Ajarkan Anak Berani Memutuskan!

Setiap anak-anak pasti akan bertumbuh dan memulai kehidupannya sendiri. Ia akan bekerja, memiliki keluarga kecil, dan berpisah dengan keluarga inti (pisah rumah, merantau, tinggal luar kota, dll). Sebagai orangtua, sudah menjadi tugas kita untuk menyiapkan mereka agar mandiri dalam kehidupan.

Dalam beberapa kasus, ada orangtua yang kesulitan mendorong anaknya mengambil keputusan, bahkan ketika mereka sudah beranjak dewasa. Kemampuan anak untuk mengambil keputusan sendiri tidak dapat tumbuh dalam semalam. Hal ini butuh proses pertumbuhan, waktu, dan bimbingan.

Orangtua dapat mengembangkan kemandirian anak dan kemampuan mengambil keputusan sejak mereka duduk di bangku SD. Hal ini bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana, seperti menentukan prakarya yang ingin di buat, memilih baju yang ia sukai, dll. Kemudian memasuki masa remaja, orangtua bisa memperluas otonomi anak. Otonomi ini harus berkembang seiring dengan bertambahnya usia anak.

Bersyukurnya, kita selalu memiliki kesempatan untuk mengajarkan anak mandiri dan mengambil keputusan. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mereka:

1. Biarkan anak-anak membuat pilihan

Salah satu faktor mengapa anak kesulitan menentukan pilihan adalah karena mereka jarang mendapatkan kesempatan itu. Mungkin kita tidak menyadarinya. Tapi ada beberapa hal yang membuat kita jadi tidak punya waktu untuk proses belajar mereka. Misalnya, kita sibuk sehingga menunggu mereka membuat pilihan dirasa tidak efisien. Atau kita tidak suka melihat anak melakukan kesalahan sehingga kita yang memilih untuk mereka.

Kita perlu menyadari bahwa sulit bagi anak untuk menentukan karir, gaya hidup, pendidikan, dan keputusan besar lainnya ketika mereka tidak berpengalaman. Berikan mereka kesempatan untuk memilih. Ajak mereka untuk memikirkan ide serta alternatif, dan bantu mereka dengan memberikan pro dan kontra untuk setiap pilihan yang tersedia.

2. Hargai kesulitan anak

Sebagai orangtua kadang kita tidak tega melihat anak kita menghadapi kesulitan. Tapi terus-terusan membantu mereka tidak membuat mereka jadi lebih mandiri. Ketika anak belajar mengambil keputusan, ia perlu belajar bahwa setiap keputusan membutuhkan usaha, memiliki resiko, dan tidak selalu mudah. Orangtua perlu mengenali konsekuensi yang dapat anak tanggung dan tidak. Hal ini juga membantu menumbuhkan rasa tanggung jawab pada anak.

Solusi yang cepat dan mudah memang katang terlihat sangat menarik. Tapi melalui tantangan dan kesulitan, anak belajar untuk memperbaiki metode dan mematangkan perencanaan dikesempatan lain. Hal ini hanya bisa dipelajari ketika anak mengalaminya sendiri.

3. Jangan menanyakan terlalu banyak pertanyaan

Menanyakan banyak pertanyaan dalam satu waktu bisa membuat anak merasa tidak nyaman. Beberapa dampaknya adalah anak merasa privasinya terganggu, hingga merasa tidak dipercaya.  

4. Ajarkan mereka untuk menjawab duluan

Ketika anak memiliki pertanyaan atau kebingungan, jangan langsung menghadirkan solusi. Anak berhak untuk mengeksplor potensial jawaban terlebih dahulu. Bantu anak dengan memberikan pertanyaan pemacu, seperti “Bagaimana menurutmu” atau “Apa hasil yang kamu harapkan?”

5. Dorong anak untuk eksplor dan menggunakan sumber di luar rumah

Ajarkan anak untuk melihat peluang dan mengelola sumber daya yang ia miliki. Dalam upaya membantu anak mandiri, dorong mereka untuk mengeksplor lingkungan di luar rumah. Bantu mereka mengerti bahwa lingkungan di luar rumah menyediakan sumber yang bisa membantu mereka juga.

6. Jangan mematahkan semangat dan harapan

Sebagai orangtua, kita ingin melindungi anak kita dari rasa kecewa. Kita mungkin tidak tega untuk melihat mereka merasa sakit karena salah membuat pilihan. Tapi, apa yang kita lakukan ini memiliki konsekuensi. Dan ini adalah sesuatu yang perlu kita pertimbangkan dengan baik.

Ketika anak kita diperhadapkan dengan dua pilihan, lalu ia sudah mengambil keputusan di dalam kepalanya, ia memiliki harapan bahwa pilihannya akan berhasil. Terlepas dari bagaimana prosesnya, ia percaya pada diri sendiri (bahwa ia bisa membuat keputusan ini berhasil), dan ia percaya bahwa jalan yang ia tempuh akan membawanya pada keberhasilan yang ia inginkan. Orangtua bisa saja memiliki pemikiran dan pertimbangan yang lain. Dalam kondisi seperti itu, ketika orangtua memaksakan kehendak untuk melindungi anak, orangtua tidak hanya menjauhkan mereka dari konsekuensi, tapi juga mematahkan semangat dan kepercayaan diri.

Apakah orangtua tidak sebaiknya melindungi anak? Tentu kita harus. Itu adalah salah satu tanggung jawab kita. Ada hal-hal yang memang harus segera dihentikan, semisal anak usia 7 tahun ingin menyalakan kompor dan memasak sendiri tanpa orang tua. Maka dari itu kita perlu mempertimbangkan, bagaimana agar anak kita tidak terluka dan tidak kehilangan harapan? Apakah resikonya dapat anak kita tanggung? Bagaimana menyampaikan pendapat kita tanpa menghilangkan kepercayaan diri mereka?

Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Mengembangkan kemampuan anak untuk mengambil keputusan dimulai dari inisiatif orangtua untuk memberikan mereka ruang dan kesempatan melakukannya.

Referensi:
  • Faber, A., & Mazlish, E. (2012). How to talk so kids will listen & listen so kids will talk. Simon and Schuster.

Ditulis oleh: Amanda Teonata, S.Psi.
Sumber gambar: Character thinking vector created by upklyak – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed