Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Anak

“If you want to change the world, go home and love your family”

Mother Theresa

Pengasuhan anak merupakan sebuah isu yang sangat dekat dengan kehidupan orang tua.  Secara garis besar, pengasuhan yang baik adalah ketika orang tua responsive terhadap kebutuhan anak dan memberikan kontrol serta tanggung jawab yang sesuai kadarnya pada anak. Sedangkan pengasuhan yang kurang baik, adalah pengasuhan yang bersifat tidak konsisten, abai atau sebalikan terlalu memberikan kontrol kepada anak sehingga anak tidak bisa berkembang dalam lingkungan yang kondusif (Taraban & Shaw, 2018).

Pada prakteknya, seringkali pengasuhan anak lekat dengan sosok ibu, dimana tuntutan masyarakat seringkali melihat bahwa seorang ibu diharapkan memiliki peran yang lebih dominan dalam mengasuh anak, sedangkan ayah memiliki tuntutan untuk mencari sumber daya dan menjadi sosok pendisiplin saja (McKinney & Renk, 2008).  Padahal dilain sisi, seorang anak perlu untuk medapatkan sisi afeksi dari seorang Ayah juga untuk mendapatkan perkembangan yang optimal.

Keterlibatan Ayah dalam pengasuhan bisa menjadi pembeda dalam perkembangan anak. Bahkan secara khusus Ramchandani dkk (2013) mengatakan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak akan berdampak  kepada perliaku anak sejak dini, termasuk perkembangan perilaku bermasalah anak lebih diakibatkan karena kehilangan sosok Ayah dibandingkan sosok Ibu. Trautman-Villaba dkk (2006) juga mengatakan ketika Ayah tidak terlibat dalam pengasuhan anak, maka anak akan lebih besar memiliki resiko untuk mengalami depresi, perilaku antisosial dan beberapa gangguan perilaku anak lainya.

Apa yang Menyebabkan Seorang Ayah Mau Terlibat Dalam Pengasuhan ?

Taraban (2018) mengungkapan ada beberapa faktor yang menyebabkan orangtua dalam hal ini mau terlibat dalam mengasuh anak. Faktor-faktor itu antara lain

  • Karakteristik Pribadi Ayah
    Karakteristik pribadi Ayah akan terkait dengan bagaimana kepribadian dari Ayah, kondisi kesehatan mental dari Ayah, serta masa lalu dari Ayah. Semisal seorang Ayah bertumbuh pada keluarga yang tradisional (pengasuhan dilakukan seorang Ibu dan Ayah mencari nafkah), maka individu akan cenderung menjadi pribadi yang melakukan seperti yang Ia pelajari di keluarga aslinya
  • Karakteristik Anak
    Karakteristik anak akan berdampak kepada respon stress dari orang tua. Semisal seorang Ayah memiliki anak yang sangat temperamental, maka Ayah akan mengalami resiko stress dalam pengasuhan dan berdampak pada keinginan untuk terlibat dalam pengasuhan.
  • Dukungan Secara Sosial
    Dukungan sosial yang penting supaya seorang Ayah mau terlibat dalam pengasuhan adalah dukungan dari Istri. Relasi pernikahan menjadi point penting untuk Ayah mau terlibat dalam pengasuhan anak. Ketika relasi pernikahan baik, diharapkan Istri akan memberi dukungan untuk Suami untuk terlibat dalam pengasuhan anak, sehingga Ayah mau terlibat dalam pengasuhan anak.

Bagaimana Ayah terlibat Dalam Pengasuhan Anak

Pada awalnya keterlibatan Ayah dalam pengasuhan seringkali diukur dengan menggunakan satu dimensi saja, yaitu waktu yang dihabiskan bersama anak. Tetapi dalam perkembangannya, keterlibatan Ayah dalam pengasuhan menjadi lebih kompleks karena terdiri dari berbagai dimensi. Beberapa hal yang bisa dilakukan Ayah untuk terlibat dalam pengasuhan menurut Hawkins dkk (2002) adalah sebagai berikut:

  1. Mendisiplin anak dan mengajarkan tanggung jawab kepada anak
  2. Dukungan terkait dengan pendidikan formal anak di sekolah
  3. Ikut mendukung Istri sebagai partner untuk mengasuh anak
  4. Menyediakan sumber daya yang diperlukan anak (makanan, keuangan dll.)
  5. Menyediakan waktu dan bercengkrama dengan anak
  6. Memuji dan menunjukan kasih sayang ke anak
  7. Ikut memikirkan mengembangkan bakat anak
  8. Mendukung pekerjaan rumah anak
  9. Memberikan perhatian kepada anak
Referensi
  • Hawkins, A. J., Bradford, K. P., Christiansen, S. L., Palkovitz, R., Day, R. D., & Call, V. R. (2002). The inventory of father involvement: a pilot study of a new measure of father involvement. The Journal of Men’s Studies, 10(2), 183-196 DOI: 10.3149/jms.1002.183.
  • McKinney, C., & Renk, K. (2008). Differential parenting between mothers and fathers; implications for late adolescents. Journal of Family Issues, 29(6), 806-827.
  • Ramchandani, P. G., Domoney, J., Sethna, V., Psychogiou, L., Vlachos, H., & Murray, L. (2013). Do early father–infant interactions predict the onset of externalising behaviours in young children? Findings from a longitudinal cohort study. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 54(1), 56-64 doi:10.1111/j.1469-7610.2012.02583.x.
  • Taraban, L., & Shaw, D. (2018). Parenting in context: Revisiting Belsky’s classic process of parenting model in early childhood. Developmental Review, 48, 55-81.
  • Trautmann-Villalba, P., Gschwendt, M., Schmidt, M. H., & Laucht, M. (2006). Father–infant interaction patterns as precursors of children’s later externalizing behavior problems; A longitudinal study over 11 years. European Archives of Psychiatry and Clinical Neuroscience, 256(6), 344-349 DOI 10.1007/s00406-006-0642-x.

Ditulis oleh: Ersa L. Sanjaya, S.Psi., M.Si.

1 Comment. Leave new

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed