Yanuri. Benteng Kentrung Blora. Kompas. 24 Juni 2021. Hal.16

Kesenian kentrung di Jawa Tengah terancam punah lantaran tinggal segelintir orang yang masih memainkannya. Di Blora, Yanuri (57) menjadi salah satu benteng terakhir yang menjaga kentrung.

Kentrung adalah seni tutur yang dinyanyikan dengan iringan rebana. Kesenian ini menjadi sarana untuk menyebarkan nilai-nilai kehidupan, keagamaan, sampai program pembangunan pemerintah.

Yanuri menunjukkan permaian kentrung dengan tiga rebana saat ditemui di rumah salah satu keponakannya di Desa Sendanggavam, Kecamatan Banjarejo, Blora, Jawa Tengah, Rabu (26/5/2021). Satu rebana ia letakkan di kursi, satu ditidurkan di lantai, dan satu lagi yang terbesar didirikan di atas pahanya.

Dengan luwes, jemari tangan kiri Yanuri menabuh ketiga rebana secara bergantian hingga membentuk irama. Selepas intro, matanya terpejam. Sejurus kemudian, lantang terdengar tuturan syair dari mulutnya. “Uluk salam miwah, ya mas. Bethari iman pelaku. Khalifah Allah sangate. Ya rahimin bumine Allah. Ya rahimin bumi kawulo. Nek kawulo, kawulo Allah. Kawulo sakdermo kondho. Kawulo sakdermo cinarito.”

Syair itu merupakan salam pembuka dari lakon Babad Tanah Jawa yang berkisah tentang Kerajaan Tuban, tempat Adipati Wilwatikta. Lakon ini sering dibawakan Yanuri setiap tampil. Di luar itu, ia membawakan kisah-kisah nabi, para wali, dan lainnya yang ia hafal di luar kepala.

“(Lakon) bergantung pada permintaan yang nanggap dan menyesuaikan di mana pentasnya. Saat pentas, juga bisa diselipkan apa yang ingin disampaikan dalangnya. Dalangnya, ya, saya,” kata Yanuri yang meneruskan kentrung dari ayahnya, Sutrisno.

Yanuri menuturkan, dulu ayahnya memainkan lima rebana, sebelum kemudian menjadi tiga saja. Menurut dia, secara filosofis, lima rebana menggambarkan lima sila Pancasila. Bagi umat Islam, lima rebana merupakan simbol kewajiban shalat lima waktu.

Jejak ayah

Yanuri mengisahkan, ayahnya yang berasal dari Gubug, Kabupaten Grobogan, mulai mengentrung pada 1950-an, selepas mondok di Kabupaten Demak. Yanuri mulai ikut menemani ayahnya pada dekade 1980-an. Sang ayah tidak pernah mengajarkan kentrung secara khusus kepada Ya nuri. Ia belajar hanya dari melihat dan mendengar lakon yang di bawakan ayahnya saat pentas.

Tahun 1980-an, lanjut Yanuri, banyak permintaan tampil dari luar kota, seperti Surabaya, Semarang, Yogyakarta, hingga Jakarta. “Dulu ke mana-mana kami berdua pakai bus. Kalau ada yang manggil dari Semarang, jam sembilan pagi kami sudah berangkat, untuk jaga-jaga. Kalau tampil atau mentaskan, biasanya malam sampai dini hari,” kenang Yanuri.

Ia ingat betul ketika diundang oleh instansi pemerintahan, ayahnya kerap menyelipkan pesan-pesan “sponsor” terkait program pembangunan. Para pengundang senang kalau program-program itu disampaikan di atas pentas.

Setelah Sutrisno meninggal pada 2003, Yanuri meneruskan jejak ayahnya sebagai dalang kentrung. Ia mengaku sering teringat ayahnya dan meneteskan air mata di atas pentas. “Saya ingat kata-kata bapak, kalau ada yang manggil, saya pasti bisa,” ucap Yanuri yang merasa mendapat kekuatan khusus dari ayahnya sehingga terampil mengentrung.

. Yanuri biasa tampil di acara hajatan, acara instansi pemerintah, atau di rumah tetangga yang ingin mendengarkan kesenian itu. Di Blora, kentrung juga berkaitan dengan nazar dan ungkapan harapan. Misalnya, ada orang ingin segera memiliki momongan, dia akan memanggil kentrung.

Sekitar sepuluh tahun terakhir, lanjut Yanuri, peminat kentrung semakin berkurang seiring dengan kian banyaknya alternatif kesenian lain. Dalam sebulan kadang ada panggilan lebih dari sekali, kadang tak ada. Peminat yang tersisa kebanyakan kalangan tua.

Yanuri menerima bayaran sekitar Rp 1 juta untuk tampil di wilayah Blora. Ia biasanya bermain semalam suntuk dari sekitar pukul 20.00 hingga 03.00. Khusus bagi yang memiliki nazar, ada tradisi khusus, yakni bedah kupat luar. Ada tambahan uang dalam ketupat. Jumlahnya tergantung si pengundang. Kini Yanuri bergantung pada orang-orang yang mengundangnya karena memiliki nazar.

“Kalau dulu, banyak yang mengundang, ya, karena ingin lihat kentrung saja. Namun, sekarang kebanyakan, ya, karena ada keinginan tertentu,” ujarnya. Pandemi Covid-19 membuat Yanuri semakin terjepit lantaran pentas kesenian dibatasi untuk mencegah kerumunan dan penyebaran Covid-19. Agar bisa mendapat pemasukan, ia bekerja sebagai buruh tani dan pekerjaan serabutan lainnya.

Yanuri masih memiliki semangat untuk mempertahankan sekuat tenaga kesenian kentrung. Ia telah menyiapkan seorang keponakannya untuk menjadi penerus kentrung. Namun, saat ini si keponakan itu belum bisa mentas atau melakukan apa yang dilakukan Yanuri. “Nanti kalau sudah saya wariskan, bisa,” ujarnya penuh keyakinan.

Yanuri berharap pemerintah bisa memberikan dukungan agar kesenian langka ini bisa bertahan dan tidak punah. Yanuri sendiri berkeyakinan, meski kini banyak pilihan kesenian tradisi lain yang mungkin lebih populer, kentrung dengan segala kekhasannya tidak akan lenyap ditelan zaman.

 

Sumber: Kompas. 24 Juni 2021. Hal. 16

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *