Berkomunikasi secara Sehat dengan Pasangan

Susan: Rudi, sampe kapan sih Ibu kamu tinggal di rumah ini? Aku sudah cape dengan gayanya yang menjengkelkan. Ibu kamu itu banyak uang tapi pelitnya kebangetan. Dia tidak mau keluar uang sama sekali. Dikit-dikit minta dibelikan. Padahal lho dia banyak uang.
Udah gitu, Ibu kamu itu cerewetnya juga kebangetan. Ngatur ini ngatur itu. Ini sebenarnya rumah siapa sih, kog dia ngatur-ngatur.
Rudi: Trus maumu apa?
Susan: Lho kog mauku apa, kamu ini kog gak ngerti toh? Aku sudah berulang kali bilang. Ya mauku dia gak tinggal di rumah ini lagi.
Rudi: Trus kamu mau ngusir? gitu? Jangan kurang ajar dengan mertua. Gimanapun juga dia ini ibu kandungku.
Susan: Siapa yang kurang ajar?

Menurut Anda, bagaimanakah akhir percakapan Rudi dan Susan?

Dari potongan percakapan di atas kita sudah dapat menebak bahwa percakapan di atas akan berakhir dengan  konflik panas antara Rudi dan Susan. Masing-masing pihak akan merasa kesal, marah, tersakiti, tidak terima, dan pada akhirnya relasi menjadi rusak. Ketika relasi menjadi rusak, tentu saja relasi pasangan tersebut menjadi tidak bahagia.

Hasil studi menunjukkan bahwa pasangan-pasangan yang berbahagia memiliki komunikasi yang memuaskan dengan pasangan. Pasangan yang berbahagia melaporkan bahwa pasangannya memahami perasaannya serta mampu menjadi pendengar yang baik. Pasangan yang berbahagia juga melaporkan bahwa mereka mudah menyampaikan perasaan yang sebenarnya kepada pasangan. Hasil riset juga menunjukkan bahwa komunikasi yang tidak sehat antara suami istri memprediksi terjadinya ketegangan dalam pernikahan dan perceraian, serta kekerasan dalam rumah tangga (Cordova, 2009). Penelitian-penelitian di atas menunjukkan bahwa komunikasi adalah hal yang vital dalam membangun pernikahan yang bahagia.

Komunikasi terkesan sebagai sesuatu yang sederhana, namun pada kenyataannya banyak pasangan suami istri mengalami kesulitan dalam melakukannya. Pada akhirnya mereka memilih untuk diam dan menghindar guna menghindari perasaaan sakit hati, dan menghindari konflik yang berkepanjangan. Pada akhirnya relasi suami istri menjadi dingin dan hambar.

Komunikasi yang efektif

Mengingat komunikasi adalah kunci dari keintiman relasi suami istri, maka penting sekali bagi kita untuk belajar dan berlatih komunikasi yang efektif dan sehat.  Komunikasi adalah proses yang dinamis dan di dalamnya terdapat penyampaian makna dari satu pihak ke pihak lain. Karena itu komunikasi yang efektif melibatkan seni berbicara menyampaikan pesan dan makna, serta seni mendengarkan untuk menangkap pesan dan makna.

The art of speaking

Pertama, sampaikan pesan dengan spesifik dan konkrit. Hindarilah penyampaian yang kabur dan tidak jelas, atau bahkan meminta pasangan menebak sendiri maksud kita. Semakin spesifik dan konkrit pesan yang kita sampaikan, maka pasangan kita akan lebih mudah untuk mengerti apa yang kita maksud. Pesan dan makna juga akan lebih mudah ditangkap oleh pasangan kita. Dengan demikian, komunikasi menjadi lebih lancar dan kita akan menjadi lebih bahagia.

Kedua, sampaikan harapan, perasaan, kebutuhan, pikiran kepada pasangan dengan terus terang. Gunakan kalimat yang menggunakan pernyataan saya (I- statement), misalnya Saya merasa bahagia sekali ketika kamu menggandengku di depan orang lain; saya kawatir dengan keuangan kita; saya butuh pertolonganmu dalam menghadapi masalah ini; saya ingin sekali kita lebih banyak waktu berdua, dan lain-lain. Keterbukaan akan menolong pasangan untuk mengerti dan memenuhi kebutuhan kita, sehingga kita juga menjadi lebih bahagia.

Hindarilah komunikasi yang berbelit-belit, tidak to the point, atau tidak terus terang dan menyimpan perasaan sendiri. Komunikasi yang berbelit dan tidak terus terang membuat pasangan menjadi salah paham atau frustrasi. Ketidakterbukaan akan menyulitkan pasangan kita mengerti kebutuhan kita, dan pada akhirnya kita juga menjadi kecewa karena pasangan kita tidak mengerti diri kita.

Ketiga, sampaikan hal-hal yang tidak disukai dengan hati-hati. Hindarilah sikap menyerang atau menyalahkan. Ketika ada masalah yang hendak disampaikan, sampaikanlah sebagai masalah ‘kita’, karena pada hakekatnya suami istri adalah satu tim.

The art of listening

Pertama, hadirlah untuk men-DENGARKAN dan fokus pada apa yang disampaikan pasangan. Hadir yang dimaksudkan di sini bukan sekedar ada secara fisik, tetapi lebih pada kesediaan kita untuk hadir secara psikologis untuk pasangan dan siap untuk menangkap pesan yang hendak disampaikannya. Berusahalah untuk fokus, sehingga kita dapat menangkap pesan, perasaan, kebutuhan, pikiran pasangan kita. Hal ini akan membuat pasangan kita merasa dihargai, dan juga akan mencegah terjadinya salah paham.

Kedua, dengarkanlah secara penuh dan doronglah pasangan untuk menyampaikan pesannya dengan lengkap. Sikap penuh perhatian akan menstimulasi pasangan melanjutkan pesannya. Sebaliknya memotong pembicaraan atau mengkritik apa yang disampaikan pasangan akan membuat pasangan berhenti dan tidak melanjutkan komunikasinya. 

Ketiga, sarikanlah dan sampaikan kembali isi dan perasaan yang terkandung dalam percakapan pasangan. Hal ini akan membuat pasangan merasa dirinya dipahami. Selain itu penyampaian kembali isi dan perasaan sekaligus berfungsi sebagai cara untuk memeriksa ketepatan pemahaman kita. Misalnya, “oh, jadi kamu tidak nyaman dengan kehadiran Ibu, karena Ibu sering memindahkan peralatan dapur sehingga kamu kesulitan mencarinya.”  Hindari sikap menyalahkan atau menyerang, karena hal ini akan membuat pasangan tanpa disadari memunculkan reaksi-reaksi defensif, yang selanjutnya akan membuat situasi semakin panas.

Keempat, bertanyalah untuk memperjelas apa yang belum dipahami. Hal ini akan mendorong pasangan untuk menyampaikan pesan dengan lebih jelas dan lengkap, sehingga kita menjadi lebih paham maksudnya. Hindarilah tindakan menginterpretasi sendiri tanpa konfirmasi kepada pasangan yang berbicara. Interpretasi sendiri seringkali menciptakan kesalahpahaman, lebih-lebih apabila hal tersebut tidak dikonfirmasi kepada pasangan.

Coba lihat percakapan di bawah ini:

Susan: Rudi, saya hendak berunding dengan kamu soal Ibu. Gini lho Rud, Ibu sudah tinggal di sini 2 minggu. Ada beberapa hal yang saya merasa tidak nyaman.  
Rudi: oh, ada hal-hal dari Ibu yang membuat kamu gak nyaman ya? Hm… bagaimana …… ayo cerita.
Susan: Begini Rud, saya merasa tersinggung ketika Ibu mengatur barang-barang di dapur. Kan saya sudah menata posisi yang nyaman supaya memudahkan saya masak, tapi Ibu mindahin. Ibu bilang bahwa penataan saya tidak tepat. Nah masalahnya kalau dipindah-pindah, saya merasa tidak nyaman karena saya jadi bingung ketika mencari peralatan dan bahan masak.
Rudi: oh, jadi kamu tidak nyaman karena ketika memasak kamu jadi bingung mencari bahan dan peralatan masak ya?
Susan: iya Rud.
Rudi: kamu tadi bilang kamu tersinggung. Bagaimana ceritanya?
Susan: iya Rud, saya jadi merasa kayak dianggap tidak bisa menata rumah. Saya jadi merasa bodoh begitu. Rudi: Hm gimana ya solusinya supaya kamu nyaman tapi juga kita bisa tetap menghormati Ibu. Soalnya kalau tiba-tiba aku minta Ibu pulang, pasti Ibu  merasa kog diusir. Saya juga merasa menjadi anak yang kurang ajar.

Bagaimana akhir percakapan di atas?

Kita bisa menebak bahwa pembicaraan di atas akan membawa solusi yang memuaskan bagi kedua belah pihak. Percakapan di atas menunjukkan komunikasi yang efektif, dan akan membawa kebahagiaan bagi pasangan.

Komunikasi efektif adalah suatu seni yang berharga untuk dilatih dan dikembangkan dalam relasi suami istri. Semakin banyak kita berlatih ketrampilan berbicara dan keterampilan mendengarkan, maka kita akan semakin trampil.

Referensi
  • Cordova, J. V. (2009). The marriage checkup: A scientific program for sustaining and strengthening marital health. Lanham: Jason Aronson.
  • Halford, W. K. (2017). CoupleCare Couple commitment and relationship enhancement: Couple guide book. Australia: Australian Academic Press Group Pty. Ltd.
  • Olson, D. H., Olson-Sigg, A., & Larson, P. J. (2008). The couple checkup. Nashville: Thomas Nelson, Inc.

Ditulis oleh: Prof. Dra. Jenny Lukito Setiawan, M.A., Ph.D., Psikolog
Sumber gambar: Love photo created by freepik – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed