Menang Melawan Stress Sebagai Satu Keluarga

Pandemi yang saat ini sedang menimpa seluruh dunia telah menyebabkan banyak kegelisahan. Saat kita tidak lagi khawatir mengenai penularan, kita diperhadapkan dengan masalah sehari-hari saat harus tinggal di rumah, yaitu keluarga. Dulu kita mungkin terbiasa untuk menghadapi masalah kita sendiri-sendiri, namun kali ini pandemi membuat kita harus bisa menghadapinya sebagai keluarga. Hal ini membuat kita tidak lagi berbicara mengenai kekuatan kita secara personal, namun bagaimana keluarga bisa kuat sebagai satu kesatuan.

DeFrain mengatakan bahwa setiap masalah lahir dan kembali pada keluarga. Hal ini dikarenakan masalah yang menimbulkan stress bagi individu dapat berdampak bagi keluarga, begitu pun sebaliknya.

Saat kita berbicara mengenai tekanan yang dihadapi keluarga, kita perlu menanamkan perspektif bahwa saat ini kita tidak sedang berperang melawan anggota keluarga yang lain. Kita tidak sedang berusaha membuktikan siapa yang benar dan menyalahkan anggota yang kita anggap salah. Karena kalau demikian, kita akan kehilangan fokus dan gagal menyelesaikan masalah yang sebenarnya.

Burr & Klein (1994) mengatakan ada 3 area yang dapat dilatih oleh keluarga untuk menghadapi stress:

1.      Area kognitif

Sering kali saat menghadapi tekanan, kita menjadi gelap mata. Tekanan bisa membuat kita gagal untuk melihat sumber utama dari tekanan tersebut. Sebagai contoh, saat keluarga sedang dilanda masalah ekonomi, masalah utamanya adalah kurangnya pemasukan. Namun sering kali dalam prakteknya, anggota keluarga bisa cenderung menyalahkan sosok ayah yang dirasa bertanggung jawab untuk menafkahi keluarga. Kesalahan fokus ini membuat beban kerja ayah menjadi semakin meningkat, kegagalan melihat dukungan dari keluarga, dan tidak menyelesaikan masalah.

Keluarga perlu mendefinisikan dan mencari tahu lebih banyak tentang sumber tekanan yang sesungguhnya. Dengan demikian, keluarga bisa memahami situasi secara objektif, menyeluruh dan menemukan solusi yang lebih efisien. Jika masalah utama dari keluarga adalah kurangnya pemasukan, maka berdasarkan kesepakatan, keluarga dapat mengurangi pengeluaran dengan berhemat, atau anggota keluarga bisa mulai membantu ayah mencari nafkah.

2.      Area afektif (emosi)

Salah satu fungsi penting dalam keluarga adalah memberikan rasa aman bagi anggota keluarga. Anggota keluarga tidak akan dapat menghadapi tekanan dengan optimal bila “tim” yang seharusnya berjuang bersamanya malah membuatnya tidak aman. Oleh sebab itu, keluarga harus mampu mendeteksi, menerima dan memberikan solusi pada emosi yang dirasakan oleh masing-masing anggota keluarga.

Terkadang, kita secara otomatis melabel orang-orang yang mengekspresikan kesedihan (seperti menangis, menutup diri, dll) sebagai individu yang lemah. Stigma ini akhirnya membuat banyak dari kita menyimpan emosi negatif dan tidak mengeluarkannya. Sebelum menghadapi tekanan dari luar, anggota keluarga perlu yakin bahwa ia dapat mengekspresikan apa yang ia rasakan tanpa dihakimi oleh anggota keluarga yang lain. Dengan semikian, individu mampu untuk menjadi diri sendiri, tidak harus selalu was-was, dan tidak mudah kehabisan energi.

Selain itu, anggota keluarga juga perlu belajar untuk peka pada emosi yang dirasakan oleh anggota keluarga yang lain. Kepekaan pada emosi memampukan keluarga untuk menunjukan simpati, dukungan dan membantu anggota keluarga yang membutuhkan. Keberhasilan keluarga untuk mendukung dan memberikan lingkungan yang aman untuk emosi akan meningkatkan self-esteem keluarga dalam menyelesaikan masalah bersama-sama.

3.      Area hubungan

Agar dapat menghadapi masalah bersama-sama, keluarga perlu untuk bersatu dan mempererat hubungan. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun visi dan identitas keluarga—mencakup nilai-nilai, budaya, prinsip. Dengan adanya visi bersama, keluarga dapat menetapkan langkah-langkah kedepan dan mulai membangun kembali batasan-batasan yang diperlukan. Sebagai contoh, saat keluarga sepakat bahwa mereka mau membangun bisnis yang baru setelah masa pandemi dan akan membutuhkan banyak modal, keluarga dapat menetapkan batasan pengeluaran dan mendorong anggota keluarga lain untuk terlibat dalam merumuskan konsep bisnisnya. Sesuatu yang bersifat kebersamaan mampu meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki sebagai keluarga.

Kunci penting dalam hubungan yang berhasil adalah rasa percaya dan kerjasama. Tanpa rasa percaya, setiap anggota keluarga akan berjalan di atas keragu-raguan. Saat ada masalah atau goncangan selama prosesnya, hubungan tersebut dapat retak karena adanya saling menyalahkan. Kemudian, kerjasama dibutuhkan agar anggota keluarga berkomitmen serta saling mendukung untuk pencapaian visi keluarga.

Referensi
  • Burr, W. R., & Klein, S. (1994). Managing family stress.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: pressfoto from Frepik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed