Memahami Fase ‘Emo’ pada Remaja

Sumber gambar: https://sayingimages.com/wp-content/uploads/family-have-one-memes.jpg

Masih ingatkah Anda dengan My Chemical Romance dan Panic! At The Disco yang sempat jaya pada masanya? Band-band ini dikenal dengan irama lagu-lagunya yang ‘keras’ namun lirik yang melankolis. Jika Anda tidak menikmati musiknya, namun setidaknya Anda pasti pernah melihat bagaimana penampilan para member band-nya yang tergolong nyentrik dan suram, juga dikenal sebagai gaya ‘emo’. Anda pasti pernah memiliki adik, sepupu, atau anak remaja yang tengah menggandrungi gaya ini. Apabila Anda lahir tahun 90an, mungkin justru Anda sendiri juga pernah mengalami fase emo ketika remaja?

Mengenal fenomena ‘emo’

Secara garis besar, emo adalah suatu sub-budaya punk-rock yang dipopulerkan di belahan bumi Barat seperti Amerika dan Inggris sejak tahun 80an dan di Rusia pada tahun 90an. Munculnya seniman-seniman musik yang tidak konvensional pada masanya membuka jalan bagi berbagai band yang kita kenal seperti My Chemical Romance untuk menembus pasar masyarakat mainstream. Emo (emotional) mengadopsi fesyen, genre musik, dan gaya hidup yang spesifik. Emo sering dikaitkan dengan karakter penuh kesedihan, internalisasi kemarahan terhadap dunia dan diri sendiri, pasif-agresif, dan haus perhatian; namun tidak ada penelitian yang membuktikan kebasahan generalisasi ini terhadap kelompok emo. Bahkan, justru remaja emo cenderung sensitif, pencemas, dan memiliki kepribadian introvert (Munteanu, et al., 2011). Fase emo biasanya muncul pada remaja antara usia 13-19 tahun dengan karakteristik dominan sebagai berikut:

  • Merasa tidak ada orang lain yang memahami
  • Lebih senang menyendiri, kontak mata terbatas
  • Kecenderungan untuk menjadikan diri ‘korban’ atas keadaan
  • Pikiran atau perilaku ekstrem untuk melukai diri sendiri, bunuh diri

Penelitian Monteanu et al. juga menerangkan bahwa remaja dalam fase emo merasa lebih sedih dan depresi daripada remaja yang tidak berada dalam fase ini. Memiliki karakteristik di atas seakan menjadi prasyarat untuk dianggap menjadi bagian dari budaya emo. Terlepas dari kepopulerannya, tidak semua remaja melalui fase ini. Belum ada penelitian yang menyajikan prevalensi remaja emo di Indonesia, namun biasanya fenomena ini lebih sering dijumpai di kota-kota besar dan sekitarnya dimana remaja memiliki akses ke media massa seperti televisi dan internet. Lamanya fase emo dialami secara bervariasi oleh masing-masing remaja, biasanya beberapa bulan hingga ketika mereka memasuki awal usia 20an (dewasa awal).

Apakah anak saya termasuk emo?

Sebagai orang tua mungkin Anda masih kurang yakin apakah anak remaja Anda sedang berada di fase emo atau tidak. Cara yang paling mudah (namun tidak absolut) untuk mengetahuinya adalah melalui eksterior atau penampilan. Karakteristik fisik yang umumnya terlihat dari remaja emo, adalah sebagai berikut:

  • Lebih menyukai pakaian hitam dan berwarna gelap, misalnya kaos band.
  • Aksesoris yang berbentuk spikes (duri), buckles (gesper), dan chains (rantai).
  • Piercing (tindik) dan tato.
  • Rambut hitam pekat (highlight dengan warna terang dan rambut menutupi setidaknya satu mata bersifat opsional).
  • Riasan dramatis, biasanya kulit pucat dengan eyeliner berwarna gelap.

Selain karakteristik fisik, beberapa stereotip remaja yang biasanya kurang diperhatikan (Dundon, 2006) juga bisa diobservasi pada anak remaja Anda. Apakah mereka:

Kevin Aprilio dari band Vierra adalah salah satu ikon remaja emo lokal hingga akhir tahun 2010an.

Sumber gambar: https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/700×465/photo/haifoto/original/51695_kevin-vierra-garap-lagi-aprilio-story.jpg
  • Memiliki mood berubah-ubah
  • Sulit berkomunikasi
  • Memberontak
  • Berkonflik dalam hubungan
  • Mengalami kesalahpahaman

Penyebab seorang remaja menjadi emo

Jangan begini ya, parents!

Sumber gambar: https://www.groupteamnames.com/wp-content/uploads/2020/09/family-meme.jpg

Menurut Aaron, et al. (1999), trauma yang belum diselesaikan bisa menyebabkan stres pada anak. Trauma tidak selalu harus mengalami suatu kejadian ‘traumatis’ berunsur kriminal seperti persepsi masyarakat umum, namun diabaikan orang tua dan mengalami perundungan secara konstan baik di lingkungan sekolah maupun di rumah juga bisa membentuk trauma pada anak. Menjadi emo adalah salah satu bentuk mekanisme koping pada remaja atas stres yang dialami, karena merasa tidak ada yang memahami sehingga lebih senang menyendiri–sejalan dengan pernyataan Munteanu, et al. sebelumnya.

Mungkin Anda menjadi cemas dan khawatir apakah anak Anda pernah mengalami trauma? Tenang, ayah-bunda, trauma bukan satu-satunya penyebab remaja menjadi emo. Anak Anda mungkin tidak memiliki trauma, tapi hanya ingin untuk diterima oleh lingkungan pertemanannya sehingga mengadopsi tren ini. Remaja memiliki keinginan yang tinggi untuk menjadi bagian dari sesuatu yang ‘keren’ dan ini adalah perilaku remaja yang normal. Alasan lain remaja menjadi emo adalah karena ini termasuk bagian dari mencari jati diri yang menjadi tugas perkembangan usia remaja, sehingga ini menjadi sebuah fase yang harus dilewati.

Evolusi budaya emo

Sejak tahun 2010an, budaya emo telah berevolusi sejalan dengan perkembangan teknologi informasi. Istilah e-boy, e-girl (electronic boy – electronic girl) atau dikenal juga dengan e-kids adalah gelombang baru budaya emo di tengah peningkatan penggunaan gadget dan kemudahan akses internet oleh para remaja. Kepopuleran TikTok turut menyumbang kontribusi terbentuknya budaya ini. Esensi e-kids masih sama seperti emo, dengan musik ‘sad boy’ yang berfokus pada kesedihan dan beban mental, misalnya genre emo rap. E-kids mengadopsi gaya dan budaya yang lebih mainstream, walau masih terdapat unsur gaya emo yang identik dengan pakaian gelap dan aksesoris rantai. Pengaruh trend k-pop juga bisa ditemukan dalam sub-budaya e-kids sehingga menggeser tren emo sebelumnya yang terkesan lebih frontal. 

Menyikapi remaja dalam fase emo

Ketika remaja berada di fase emo, mungkin Anda akan merasa terasingkan dan ‘jauh’ dari anak sendiri karena Anda mungkin belum memahami perubahan-perubahan yang tengah dihadapi. Peverley (2021) menerangkan beberapa upaya yang bisa dilakukan orang tua untuk menyikapi remaja emo, sebagai berikut:

  • Pelajari dan tunjukkan ketertarikan. Langkah pertama, Anda bisa mencari tahu seputar budaya emo di internet, seperti sejarah, tokoh-tokoh populer, dan informasi lainnya. Langkah selanjutnya adalah membangun percakapan dengan anak remaja Anda dan jadikan itu sebagai kesempatan untuk lebih mengenal tentang budaya emo, misalnya seputar musik dan band yang familiar di kalangan emo. Tanyakan pada anak dari mana ia mengenal tentang emo dan mengapa ia menyukainya? Selain itu, Anda bisa mendengarkan lagu-lagu tersebut, mungkin Anda akan dapati budaya emo tidak seperti yang dibayangkan.
  • Hindari berkomentar tentang penampilan atau gaya mereka. Remaja yang sedang mencari jati diri cenderung sensitif apabila mendapat komentar tentang penampilan mereka. Berikan ruang aman bagi anak remaja Anda untuk bereksplorasi dan mengekspresikan diri secara kreatif.
  • Bersikap bijaksana. Anak emo sama seperti grup-grup lainnya di kalangan anak muda, misalnya anak atlet, anak teater, anak band, dan sebagainya. Budaya emo tidak begitu diterima masyarakat karena impresinya yang kuat dan cenderung mengintimidasi, sehingga melahirkan miskonsepsi seperti pemakaian obat-obatan terlarang, gangguan makan, dan tindak kekerasan. Namun perlu diketahui bahwa hal-hal tersebut tidak terbukti dan memberi stereotip secara tidak adil tidak akan membantu anak remaja Anda. Kenakalan remaja bisa terjadi di kelompok anak muda lainnya, tidak hanya di kalangan emo saja.

Sebagai orang tua, tentu Anda akan merasa was-was apabila anak Anda terlibat dalam tren yang membahayakan dirinya. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua remaja emo ingin melukai atau membunuh diri, hanya pada kasus yang ekstrem saja. Apabila anak menunjukkan perilaku ekstrem, sebaiknya bangun komunikasi yang sehat dan hindari menghardik mereka karena justru akan memperkeruh relasi. Anda juga bisa  menghubungi bantuan profesional, seperti konselor remaja, psikolog atau psikiater yang kompeten untuk mengatasi pergumulan anak. Layaknya menjaga dan mengobati sakit fisik, mari normalisasi mendapat bantuan dari praktisi kesehatan mental apabila dibutuhkan, terutama jika sudah menyangkut kesehatan mental anak.

Sebaliknya, apabila anak Anda tidak menunjukkan perilaku ekstrem, maka tidak ada alasan bagi orang tua untuk ‘memusuhi’ tren emo. Sebagai orang tua, idealnya Anda yang paling mengenal anak Anda. Hal terpenting adalah sebagai orang tua kita senantiasa belajar, membuka diri dan pahami apa yang sedang digandrungi anak kita dan me-manage resikonya.

Demikian informasi seputar fase emo pada remaja. Apakah Anda sudah pernah tahu tentang fenomena emo sebelumnya? Bagaimana opini Anda terhadap budaya emo? Apakah berubah karena insight dari artikel ini? Semoga bermanfaat, ya, untuk lebih memahami anak remaja Anda!

Referensi:
  • Aaron, J., Zaglul, H., & Emery, R. E. (1999). Posttraumatic stress in children following acute physical injury. Journal of pediatric psychology, 24(4), 335-343.
  • Dundon, E. E. (2006). Adolescent depression: A metasynthesis. Journal of Pediatric Health Care, 20(6), 384-392.
  • Hasenoehrl, C. (2022). Emo to E-Boy: The Evolution of A Subculture. University of Rochester NY Campus Times. Diakses dari http://www.campustimes.org/2022/01/23/emo-to-e-boy-the-evolution-of-a-subculture/
  • Munteanu, A., Costea, I., Palos, R., Jinaru, A., Dragomir, G. M. (2011). Emo phenomenon – An actual problem in adolescence. Prodia Social and Behavioral Sciences, 15, 1611-1615.
  • Peverley, E. (2021). How Parents Can Empathize with Their Emo Teen. Diakses dari https://www.moms.com/parenting-emo-teen/

Ditulis oleh: Verawaty, Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas CIputra Surabaya angkatan 2018
Sumber gambar: Vintage photo created by freepic.diller – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed