Kunci Menyelesaikan Masalah dengan Pasangan secara Baik-Baik

Ketika kita memasuki masa pacaran atau pun menikah, kita mengambil satu langkah maju untuk mengenal pasangan kita dengan lebih baik. Ada beberapa karakter, sikap, dan perilaku yang sebelumnya tidak terlihat, kini perlahan-lahan mulai nampak. Dalam proses pengenalan yang lebih dalam ini, kita bisa menemukan hal-hal baru yang menarik, menyenangkan, dan juga menyebalkan tentang pasangan kita.

Selain informasi-informasi baru terkait pasangan yang kita dapatkan, kita juga tanpa sadar, membentuk batasan dan peraturan-peraturan baru untuk hubungan ini. Contoh dalam kasus berpacaran, ketika masih teman, kita mungkin tidak terlalu memusingkan dengan siapa dia akan pergi. Tapi ketika sudah menjadi pacar, kita jadi lebih ‘kepo’ kapan, kemana, dan dengan siapa pasangan kita pergi.

Perubahan-perubahan ketika memasuki tahap relasi yang baru ini tidak hanya terjadi pada kita saja. Kenyataannya, pasangan kita pun mengalami hal yang sama dengan proses pengolahan informasi yang berbeda.

Ketika pasangan mengalami konflik, ada beberapa hal yang biasanya dilakukan pasangan untuk menyelesaikannya:

  1. Salah satu atau keduanya memutuskan untuk tidak membahas topik permasalahan
  2. Salah satu memutuskan untuk mengalah dan mengikuti kehendak pasangan
  3. Keduanya saling menyerang
  4. Adanya negosiasi atau kompromi terkait topik permasalahan

Dari keempat cara penyelesaian konflik tersebut, hanya 1 yang dikategorikan sebagai resolusi konflik yang positif dan konstruktif, yaitu: negosiasi dan  kompromi (Sanderson & Karesky, 2002).

Karena relasi melibatkan 2 individu di dalamnya, perlu di perhatikan bahwa setiap dari individu bisa saja memiliki preferensi penyelesaian masalah yang berbeda. Sebagai contoh, ketika kita sedang berusaha untuk menggali akar permasalahan, mencari jalan tengah, pasangan kita memutuskan untuk tidak membahas lagi permasalahannya. Yang seharusnya menjadi resolusi konflik malah akan menjadi konflik yang baru untuk pasangan.

Dalam rangka menyelesaikan masalah hubungan dengan baik, maka kedua individu yang terlibat dalam hubungan harus sama-sama memiliki intensi dan kecenderungan untuk memilih cara penyelesaian konflik yang sama. Ada beberapa hal yang dapat pasangan lakukan bersama (kedua individu sepakat) dalam upaya memiliki resolusi konflik yang positif dan membangun:

  1. Meningkatkan empati dan belajar memahami perspektif

Salah satu kunci dari resolusi konflik yang positif adalah empati. Konflik dimulai ketika kita memiliki keinginan, kebutuhan, dan nilai yang berbeda dengan pasangan kita. Agar kita bisa menemukan solusi yang sama-sama menguntungkan untuk kedua belah pihak, kita perlu tahu apa yang sedang pasangan kita pikirkan dan rasakan (Courtain & Glowacz, 2018). Beberapa pertanyaan seperti “Mengapa mereka merasa/ berpikir demikian?” atau “Apa yang melatarbelakangi perasaan/pemikiran tersebut?” akan sangat membantu. Dengan mengetahui sudut pandang pasangan kita, kita dapat membentuk resolusi konflik yang efektif (kedua belah pihak mau dan bisa mengaplikasikan).

Dalam prakteknya, empati tidak bisa tiba-tiba muncul. Kita tidak dapat mengharapkan pasangan kita untuk mengerti kita dengan utuh tanpa kita menjadi terbuka sepenuhnya. Oleh sebab itu, komunikasi yang terbuka dan self-diclosure menjadi sangat-sangat penting dalam hubungan (Sanderson & Karesky, 2002). Keterbukaan memang akan membuat kita merasa rapuh. Tapi keterbukaan adalah “lahan” yang subur agar kasih dapat tumbuh secara nyata.

Seiring berjalannya waktu, keterbukaan dan empati akan mendorong pasangan menjadi social support yang baik, tidak hanya saat menghadapi konflik, tapi juga dalam menghadapi masalah sehari-hari.

  1. Fokus pada tujuan akhir, yaitu intimasi

Courtain dan Glowacz (2018) mengatakan bahwa kurangnya kemampuan untuk melihat korelasi antara resolusi konflik dengan tujuan akhir membuat pasangan sulit melihat potensi strategi resolusi konflik yang efektif. Selain itu, mereka juga menambahkan bahwa kurangnya motivasi untuk menemukan/ mempertahankan resolusi konflik yang positif akan menghambat pembuatan strategi penyelesaian masalah. Hal ini menunjukan bahwa pasangan perlu untuk memiliki tujuan akhir yang baik bagi hubungan mereka.

Meningkatkan keintiman dalam hubungan adalah tujuan akhir yang penting (Sanderson & Karesky, 2002). Jika pasangan, atau salah satu individu tidak memiliki atau bisa melihat hal ini, maka pembangunan strategi penyelesaian masalah tidak akan sama cepat dan akan ada ketimpangan usaha. Oleh sebab itu, justru di saat mengalami konflik, pasangan perlu memiliki goal untuk mencapai pertumbuhan relasi yang sehat. Dengan demikian, mereka bisa menemukan dan mau terlibat dalam pembentukan strategi resolusi konflik yang baik.

Referensi
  • Courtain, A., & Glowacz, F. (2019). Youth’s conflict resolution strategies in their dating relationships. Journal of youth and adolescence48(2), 256-268.
  • Sanderson, C. A., & Karetsky, K. H. (2002). Intimacy goals and strategies of conflict resolution in dating relationships: A mediational analysis. Journal of Social and Personal Relationships19(3), 317-337.

Ditulis oleh: Amanta Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Woman photo created by standret – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu