Manfaat Organisasi dalam Managemen

Manfaat Organisasi dalam Managemen

Memang banyak peristiwa yang terjadi saat ini, misalnya: harga daging sapi melonjak, harga daging ayam merangkak naik, banyak perusahaan yang gulung tikar ( bila masih punya “tikar” kalau tidak ya cukup “gulung-gulung” saja), rupiah melemah, bunga kredit merangkak naik dan masih banyak yang lain. Bila kita melihat secara jernih baik yang terjadi di internal mau pun eksternal perusahaan / organisasi / institusi, sudah sewajarnya bila seluruh komponen yang terlibat di dalamnya harus mulai melakukan kontemplasi ( permenungan ) yang mendalam agar timbul kalimat bijak dalam meresponnya “ bagaimana bereaksi terhadap hal-hal yang muncul tersebut “. Menghindari atau menghapus kata “ mengapa”, “ siapa penyebabnya “ yang sering dikemas secara cantik namun provokatif dalam acara talk-show yang ujung-ujungnya nir-solusi.

Manajemen perusahaan / organisasi / institusi sudah saatnya menerapkan ilmu manajemen sebagai spirit alih-alih sebagai teknik belaka. Manajemen sebagai teknik itu kan outer knowledge. Kalau kita berbicara manajemen sebagai spirit, berarti kita bicara inner knowledge. Jadi, kita mencari sesuatu dari dalam diri kita. Semua itu berangkat dari kejernihan. Manajemen itu bukan hanya ilmu, seni dan serangkaian teknik. Bila manajemen sebagai spirit, terutama setelah membaca sebuah karya fisikawan , kita dapat membagi realitas yang ada ke dalam tiga tingkatan. Pertama, realitas materi. Ini realitas paling rendah. Di sini melihat seseorang berdasarkan fisiknya. Dalam realitas ini, komunikasi yang terjadi berdasarkan panca indera. Kedua, realitas kuantum. Di sini berbicara dengan mind to mind.

Ketiga, realitas virtual. Di sini orang berbicara Tuhan, kalau menggunakan akal budi tidak akan nyambung. Mulailah menahan diri ( berpuasa ) terhadap gangguan-gangguan konsep solusi yang berasal dari para pakar manajemen yang mengatakan bahwa bunga mawar itu harum baunya padahal mereka belum pernah menciumnya atau bahkan belum pernah melihat sosok pohon mawar tersebut Kalau semua yang terjadi saat ini dijelaskan secara logika pastilah mengalami pendangkalan. Mungkin  masih membekas di ingatan kita bahwa ada seorang professor dari Inggris, seorang ekonom profesional yang telah menduduki fungsi dalam dunia universitas dan bisnis ( dua-duanya berhasil ), mencoba menyingkapkan dan menelanjangi kemelut ilmu ekonomi dengan membuat pernyataan dalam suatu seminar dengan mengangkat tema “Matinya Ilmu Ekonomi “ justru membuat gerah penguasa dan para think-tank nya.

Jujur saja masih banyak perusahaan / organisasi / institusi belum mempunyai Master Improvement Story, seperti dikatakan oleh Prof.Dr. Vincent Gaspersz dalam bukunya Organizational Excellence. Sehingga semua menu konsep solusi manajemen ( sistem manajemen kinerja, mulai dari ISO 9001, MNBQA, Balance Scorecard, Six Sigma dan masih banyak yang lainnya ) dilahap secara greedy, namun tidak menghasilkan hasil yang memuaskan.

Semua konsep di atas bukan berarti jelek, namun bila dilakukan secara acak, parsial dan tidak terintegrasi maka hasilnya tidak memberikan hasil yang memuaskan. Dan juga jangan secara apriori mengatakan bahwa para pakar manajemen tidak benar, tetapi perlu dipahami bahwa para pakar lebih tertarik pada gelombang-gelombang panjang daripada gelombang-gelombang pendek. Secara spekulatif perhatian ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pertama,trend dan megatrend adalah gejala yang tampak begitu indah, seindah bulan yang tampak bulat dan bercahaya bila dilihat dari jauh. Keindahan itu menimbulkan daya tarik ilmuwan untuk mengkajinya. Kedua, dibutuhkan waktu yang panjang untuk membaca, meringkas dan mengklasifikasikan berbagai fenomena itu ke dalam sebuah karya pengetahuan sementara sebuah fad ( gejala sesaat, jangka pendek ) berlangsung begitu cepat. Para akhli sering terlambat mengamati fenomena-fenomena instant yang segera menjadi obsolete.

Ketiga,analisis fad dianggap kurang bergengsi, bukan pemikiran mainstream, hanya berwawasan lokal sehingga kurang menarik. Keempat, para pakar sering terperangkap dalam ilmunya yang bersifat makro, yang didukung dengan peramalan jangka panjang, kuantitatif dan klasikal. Intellectual exercise dalam ilmu-ilmu sosial lebih sering digunakan untuk menganalisis suatu perubahan yang permanen sifatnya, berjangka waktu panjang, dan terfokus pada obyek-obyek yang memerlukan pemikiran yang dalam.

Sehingga masih releven jika direnungkan kembali buku yang ditulis oleh Jesper Kunde, Corporate Religion,yang secara singkatnya mengatakan bahwa suatu perusahaan harus memiliki kepribadian dan jiwa yang kuat agar dapat secara tegak dan kokoh berdiri di tengah kancah persaingan yang semakin tajam. Untuk mencegah agar tidak mudah terpengaruh oleh fenomena-fenomena dan teori-solusi yang pragmatis dan instant maka perusahaan / organisasi / institusi perlu mengolah raga dan jiwanya persis seperti yang dilakukan oleh saudara-saudara muslim yang saat ini sedang melaksanakan ibadah puasa.

Pendekatan efisiensi dan efektivitas yang telah dilaksakan saat ini perlu dikaji ulang apakah sudah dilaksakan secara baik dan benar ? Apakah semua sumber daya sudah dikelola dengan benar? Perusahaan / organisasi / institusi perlu mempraktekan rasa empati terhadap pelanggan masyarakat dan alam sekitarnya. Hal ini bisa dilakukan jika perusahaan melaksanakan “meditasi “ yang intens. Dengan menahan “lapar” dan “dahaga” perusahaan perlu memikirkan ulang misalnya: apakah produk mau pun jasa yang dihasilkan sudah untuk kemaslahatan orang banyak? Bila sudah, pertahankan dan tingkatkan.

Bila belum, segera rekayasa kembali agar menjadi baik dan benar di mata pihak-pihak yang terkait ( masyarakat, pemerintah dan lingkungan sekitarnya). Apakah harga yang ditawarkan sudah mencerminkan nilai yang akan diperoleh oleh para pelanggan. Bagaimana dengan promosi yang diluncurkan ? apakah sesuai dengan kualitas/keadaan yang sebenarnya. Apakah perusahaan / organisasi / institusi telah melaksanakan filosofi saudara kita di Manado yang mempunyai refleksi atas evolusi nilai-nilai manusia dengan motto : “ Si Tou Timou Tumou Tou “ yang artinya manusia menjadi manusia untuk memanusiakan manusia.

Oleh : Alexander Wahyudi