Kekerasan Dalam Rumah Tangga dimulai dari Pacaran? Deteksi KDRT Sejak Dini!

Tindak kekerasan dalam rumah tangga kerap terjadi di sekitar kita. Biasanya kekerasan diekspresikan menggunakan fisik (memukul, menendang, dll) ataupun secara verbal (mengancam dengan senjata tajam, berkata-kata kasar, dll). Baik kekerasan fisik maupun verbal, keduanya sangat membahayakan korban. Kekerasan fisik dapat berakibat fatal pada keselamatan dan sekaligus melukai korban secara psikologis. Kekerasan yang dilakukan secara verbal dapat berdampak pada kesehatan mental korban, seperti hilangnya kepercayaan diri, adanya kecemasan, depresi, hingga keinginan bunuh diri.

Selain berdampak bagi korban, KDRT juga berdampak bagi hubungan pernikahan dan keluarga. Kekerasan adalah domino yang kemudian merusak hubungan pernikahan, individu dengan keluarga besar, dan juga hubungan dengan anak.

Kecenderungan individu untuk melakukan kekerasan tidak muncul secara tiba-tiba. Sebagian besar kecenderungan tersebut adalah hasil pembelajaran individu saat ia kecil. Perilaku kekerasan dapat ditutupi atau di kontrol. Tapi hal itu tidak mudah untuk dilakukan ketika individu merasakan luapan emosi negatif. Itulah sebabnya, kecenderungan individu untuk melakukan kekerasan biasanya muncul ketika ia sedang marah, sedih, atau bahkan mabuk.

Olson dkk (2011) mengatakan bahwa individu yang kasar (secara verbal ataupun fisik) saat pacaran, kemungkinan besar akan kasar juga saat menikah. Bahkan dalam banyak kasus, kekerasan yang dilakukan saat menikah malah lebih parah daripada saat masih pacaran. Oleh sebab itu, mendeteksi tindak kekerasan sejak masih pacaran sangatlah penting.

12 Pertanyaan Penting untuk Deteksi Kekerasan

National Youth Violence Prevention Resource Center (2009) menyebutkan ada beberapa red flags yang menandakan kekerasan dalam hubungan. Beberapa pertanyaan ini dapat kita refleksikan selagi kita masih pacaran:

  1. Apakah pasangan kita mengkritik, memaki, atau menghina kita?
  2. Apakah kita takut pada pasangan kita?
  3. Apakah pasangan kita berusaha mengontrol perilaku dan aspek lain dalam hidup kita? Seperti waktu, uang, sosial media, dll.
  4. Apakah kita sering terluka akibat apa yang pasangan kita lakukan?
  5. Apakah kita sering meminta maaf untuk apa yang pasangan kita lakukan?
  6. Apakah kita merasa biasa dengan perilaku kekerasan pasangan kita?
  7. Apakah kita pernah melihat pasangan kita melakukan kekerasan pada orang lain?
  8. Apakah ketika berpacaran, kita kehilangan ketertarikan pada sesuatu yang dulunya pending? Seperti pendidikan/ pekerjaan.
  9. Apakah ketika berpacaran, penampilan atau perilaku kita tiba-tiba berubah?
  10. Apakah ketika berpacaran, kita secara derastis mengurangi atau bahkan berhenti menghabiskan waktu dengan keluarga dna teman?
  11. Apakah ketika berpacaran, mood kita tiba-tiba berubah? Atau apakah kita merasa seperti menjadi orang yang berbeda (namun lebih ke arah yang negatif seperti terlihat tertekan, menjadi lebih diam, penuh kecemasan, dll)?
  12. Apakah kita mulai terlibat dalam perilaku bermasalah? Seperti terjun ke pergaulan yang buruk, menggunakan obat-obatan, mabuk-mabukan, dll?

Jika jawaban dari sebagian besar pertanyaan ini adalah “IYA”, kita perlu mengevaluasi dan mempertimbangkan kembali hubungan kita dengan pasangan kita. Ingat bahwa pernikahan tidak mengubah perilaku. Cegah atau hentikan KDRT dimulai dari mendeteksi kekerasan sejak dini.

Referensi
  • Olson, D. H., DeFrain, J., & Skogrand, L. (2011). Marriages and families: Intimacy, diversity, and strengths. New York: McGraw-Hill

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Shirt photo created by KamranAydinov – www.freepik.com

1 Comment. Leave new

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed