Bagaimana Rasanya Menikah?

Kita mungkin sering mendengar bahwa pernikahan tidak seperti yang kita bayangkan. Meskipun kita menikahi orang yang kita kenal baik, pernikahan selalu memberikan kejutan. Sebenarnya, bagaimana sih rasanya menikah? Apa yang terjadi di rumah ketika kita sudah menikah?

Kami melakukan beberapa wawancara sederhana dengan 4 orang suami dan istri. Sebelum menyimak cerita mereka, berikut beberapa informasi seputar para narasumber.

Bagaimana rasanya menikah?

AW: Baru mengawali, belum pernikahan lama, jadi yang kurasakan sekarang campur aduk. Seneng, terus lebih ke butuh adaptasi satu sama lain. Karena biasa apa-apa sendiri, sekarang berdua. Terus kebiasaan juga jadi berbeda.

PO: Complicated sepertinya. Antara senang dan susah 50:50. Jadi tidak bisa dibilang menyenangkan 100%, atau susah 100%. Tidak ada yang lebih dominan. Bener-bener 50:50. Karena aku menikah masih LDR.

SG: Rasanya menikah seperti mengulang rasa jatuh cinta pertama kali dengan pasangan.

AG: rasanya menikah, ada suka ada duka.

Apa yang terjadi di rumah ketika kita sudah menikah?

AW: Perubahan paling besar dalam keseharian lebih ke apa-apa berdua. Karena aku kan nge-kos, pernah merasakan hidup sendiri, apa-apa sendiri. Nah setelah menikah ini, aku bersyukur kita saling membantu, saling menolong. Aku malah terbantu suami mau ikut bantu, karena dulu sudah biasa bagi tugas sama saudara dulu. Yang negative itu beda kebiasaan, misal kayak nyuci, dia nunggu banyak baru dicuci. Kalau aku lebih suka dicicil. Tujuannya sama: nyuci, tapi caranya beda.

PO: Tidak ada. Masih sama. Bedanya dari suami. Suami lebih protektif. Jadi tanya terus, dimana, sama siapa.

SG: Menikah memang sangat berbeda dengan waktu pacaran, kalau pacaran kita hanya ketemu beberapa saat saja dengan pasangan kita, tetapi kalau sudah menikah kita akan setiap hari/waktu bertemu dengan pasangan kita, jadi tetap perlu ada penyesuaian diri dengan pasangan.

AG: yang terjadi setelah menikah, lebih sabar dan mempertimbangkan segala sesuatu.

Ekspektasi apa saja yang dimiliki tentang kehidupan pernikahan?

AW: hidup bersama-sama, saling mengisi.

PO: Kebutuhan akan sebuah hubungan terpenuhi. Semisal, love language-nya terpenuhi.

SG: Jujur untuk ekspektasi setelah menikah saya sendiri tidak berekspektasi apa-apa, tapi yang jelas saya dan pasangan berkomitmen untuk saling berjuang untuk saling memperbaiki diri dan menerima pasangan setelah menikah dan membangun keluarga yang semakin dekat dengan Tuhan.

AG: memiliki keluarga harmonis, rejeki dan tingkat ekonomi meningkat serta hidup bahagia.

Apakah realita tentang hidup berumah tangga setelah menikah sama dengan ekspektasi?

AW: lebih terasa ada tanggung jawab aja. Memang berdua. Tapi memasak, aku merasa bertanggung jawab buat masak. Kalo ga masak merasa bersalah. Hidup bersama itu ada tanggung jawab yang mengikuti. Dulu waktu belum menikah ga kebayang tanggung jawabnya.

PO: Belum sepenuhnya terpenuhi. Kalau belum terpenuhi, aku cerita sama suamiku. Ya kadang aku ga langsung cerita. Kalau banyak yang tidak terpenuhi aku akan merasa bosan. Kalau aku bosan, aku menunjukan respon bosan, tidak banyak bicara, sampai mau berantem baru ngomong.

SG: Karena saya waktu menikah tidak ada ekspektasi apa-apa, jadi yang paling penting adalah kita bisa menerima pasangan kita dan juga saling memperbaiki diri.

AG: realita setelah menikah, 50% sesuai 50% tidak sesuai.

Apakah pernah terkejut dengan pasangan setelah menikah? (Misalnya perbedaan sikap atau hal yang baru diketahui setelah menikah)

AW: Kalau perubahan banget belum sih. Yang sampai membuat kaget itu kayak, saling membantu itu. Mungkin latar belakang ya, di keluargaku itu wanita yang ngerjain (tugas) rumah. Nah waktu aku menikah, habis makan, suami yang beresin semuanya..itu mengejutkan. Karena di rumahku yang laki tidak kayak gitu.

PO: Ternyata dia bucin. Aku baru sadar karena waktu pacaran, kita stay cool. Ga menunjukan kalau misal dia butuh aku atau aku butuh dia. Kenapa kok beda dengan waktu pacaran? Karena yang aku lihat, dia tidak bisa menahan lagi kalau dia tidak mau kehilangan. Jadi sepertinya, aku punya kekurangan dalam hubungan, aku tidak ber-progress dari pacaran hingga menikah. Jadi kalau aku pacaran cuek, sampai sekarang pun cuek. Nah, aku tidak berprogress di sana. Dia kan ber-progress, dari cuek jadi tidak cuek, otomatis ketika progress kita tidak sama, dia akan merasa “Kok anak ini ga ber-progress ya?”. Jadi daripada kenapa-kenapa, ya udah deh aku yang menunjukkan. Aku yang ngalahin. Kalau menurutku gitu. Karena, misal aku kerja gitu ya, aku benar-benar ga kenal waktu, ga baca chatnya dia dari pagi sampai malam, nah di situ dia sudah ga bsia nahan lagi (ga seperti pacaran). Dia pasti protes. Pasti dia nyari, pasti dia telfon, nunjukin dia kesel atau ngambek. 

SG: meskipun saya sudah berpacaran dengan istri saya selama kurang lebih 9 tahun (sebelum akhirnya menikah), tetap ada penyesuaian dengan karakter pasangan kita. Kadang sifat atau karakter pasangan kita tidak muncul ketika pacaran, dan baru terlihat setelah menikah. Jadi komunikasi dan mau mendengar jadi poin penting dalam rumah tangga.

AG: iya pernah. Ada beberapa sikap asli yang tidak ditunjukan pada saat pacaran.

Penyesuaian apa yang perlu dilakukan bagi pasangan yang baru menikah?

AW: Kalau berbeda pendapat dalam mencuci, biasanya siapa yang mengerjakan, ya ikut kebiasaan yang mengerjakan. Kayak gini biasanya sudah dibicarakan sebelum menikah.

PO: Penyesuaian ego sih menurutku. Aku harus bisa menyesuaikan egonya dia, dan dia juga harus menyesuaikan egoku. Maksudnya kalau aku maunya seperti ini, dia harus mengerti. Dan kalau dia maunya seperti itu, aku juga harus mengerti. Nah, kadang di situ juga sulitnya. Soalnya tidak selalu di satu waktu kita mau untuk sama-sama mengerti. 

SG: Pertama, yaitu penyesuaian karakter dan sifat pasangan, kekurangan dan kelebihan pasangan, kebiasaan pasangan yang mungkin pada waktu sebelum menikah kebiasaan ini belum terlihat, tetapi ketika sudah menikah akan muncul.

Kedua, penyesuaian pola pikir atau sudut pandang dari pasangan kita, kadang kala suami istri bisa berbeda pendapat tentang hal-hal kecil.

Ketiga, penyesuaian finansial. Setelah menikah suami istri harus menjadi 1 tim di dalam urusan finansial, jangan sampai karena salah satu pendapatan lebih besar atau salah satu menuntut ini-itu di luar kemampuan akan jadi permasalahan di rumah tangga.

Keempat, penyesuaian waktu. Dulu waktu sebelum menikah kita bebas mau main game, nongkrong, makan-makan, jalan-jalan, dll. Tetapi ketika sudah menikah kita harus tahu waktu kapan kita main game, nongkrong, jalan-jalan, dan waktu untuk keluarga/pasangan kita.

AG: penyesuaian setelah menikah adalah pembagian tugas dalam menjalani rumah tangga, keterbukaan dalam setiap pengambilan keputusan.

Apa saja suka-duka menikah?

PO: Karena aku dari awal sampai sekarang LDR, jadi ketemu dan tidak ketemu. Jadi kadang aku bisa lupa kalau sudah menikah. Susahnya kalau beda pendapat sih. Meskipun LDR, kalau aku pindah kota untuk kerja gitu, belum tentu boleh. Itu yang bikin sulit. Kalau senangnya, ya karena jarang ketemu, jadi merasa seperti masih pacaran. Jadi ga merasa kita sudah menikah, sudah tua. Terus karena LDR juga, jadi selalu ada rasa ingin ketemu.

SG: kalau bicara tentang suka duka, di awal menikah tentunya banyak penyesuaian yang harus dilakukan antara saya dan pasangan saya, tapi hal tersebut justru menarik, karena saya jadi tahu kebiasaan, sifat, dll yang selama pacaran tidak pernah ditunjukkan sekarang saya jadi tahu.

AG: sukanya menikah: memiliki pasangan dan anak sehingga melecut semangat untuk bekerja lebih giat. Dukanya adalah, terkadang karena semakin banyak tanggungan, agak sulit memenuhi kebutuhan dasar–untuk itu harus bekerja sampingan. Dan waktu untuk me time sangat terbatas.

Apakah ada hal yang ingin dibagikan untuk pasangan yang akan menikah?

AW: Ini pesan agar gampang menyesuaikan diri setelah menikah ya. Terbuka aja sih. Kan ada yang pacaran diliatin yang baik-baiknya aja, tapi nanti pas nikah kaget-kaget. Waktu pacaran ya terbuka aja. Komunikasi penting banget sebelum menikah, penting juga setelah menikah. Jadi biar komunikasi itu terbentuk kebiasaannya. Misal aku sama suami ku, kita bisa mengkomunikasikan jadwal keseharian. Jadi waktu menikah, kita terbiasa juga kayak gitu. Jadi tidak diam-diam, lalu aku berekspektasi dia pulang, padahal ada meeting. Jadi diri sendiri juga, kalau ndak, kaget-kaget pasti.

PO: Manjakan diri kalian dulu. Jadi kalian maunya apa, itu dipenuhi dulu kalau bisa. Karena ketika sudah menikah, kita harus menuruti pasangan kita. Otomatis terbagi dua, jadi tidak fokus ke diri kalian sendiri. Semisal semasa lajang kalian tidak menuruti diri kalian sendiri, pasti nanti waktu menikah merasa “Kok aku rela melakukan untuk orang lain, tapi akunya kapan?”. Pasti ada satu fase (dalam pernikahan) waktu kalian bilang “Loh, aku bagaimana?”. Entah itu di fase pernikahan yang tahun keberapa. Tapi pasti ada fase dimana kalian menuntut pasangan. Jadi sebelum menikah, manjakan saja diri kalian dulu. Karena hidup sama orang lain itu kalian harus berbagi semuanya, apapun itu. Jadi semisal kita ga siap secara luar dalam, itu akan lelah. Karena pasti banyak bedanya. Namanya juga orang lain. Diri kita aja bisa labil, apa lagi orang lain. Dan kita harus mengikuti itu.

SG: Pertama, tanyakan diri kamu: apakah kamu sudah tahu tujuan kamu menikah itu apa? Kalau belum, mending jangan nikah dulu.

Kedua, komunikasikan semua hal dengan pasanganmu sebelum menikah, mulai dari finansial, sampai tugas rumah tangga.

AG: mapan dulu, memiliki rumah pribadi dan pekerjaan yang stabil karena pada saat menikah masalah utama bukan tentang cemburu/emosi asmara, tetapi masalah utama dalam kehidupan pernikahan adalah kecukupan finansial. Ketika segala kebutuhan dasar sandang, papan, pangan terpenuhi dengan baik, maka tidak ada pelecut rasa frustasi dan putus asa sehingga tercipta komunikasi yang baik antar pasangan.

Kesimpulan

Pernikahan merupakan suatu peristiwa bermakna yang memiliki potensi untuk mengubah hidup seseorang. Tema yang paling umum ditemui dalam pernikahan yang masih baru adalah seputar penyesuaian diri dengan kebiasaan dan peran baru yang dijalani, baik peran kita sendiri maupun peran pasangan kita. Perubahan pengaturan hidup dari yang sebelumnya tinggal sendiri maupun tinggal bersama keluarga juga menciptakan lingkungan baru yang dieksplorasi bersama suami/istri. Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian pasangan yang baru menikah bisa dikategorikan sebagai berikut:

  • Penyesuaian dalam diri, mencakup ekspektasi pribadi, mindset, ego dan pola pikir.
  • Penyesuaian interpersonal, mencakup komunikasi, keterbukaan, empati dan kompromi dengan pasangan.
  • Penyesuaian teknis, mencakup pengaturan finansial, pembagian tugas dan peran dalam rumah tangga, perencanaan jadwal dan rutinitas keluarga, mekanisme pengambilan keputusan untuk kepentingan rumah tangga, dan sebagainya.

Manusia tentu menikah dengan harapan untuk hidup bahagia bersama pasangan (dan mungkin keluarga yang akan dibangun bersama). Para ahli mendapati bahwa pernikahan memang berperan dalam peningkatan kebahagiaan dan kepuasan hidup individu, namun itu hanya berlangsung selama tahun pertama pernikahan. Peningkatan ini berkurang relatif cepat hingga akhirnya tidak ada perbedaan tingkat kepuasan jangka panjang antara setelah maupun sebelum menikah–dengan kata lain, honeymoon effect tidak abadi. Rata-rata periode honeymoon berlangsung setahun sebelum menikah dan bertahan satu hingga dua tahun setelah transisi sehingga pasangan perlu memiliki ekspektasi yang realistis tentang kehidupan setelah pernikahan.

Layaknya kehidupan sebelum menikah, kehidupan setelah menikah juga memiliki masa-masa menyenangkan maupun kurang menyenangkan. Maka dari itu, selain membangun komunikasi, diperlukan keterbukaan antar pasangan untuk mengupayakan pernikahan yang berhasil. Self-disclosure (keterbukaan) menjadi salah satu komponen komunikasi yang penting dalam pernikahan, baik oleh suami maupun istri. Melalui jalinan komunikasi dan menjadi pasangan yang terbuka, diharapkan bisa membangun hubungan personal yang baik dengan pasangan yang menjadi faktor utama dalam kepuasan pernikahan.  

Melalui wawancara bersama pasangan yang sudah menikah kali ini, kita dibawa pada suatu pembelajaran bahwa happily ever after adalah komitmen jangka panjang yang memerlukan usaha aktif dari suami dan istri. Semoga melalui wawancara ini, Anda dan pasangan bisa mendapat gambaran maupun pandangan baru tentang bagaimana rasanya menikah sehingga bermanfaat untuk masa depan, ya!

Referensi:
  • Lucas, R. E., Clark, A. E., Georgellis, Y., & Diener, E. (2003). Reexamining adaptation and the set point model of happiness: Reactions to changes in marital status. Journal of Personality & Social Psychology, 84(3), 527-539.
  • Lucas, R. E., & Clark, A. E. (2006). Do people really adapt to marriage?. Journal of Happiness Studies, 7(4), 405-426. Diakses dari https://halshs.archives-ouvertes.fr/halshs-00590574/document
  • Qari, S. (2010). Marriage, adaptation and happiness: Are there long-lasting gains to marriage? Beiträge zur Jahrestagung des Vereins für Socialpolitik 2010: Ökonomie der Familie – Session: Marriage and Divorce, No. E11-V2, Verein für Socialpolitik, Frankfurt a. M. Diakses dari https://www.econstor.eu/bitstream/10419/37148/1/VfS_2010_pid_954.pdf
  • Srisusanti, S., Zulkaida, A. (2013). Studi deskriptif mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pernikahan pada istri. Jurnal Universitas Gunadarma, 7(6), 8-12. Diakses dari https://www.ejournal.gunadarma.ac.id/index.php/ugjournal/article/viewFile/1198/1059
  • Wardhani, N. A. K. (2012). Self-disclosure dan kepuasan perkawinan pada istri di usia awal pernikahan. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya, 1(1), 1-9. Diakses dari https://journal.ubaya.ac.id/index.php/jimus/article/download/68/48

Ditulis oleh: Verawaty, Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya dan AManda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: People photo created by rawpixel.com – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed