Yehezkiel Nugraha Ivan Wijaya, Pengidap Disleksia yang Berprestasi_Curahkan Energi untuk Bikin Desain. Jawa Pos. 11 Maret 2019. Hal.21,31

Meraih juara pertama National Competition “Uma Seminyak New Logo and Response” di Bali pada 7 Januari lalu adalah bukti kecemerlangan Yez. Mahasiswa semester VIII Jurusan Interior Architecture Universitas Ciputra itu mengangkat judul Jegeg Bagus, Kipas Jepun untuk desain logo yang diikutkan dalam kompetisi ternama di Bali tersebut. Judul karyanya diambil dari Bahasa Bali. Jegeg berarti cantik. Bagus bermakna ganteng. Kemudian, kipas adalah kipas kayu cendana yang biasanya dijadikan oleh-oleh para pendatang, Jepun adalah bunga yang sering dipakai perempuan Bali sehingga menambah kecantikan pemakainya. Nah, tema karyanya merepresentasikan desain yang mengalahkan puluhan karya hebat lainnya, “Nggak nyanglka bisa jadi juara pertama,” ujar Yez.

Karya Yehezkiel terbilang sederhana. Hanya ada satu perempuan dan laki-laki yang tampak berbaring terpisah sambal mengenakan sarung kuning khas Bali. Mereka mengenakan kopiah dan tampak bunga kamboja di masing-masing telinga dua orang dalam gambar itu. Di dalam frame gambar tersebut ada kipas cendana dan setangkai bunga kamboja setengah mekar. “Kata jurinya, juara karena menggambarkan tradisi Bali secara utuh,” tutur Yez dengan nada terbata-bata. Yang membuat prestasi itu terasa istimewa adalah kekurangan yang dimiliki kreatornya.

Seorang yang mengidap disleksia bisa mengalahkan banyak competitor normal. Itu tentu saja luar biasa. Kerja keras melawan keterbatasan dan persepsi masyarakat yang sering memandang sebelah mata. Sejak kelas 1 SD sempat tidak naik kelas. Merasa rendah diri. Lebih banyak diam. Bahkan, saat Bersama orang tua, dia tetap memilih diam. Orang tuanya sempat pesimistis akan kondisinya. Namun dalam diam, Yez memilih terus belajar membaca meski mengalami keterbatasan. Awalnya, dia sama sekali tidak bisa mengenali tulisan. Bahkan, tulisan tampak berbalik saat dibaca. Dulu, keterbatasannya membuat dia sulit mengeja. Namun, dia terus memaksa diri. Mengenali huruf dan membaca. Kemudian, mendalami passion dalam bidang desain. Prestasinya malah tidak terduga. Bahkan, oleh orang tuanya.

Prestasi itu juga membuat Yenli Suwastini, sang ibu, mengubah pandangan. “Sebenarnya saat mengandung Yez, saya berharap mendapat anak perempuan,” katanya. Saking pingin punya anak perempuan, dia mengaku sempat berdepat dengan dokternya. “Nama yang saya siapkan juga nama perempuan,” kata perempuan 50 tahun tersebut. Yenli mengaku down ketika mengetahui bayinya laki-laki. “karena terlalu kepingin anak perempuan, jadi belum ada nama saat itu,” ceritanya, lantas terisak pelan. Dengan nada sedih, dia mengaku kesal kepada Yez. Apalagi, ternyata dia mempunyai kekurangan.

Namun, melihat tekad dan pencapaian anaknya, pandangan Yenli berubah. Dia yang semula kesal menjadi begitu saying dan bangga pada Yez. Termasuk Eddy Surya Wijaya, suaminya. “Kami jadi begitu memaknai bahwa Yez merupakan anugerah dari Tuhan. Malaikat dalam keluarga. Saya minta ampun. Baik kepada Tuhan maupun kepada Yez karena sempat keliru saat itu,” ucapnya.

Kini, Yenli mendukung sepenuhnya apa yang menjadi keinginan sang anak. “Saya akan berusaha memfasilitasi secara maksimal apapun yang saya bisa lakukan untuk Yez,” katanya. Bahkan, jika memungkinkan dan Yez ingin, dia siap membantu menyekolahkan sang anak hingga ke luar negeri. “Semoga Yez bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang,” harapnya.

 

Sumber: Jawa Pos, 11 Maret 2019.Hal.21,31

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *