Hati-Hati! Jangan Menyalahgunakan Peran Anda dalam Keluarga

Hati-Hati! Jangan Menyalahgunakan Peran Anda dalam Keluarga

Setiap dari pada kita memiliki peran dalam keluarga. Kita adalah anak, dan juga adalah orangtua. Kita adalah pengambil keputusan dan pemimpin. Tapi di saat yang berbeda kita bisa jadi lebih penurut dan mengikuti keputusan yang diambil anggota keluarga lain. Setiap peran yang kita miliki dalam keluarga memiliki tanggung jawab dan hak yang berbeda.

Ada keluarga yang memiliki pembagian hak dan tanggung jawab yang cukup adil. Contoh, Ayah bertanggung jawab untuk mengatur keuangan keluarga, sehingga ayah berhak untuk memberikan budget untuk pengeluaran keluarga. Ibu, bertanggung jawab untuk mengatur liburan keluarga, sehingga ibu berhak untuk mengatur alokasi budget liburan yang sudah diberikan oleh ayah. Dengan kesepakatan bersama, bisa saja ada batasan-batasan yang diterapkan dalam pembagian hak dan tanggung jawab tersebut. Contoh, ibu tidak boleh ikut campur dalam budgeting keluarga, dan ayah tidak boleh protes dengan harga kamar hotel yang dipilih ibu.

Tanggung jawab dan hak ini lah yang memberikan kita kuasa atas hal-hal dalam keluarga, tergantung dengan siapa kita berinteraksi dan apa yang sedang kita kerjakan. Contoh, orangtua memiliki kuasa untuk menentukan sekolah anak, tapi anak tidak berkuasa untuk menentukan dimana orangtua harus bekerja. Adik mungkin boleh melaporkan kenakalan kakak, dan kakak diberi tanggung jawab menjadi teladan untuk adik.

Tapi dalam beberapa kasus, ada individu yang memegang kendali jauh lebih besar daripada anggota keluarga yang lainnya. Individu tersebut mungkin memegang peran dan tanggung jawab yang dirasa jauh lebih krusial, meskipun tidak langsung lebih banyak secara kuantitas. Hal ini membuat adanya ketidakseimbangan kuasa dalam keluarga. Ketidakseimbangan kuasa dalam keluarga memiliki beberapa dampak negatif, seperti:

  • “Melemahkan” pasangan
    Pihak yang dominan terkadang merasa bahwa pendapat dan masukannya adalah pendapat yang lebih baik, atau bisa jadi absolut. Hal ini bisa membuat pasangan terkadang merasa tidak didengarkan atau tidak dianggap. Sering kali, kemudian pasangan juga akan mempertanyakan kemampuan dan kekuatannya sendiri.

    Contoh: Ketika suami dominan dalam keluarga dan istri ingin memberikan masukan terkait pengelolaan finansial. Suami menempis pendapat istri atau mungkin meremehkan pendapatnya karena suami merasa bisa memikirkan masalah finansial sendiri. Hal ini bisa mengakibatkan istri merasa tidak cukup mampu untuk mengelola finansial dan membantu sang suami.
  • Adanya kekerasan fisik, emosional, ataupun psikologis
    Anggota keluarga yang dominan sering kali menggunakan kekerasan untuk memperjelas kuasanya dalam keluarga. Kekerasan adalah kekerasan sekecil apapun itu. Dalam hal ini, kekerasan dapat dimanifestasikan dalam bentuk fisik, emosional, atau secara psikologis (seperti membuat orang lain merasa tidak berharga).
  • Adanya suasana yang tegang dalam rumah, membuat rumah tidak nyaman
    Adanya ketidakseimbangan kuasa dalam keluarga kerapkali membuat suasana keluarga menjadi tidak nyaman. Seringkali, ketidakseimbangan kuasa membuat adanya “ledakan” amarah yang tiba-tiba. Ledakan amarah ini bisa terjadi karena hal kecil, seperti masakan yang dianggap tidak enak oleh anggota keluarga yang dominan, atau suara percakapan yang dianggap terlalu berisik. Ibarat calm before the storm, bahkan disaat tidak ada masalah, rumah menjadi tegang karena setiap anggota keluarga dituntut untuk tidak membuat kesalahan yang mengganggu anggota keluarga yang dominan.
  • Adanya tendensi untuk membentuk koalisi dalam keluarga
    Hal ini bisa terjadi ketika pihak yang tidak dominan mencari dukungan dari anggota keluarga lain. Hal ini akan semakin kuat ketika anggota keluarga cenderung tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh pihak yang dominan.

    Contoh: ayah sering membuat keputusan yang sepihak yang berakibat buruk pada keluarga. Ibu dan anak-anak kemudian bersatu untuk mengumpulkan kekuatan dalam keluarga.
  • Kemarahan anggota keluarga yang dominan dipelajari dan dicontoh oleh anak
    Ketika anggota keluarga yang dominan menggunakan kemarahan atau kekerasan untuk menyelesaikan masalah, maka anggota keluarga yang lain akan menyerap “kemarahan” sebagai teknik paling efektif dan efisien dalam menyelesaikan masalah, atau dalam hal ini, untuk membuat situasi menjadi terkendali.

    Contoh: ketika anak mencoba bernegosiasi tentang pilihan jurusan untuk perkuliahan. Ayah marah karena anak dirasa membantah. Anak akhirnya menurut karena ayah marah dengan usul jurusan yang ingin dia ambil. Anggota keluarga lain yang melihat akan merasa bahwa amarah efektif untuk membuat anggota keluarga yang lain menurut dan taat.
Ketidakseimbangan Kekuasaan Sebagai Sumber Masalah dalam Keluarga

Ketidakseimangan kuasa dalam keluarga bisa menjadi sumber masalah dalam keluarga. Ketidakseimbagngan kuasa ini sering kali menjawab pertanyaan mengapa pasangan kita tidak mau mendengarkan kita, atau ketika kita kesulitan untuk menghentikan pasangan saat mereka membuat keputusan yang salah.

Sering kali, ketidakseimbangan ini juga mereduksi keharmonisan keluarga. Ketidakmauan untuk mendengarkan atau melibatkan anggota keluarga lain dalam pengambilan keputusan menghilangkan perasaan, kehangatan, dan perasaan belonging dalam keluarga.

Referensi

  • Bong, B. (2021, February 22). The Balance of Power in Marriage. Lecture presented at Counselling Week in Singapore Bible College, Singapore.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Hand photo created by freepik – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed