Menambah wawasan dan skill baru
  • Menghubungi profesional – jika diperlukan dan bila sangat menghambat aktivitas anda, anda dapat segera menghubungi ahli atau tenaga profesional seperti psikolog atau pskiater untuk segera mendapat pertolongan yang tepat.

Jika Anda, saudara, atau kenalan anda sedang mengalami languishing dan ingin konsultasi dengan ahli profesional, anda dapat berkonsultasi dengan psikolog profesional di Universitas Ciputra Center for Marriages and Families.

karena kesehatan mental adalah hal yang penting dan utama, jadi tunggu apa lagi?

Referensi:

Corey L. M. Keyes. (2002). The Mental Health Continuum: From Languishing to Flourishing in Life. Journal of Health and Social Behavior, 43(2), 207–222. https://doi.org/10.2307/3090197

Grant, A. (2021). Feeling blah during the pandemic? It’s called languishing. The New York Times. Retrieved from: https://www.nytimes.com/2021/04/19/well/mind/covid-mental-health-languishing.html

Ditulis oleh: Jessica Christina Widhigdo, S.Psi., M.Psi., Psikolog

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/nwWUBsW6ud4

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed