3 Alasan Umum Para Ayah Tidak Terlibat Dalam Pengasuhan

Pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan tentu saja sudah tidak diragukan lagi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ayah yang berperan dalam pengasuhan anak membawa dampak yang positif, bukan hanya untuk perkembangan anak, tetapi juga bagi ayah sendiri. Hasil studi menunjukkan bahwa ayah yang terlibat dalam kehidupan anak lebih puas dengan kehidupannya. Mereka merasakan stres psikologis yang lebih rendah. Mereka juga  lebih mampu memahami diri sendiri serta memahami orang lain dengan lebih empatik.

Meskipun keterlibatan ayah memiliki manfaat yang besar bagi anak dan bagi dirinya sendiri, kenyataannya masih banyak ayah yang tidak terlibat dalam pengasuhan. Hal apa sih yang menjadi penghambat?

Mengapa sih ayah tidak terlibat dalam pengasuhan?

Berikut ini adalah beberapa hal penting yang sering menghambat ayah terlibat dalam pengasuhan anak.

  1. Memiliki pandangan bahwa pengasuhan anak adalah tugas ibu, bukan tugas ayah

Pandangan bahwa pengasuhan anak adalah tugas ibu banyak diperoleh dari pengalaman ayah di masa kecil atau dalam keluarga asalnya. Bagaimanapun juga pengalaman para ayah di masa kecil ikut mewarnai dan memberikan pengajaran tidak langsung mengenai peran yang seharusnya dilakukan oleh seorang ayah. Kalau di masa kecil sang ayah merasakan keikutsertaan dan keterlibatan ayahnya dalam kehidupan keluarga dan pengasuhan, lebih besar kemungkinannya ia akan melakukan peran yang sama ketika menjadi ayah. Pengalaman bermain dengan ayah di masa kecil, bercengkerama dengan ayah, bermain dengan ayah, belajar bersama ayah, bekerja bersama ayah, menumbuhkan pemahaman mengenai peran yang semestinya dilakukan oleh seorang ayah.

Sebaliknya apabila di masa kecil sang ayah tidak merasa kepedulian dan perhatian dari ayahnya, maka lebih besar kemungkinannya ia juga akan berpikir bahwa memang demikianlah seharusnya peran seorang ayah.

  • Merasa dirinya tidak memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mengasuh anak.

Anggapan bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mengasuh anak juga menjadi hambatan bagi para ayah melibatkan diri dalam kehidupan anak. Selain itu kritikan dari ibu ketika ayah tidak melakukan pengasuhan dengan sempurna membuat ayah semakin yakin bahwa dirinya tidak mampu dan tidak terampil. Hal ini membuat ayah tidak terlibat dalam pengasuhan dan menyerahkan sepenuhnya pada ibu.

  • Memiliki anggapan bahwa pengasuhan itu merepotkan, karena mengandung banyak hal-hal kecil.

Tidak dapat disangkal pengasuhan memang mengandung banyak pernak-pernik, lebih-lebih jika mengasuh anak balita. Tingkat kemandirian anak balita masih sangat rendah, sehingga perlu sekali dibantu dalam banyak hal misalnya dengan memandikan, menyuap, menemani tidur, membersihkan tempat bermain anak, dan masih banyak lainnya.

So what?

Kalau memang keterlibatan ayah dalam pengasuhan adalah hal yang sangat penting, apa yang harus dilakukan nich?

  1. Lakukanlah adopsi pandangan baru mengenai pengasuhan, ketika hal itu mengandung manfaat besar

Pengalaman dan budaya di keluarga asal memang ikut mempengaruhi pandangan mengenai peran seorang ayah. Hasil studi menunjukkan bahwa ketidak hadiran ayah membawa dampak negatif yang sangat besar pada kesehatan, kehidupan sosial dan emosional, serta perkembangan kognitif anak.  Karena itu tidak ada salahnya apabila ayah mengadopsi pandangan baru, menerapkan kebiasaan baru, serta menciptakan budaya baru dalam keluarga, yaitu budaya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.

  • Berlatihlah untuk menjadi terampil

Sesungguhnya kemampuan dan keterampilan pengasuhan tidak terjadi dengan sendirinya. Kemampuan dan keterampilan pengasuhan adalah hal yang dapat dipelajari dan akan berkembang dengan proses latihan. Ketika ayah memiliki pandangan atau anggapan bahwa pengasuhan adalah tugas ibu, maka ayah tidak terlibat dalam pengasuhan. Hal ini menghalangi ayah mendapatkan kesempatan belajar dan berlatih mengenai pengasuhan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayah yang terlibat dalam pengasuhan menjadi lebih percaya diri dan merasa lebih efektif sebagai ayah. Karena itu para ayah perlu mulai melangkahkan kaki terlibat dalam pengasuhan. Berlatihlah untuk menjadi terampil, karena tidak ada orang yang dapat menjadi terampil jika tidak terbiasa melakukannya. Para ibu juga perlu mendukung dan mengapresiasi upaya-upaya keras yang dilakukan ayah sekalipun hasilnya tidak sempurna dalam pandangan Ibu. Ibu-ibu boleh memberi masukan kepada ayah, tetapi hal itu perlu dilakukan dengan cara yang tepat sehingga tidak mengecilkan hati ayah.

  • Lakukanlah investasi dan nikmati prosesnya

Pada umumnya pria tidak menyukai hal-hal yang detil. Namun sesungguhnya ketika ayah menginvestasikan waktu dan tenaganya untuk terlibat dalam pernak-pernik pengasuhan, ia akan merasakan dirinya penting bagi anaknya dan merasa terdorong untuk terlibat lebih lanjut. Seperti halnya berbisnis, perlu sekali melakukan investasi. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan juga suatu investasi yang bermanfaat bagi masa depan anak maupun untuk kebaikan ayah sendiri. Karena itu lakukanlah investasi dengan terlibat dalam pengasuhan anak dan nikmati prosesnya.

Sumber:

Allen, S. & Daly K.  (2007). The effects of father involvement: an updated research summary of the evidence. Guelph: Centre for Families, Work & Well-being, University of Guelph.

Penulis:

Prof. Dra. Jenny Lukito Setiawan, M.A., Ph.D., Psikolog (Guru Besar Psikologi Konseling, dengan bidang minat utama Psikologi Pernikahan dan Keluarga)

Jika anda butuh informasi lebih lanjut, silahkan hubungi kami, Universitas Ciputra Center for Marriages and Families (UCMFC) melalui ucmfc@ciputra.ac.id

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/7edWO30e32k

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed