Hubungan Seks Untuk Penderita Jantung Koroner

                Pada penderita jantung koroner, sebagai pria/suami, gairah untuk melakukan hubungan seks, mayoritas masih ada. Seringkali memunculkan perasaan kuatir, bukan hanya bagi penderita, tetapi juga istri terhadap dampak hubungan seks karena suami ada jantung koroner. Kondisi atau perasaan kuatir, merupakan hal yang kontra produktif terhadap fungsi seks.

Dalam hubungan seks, terjadi tahapan : rangsangan →bangkitan →orgasme →resolusi; pada fase-fase tersebut terjadi peningkatan detak jantung dan peningkatan kebutuhan pasokan oksigen untuk otot jantung.

Pada penderita jantung koroner, pembuluh darah yang memberi asupan darah ke otot jantung (arteri coronaria) telah terjadi penyempitan saluran yang umumnya karena penumpukan lemak pada dinding pembuluh darah koroner (atherosclerosis). Jika kebutuhan aliran darah ke otot jantung semakin meningkat, antara lain karena aktifitas seks, karena pembuluh darah koroner tak mampu mencukupi kebutuhan pasokan darah untuk otot jantung maka akan menyebabkan keluhan atau gangguan.

Dalam aktifitas/hubungan seks, rata-rata memerlukan tenaga terkait kapasitas jantung sekitar 3 mets. Yang posisi dibawah memerlukan tenaga 2.5 mets, sedang untuk yang posisi diatas memerlukan tenaga 3.2 mets. Memperhatikan kebutuhan tenaga dalam hubungan seks tersebut, memeriksaan diri ke laboratorium untuk mengukur kemampuan jantung, menjadi ketentuan yang penting. Jika kemampuan jantung lebih dari 3,2 mets maka boleh melakukan hubungan seks dengan istrinya.

Beberapa hal penting yang perlu dilakukan dan disiapkan yaitu :

  1. Upayakan suhu kamar dalam kondisi nyaman, tidak panas ataupun terlalu dingin
  2. Perut tidak dalam kondisi penuh makanan (kenyang)
  3. Obat jantung letakkan dekat dengan tempat beraktifitas seks (dalam jangkauan)

Beraktifitas dalam suhu kamar yang panas akan lebih menguras enerji. Suhu kamar yang terlalu dingin, akan mudah terjadi kram otot. Sedangkan obat jantung (golongan nitrat) yang diletakkan dalam posisi terjangkau, akan memudahkan mengambilnya jika ada masalah/gangguan yang memerlukan obat tersebut.

Penulis:

Dr.dr. Hudi Winarso, M.Kes., Sp.And.(K) (Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra)

Sumber Gambar: https://unsplash.com/photos/z8_-Fmfz06c

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed