Jenis-jenis Pengasuhan dan Dampaknya bagi Anak

Jenis-jenis Pengasuhan dan Dampaknya bagi Anak

Jika kita mencari “Pola Pengasuhan” atau mungkin “Jenis-jenis pengasuhan” saat ini, kita mungkin akan menemui 3 jenis pengasuhan yang dikemukakan oleh Baumrind (1966), pengasuhan yang permissive, authoritarian, dan authoritative. Ketiga jenis pengasuhan menekankan pada 3 jenis control yang orangtua berikan kepada anak. Masing-masing dari gaya pengasuhan ini memiliki implementasi dan dampak yang berbeda untuk anak:

Gaya Permissive

Orangtua yang permissive cenderung tidak memberikan hukuman pada anak. Mereka lebih menerima, terbuka, dan “meladeni” perilaku, impuls, dan keinginan anak.

Seringkali, gaya pengasuhan ini diterapkan oleh orangtua yang “tidak bisa” melihat anak mereka menangis atau kecewa. Entah karena tidak tega, atau hanya untuk membuat mereka berhenti menangis (karena perilaku menangis/ tantrum dianggap mengganggu). Sayangnya, meskipun terlihat seperti bentuk mengasihi anak karena menuruti keinginan mereka, gaya pengasuhan yang permissive dinilai tidak memberikan dampak yang sehat bagi perkembangan anak.

Orangtua yang permissive memposisikan diri mereka sebagai sumber daya yang dapat anak gunakan untuk apapun, kapanpun, dan dimanapun. Dampaknya, anak merasa diijinkan untuk menentukan sendiri aktivitas dan perilaku yang ingin dilakukan, menjauhi hal-hal yang dirasa mengontrol mereka, dan membuat mereka tidak terbiasa untuk taat pada otoritas/ peraturan. Melalui gaya pengasuhan ini, anak belajar untuk menggunakan alasan dan manipulasi demi mendapatkan apa yang mereka mau, tanpa mempertimbangkan konsekuensi dari perilaku mereka.

Dalam pengasuhan yang permissive, orangtua bukanlah model atau pihak yang aktif untuk membentuk perkembangan perilaku anak. Dalam hal ini, orangtua jadi tidak terlibat dalam seluk beluk perkembangan mereka dan membuat

Gaya Authoritarian

Authoritarian seringkali digambarkan sebagai gaya pengasuhan yang penuh dengan kontrol. Berbeda sekali dengan orangtua yang permissive, orangtua yang authoritarian terkenal otoriter. Mereka memiliki peraturan dan standar yang absolut, dimana mereka meminta anak-anak untuk mematuhinya dengan mutlak. Gaya pengasuhan yang authoritarian sering menggunakan hukuman sebagai konsekuensi. Tidak jarang juga mereka menggunakan kekerasan (verbal ataupun non-verbal) untuk memaksa anak-anak melakukan/ memikirkan apa yang orangtua anggap benar. Orangtua dengan gaya pengasuhan authoritarian percaya bahwa anak-anak perlu menerima perintah/ kata-kata karena itulah yang benar.

Meskipun terdengar menyeramkan bagi anak-anak, gaya pengasuhan yang authoritarian dilakukan atas dasar kasih. Seringkali orangtua menggunakan gaya authoritarian karena mereka ingin anak-anak mereka menghidupi kehidupan yang baik, dan terhindar dari hal-hal yang tidak baik. Hal ini sering terjadi ketika orangtua menganggap anak belum bisa menentukan apa yang baik untuk diri mereka sendiri. Contohnya menentukan jurusan untuk anak karena melihat peluang karir, menentukan jodoh, hingga hal-hal seperti keputusan membeli rumah, dll.  

Ada beberapa dampak negatif dari gaya pengasuhan ini. Yang pertama adalah anak yang bertumbuh terlalu bergantung pada keputusan orangtua. Mereka akan kesulitan untuk menentukan apa yang mereka mau, dan cenderung tidak menginisiasikan ide/ opini. Mereka juga sulit untuk mengambil keputusan karena biasanya orangtua lah yang “mengetok palu” untuk mereka. Anak tidak terlatih untuk mengkritisi opini, pendapat, atau perintah dari sosok otoritas. Hal ini membuat anak menjadi super penurut, namun cenderung kehilangan diri sendiri.

Dampak yang kedua adalah tingkat stress yang tinggi. Ketika anak mengembangkan otonomi mereka sebagai individu, tidak jarang otonomi itu tumbuh berkonflik dengan otoritas orangtua. Anak ingin mengambil keputusan “A”, orangtua memaksa mereka untuk mengambil keputusan “B”. Konflik yang berkepanjangan ini berpotensi mengganggu kesehatan mental anak.

Gaya Authoritative

Orangtua yang authoritative lebih berfokus pada mengarahkan perilaku anak dengan rasional dan berorientasi pada isu. Berbeda dengan orangtua yang authoritatian, orangtua yang autoritative tidak menganggap bahwa peraturan dan perkataan mereka sebagai hal yang mutlak. Mereka memberikan ruang bagi anak untuk beropini dan memberikan masukan. Orangtua yang authoritative akan memastikan bahwa anak-anak mereka mengerti alasan dibalik setiap peraturan, perintah, dan pendapat yang diberikan. Dengan demikian, anak belajar untuk mengambil keputusan di atas alasan yang benar. Mengetahui alasan dan pertimbagnan yang benar inilah yang ditekankan oleh orangtua yang authoritative.

Hal lain yang menonjol dari gaya pengasuhan ini adalah bagaimana orangtua mengontrol dengan tidak mengekang anak. Orangtua mampu melihat situasi dari kacamata dewasa, namun menghargai pendapat anak-anak melalui kacamata mereka. Mereka menetapkan standar, namun menyadari bahwa standar-standar tersebut memiliki rentang toleransi yang berbeda. Dampaknya, anak bertumbuh dengan dengan bebas dalam batas. Anak cenderung berani mengambil keputusan dan langkah yang ingin mereka buat dalam hidup.

Aplikasi Gaya Pengasuhan dalam Kehidupan Sehari-hari

Banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa authoritative adalah gaya pengasuhan yang paling baik. Tapi dalam prakteknya, tidak ada gaya pengasuhan yang dapat diterapkan 100% dalam kehidupan sehari-hari. Autoritative terbukti membantu anak menumbuhkan perilaku yang baik dan mengurangi potensi perilaku bermasalah. Namun, orangtua tidak perlu menunggu anak berusia 5 tahun mengerti bahaya rokok untuk melarang mereka merokok. Atau, orangtua juga tidak perlu meminta anak untuk mengerti alasan mengapa mereka menggunakan baju dengan warna tertentu.

Mengasuh anak lebih kompleks daripada sekedar mempraktekan teori yang hitam putih. Mengasuh anak membutuhkan strategi dengan mempertimbangkan kesepakatan dan value orangtua, serta kepribadian masing-masing anggota keluarga.  Kita perlu dengan bijak menentukan cara mana yang tepat untuk situasi apa. Dengan demikian kita dapat menggunakan kontrol dengan efektif, efisien, dan sehat untuk pertumbuhan mereka.

Referensi
  • Baumrind, D. (1966). Effects of authoritative parental control on child behavior. Child development, 887-907.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Background photo created by pressfoto – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed