Dampak yang Ditimbulkan Ketika Orang Tua Bertengkar di Depan Anak

Dampak yang Ditimbulkan Ketika Orang Tua Bertengkar di Depan Anak

Berdasarkan Undang-Undang No. 52 tahun 2009 pasal 1 ayat 6 pengertian keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Menurut Uri Bronfenbrenner (2000), keluarga adalah lingkungan terdekat individu atau biasa disebut dengan mikrosistem. Mikrosistem (microsystem) merupakan lingkungan terdekat yang berinteraksi langsung dan melatarbelakangi kehidupan anak. Sebagai salah satu komponen dalam mikrosistem, keluarga memiliki peran sangat besar dalam membentuk dan menentukan karakter anak-anak (Mujahidah, 2015).

Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa cara pandang, cara berpikir dan perilaku seorang anak akan diperoleh dari anggota keluarga yang berada di sekitarnya. Teori social learning yang dikembangkan oleh Albert Bandura (1986) memercayai bahwa seseorang belajar dengan mengamati orang lain. Bandura mengungkapkan ada 4 tahapan dalam teori ini yaitu proses atensi (memerhatikan perilaku orang-orang di sekitarnya), retensi (menyimpan informasi tersebut), reproduksi (mengikuti tingkah laku yang telah disimpan dalam ingatan), dan motivasi (diperlukan alasan untuk melanjutkan atau berhenti melakukan tindakan tersebut). 

Lalu bagaimana jika lingkungan keluarga seseorang tidak sesuai dengan yang diharapkan? Misalnya orang tua yang bertengkar terus menerus di depan anak. Tentu saja hal ini akan membawa dampak yang buruk pada anak. Menurut Taufik Rahman (2002) ada 6  hal yang akan terjadi ketika orang tua bertengkar terus menerus di depan anak, yaitu:

  • Anak mengalami trauma

Seorang anak bisa saja tidak paham mengapa kedua orang tua yang harusnya saling mencintai, justru mengeluarkan kata-kata kasar atau saling memukul di depan dirinya. Peristiwa tidak menyenangkan ini kemudian disimpan dalam memori anak dan dapat menjadi trauma bagi anak tersebut ketika ia tumbuh dewasa. Misalnya, ia takut untuk menikah dan memiliki keluarga karena mengingat kedua orang tuanya yang terus bertengkar bahkan sampai bercerai.

  • Prestasi belajar di sekolah menurun

Pertengkaran orang tua di depan anak berpotensi untuk menjadi beban pikiran bagi sang anak, apalagi jika kejadian tersebut tidak hanya terjadi sekali atau dua kali. Anak akan kesulitan untuk fokus pada pelajaran di sekolah karena mengingat kedua orang tuanya yang sedang berkonflik. Atau ketika anak sedang belajar di rumah, namun kedua orang tuanya justru bertengkar dan membuat keadaan rumah menjadi kacau dan ribut.

  • Terjadi perubahan sikap

Pertengkaran orang tua di depan anak sangat berisiko menyebabkan seorang anak mengalami gangguan kesehatan mental, hidup dalam rasa takut, atau merasa bahwa mereka adalah alasan kedua orang tuanya bertengkar. Ketika seorang anak mengalami fase ini, dia bisa saja berubah menjadi pribadi yang lebih pendiam dan tertutup. Hal ini dapat disebabkan karena anak memilih untuk menyimpan perasaan dan masalahnya sendiri, dibanding harus menceritakannya pada orang lain. Atau anak bisa saja menjadi pribadi yang agresif atau kasar bagi orang-orang di sekitarnya karena meniru apa yang dilakukan orang tuanya di rumah.

  • Image orang tua berubah di mata anak

Pandangan anak terhadap sosok orang tua akan berubah ketika dirinya secara terus menerus melihat konflik yang terjadi. Anak akan merasa bahwa orang tua tidak dapat menjadi sosok yang melindungi dan memberi dirinya kasih sayang.

  • Ketakutan untuk menikah saat dewasa

Poin kelima ini berhubungan dengan poin pertama, dimana karena pengalaman masa lalunya bersama orang tuanya, seorang anak merasa takut untuk menikah. Biasanya, salah satu pihak akan dianggap sebagai “penindas” entah itu ayah atau ibu. Tapi dalam banyak kasus konflik antar orang tua, ayah dianggap sebagai sosok penindas tersebut. Hal ini yang menyebabkan ketakutan untuk menikah saat dewasa lebih banyak dialami oleh anak perempuan.

  • Rentan terjerumus pada hal-hal negatif

Seorang anak yang merasa tidak betah di rumah karena pertengkaran kedua orang tuanya, cenderung untuk mencari berbagai cara agar dirinya mendapat ketenangan atau mencari tempat dimana dirinya dapat melepas stres. Jika tidak hati-hati dalam bergaul, anak-anak dapat terjerumus ke berbagai hal negatif seperti narkoba, seks bebas, pornografi, dan lain-lain.

Oleh sebab itu, ketika orang tua memiliki konflik yang harus diselesaikan, sebaiknya tidak dilakukan di depan anak. Karena ada begitu banyak dampak yang tanpa orang tua sadari, dapat memengaruhi kondisi anak terutama mental mereka. Jika pertengkaran memang tidak dapat dihindari dan terjadi di depan anak, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua agar pertengkaran tersebut tidak berdampak buruk pada anak, yaitu:

  1. Menanyakan apa yang anak rasakan
    Dengarkan ketika anak mencurahkan pikiran dan perasaannya setelah ia melihat kedua orang tuanya bertengkar. Jika memang dirinya belum ingin menceritakan apa yang ia rasakan atau pikirkan, beri mereka waktu untuk menenangkan diri. Hal ini penting agar anak tidak menyimpan masalah mereka sendiri dan berujung pada depresi.
  1. Jangan jadikan anak sebagai pelampiasan
    Ketika terjadi konflik dengan suami/istri, jangan melibatkan anak yang tidak paham dengan kondisi tersebut dengan cara memarahi atau memukulnya. Hal ini dapat menyebabkan dampak yang buruk bagi kondisi mental mereka.
  1. Berikan penjelasan kepada anak
    Berikan pemahaman kepada anak bahwa pertengkaran ini hanya sesaat dan di setiap hubungan dapat terjadi perbedaan pendapat. Jelaskan bahwa pertengkaran bukan berarti bahwa orang tua tidak saling mencintai, namun hanya terjadi kesalah pahaman dan masalah tersebut akan diselesaikan. Hal ini penting karena beberapa anak takut bahwa pertengkaran orang tua berujung pada perceraian.
Referensi
  • Mujahidah. (2015). Implementasi Teori Ekologi Bronfenbrenner dalam Membangun Pendidikan Karakter yang Berkualitas. Lentera, 17(2), 171-185.

Ditulis oleh : Anggun Meilana Herman Tinduh (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Ciputra), Devita Wulandari (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Ciputra), Feilicya Aurellia Wijaya (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Ciputra), Sherryn Ivana Patrecia Soeparto (Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Ciputra)
Sumber gambar: People photo created by jcomp – www.freepik.com

2 Comments. Leave new

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed