Winning The Pandemic Fight With The Spirit of Majapahit: Modernisasi itu Mengikis Sejarah?

Puluhan tahun lalu sebelum internet ditemukan, mungkin yang hanya bisa kita nikmati hanyalah apa yang ada disekitar kita. Namun sekarang dengan adanya dunia baru yang dikarenakan globalisasi, nilai-nilai budaya kian luntur. Sebagai manusia, normal rasanya untuk selalu mencari sesuatu yang baru. Tidak terlepas dari inovasi yang semakin lama semakin berkembang dan canggih. Di dunia yang sekarang, sangat mudah untuk mencari segala sesuatunya, tinggal satu klik lalu kalian akan temukan. Dibalik itu ternyata ada berbagai peninggalan sejarah yang mulai terlupakan dan terkikis. Tapi jika kita coba untuk melihat dari sisi positifnya, sebenarnya perubahan kearah yang modern itu ada baiknya loh, asalkan kita belajar dari masa lalu ya!

UC Library kembali mengadakan iTalk (Innovation Talk) yang mengangkat topik tentang Kerajaan Majapahit. Melalui iTalk ini diharapkan para peserta dapat belajar dari semangat masa kejayaan Majapahit. Karena sebetulnya kita bisa mengambil banyak pelajaran dan nilai moral dari sebuah sejarah, terutama pada saat krisis seperti masa pandemi ini. Kalau mendengar nama Kerajaan Majapahit, pasti yang ada di ingatan kita adalah para penguasa Majapahit, Raden Wijaya, Mahapatih Gadjahmada dan Hayam Wuruk. Namun ternyata ada tokoh-tokoh lain di balik berdirinya Kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia ini. Di acara yang dilaksanakan secara online melalui Zoom Meeting dan dimoderatori oleh Pak Chrisyandi Tri Kartika, S.Sos. (Pustakawan Perpustaakaan Universitas Ciputra Surabaya dan Ketua Komunitas Pernak-Pernik Surabaya Lama) ini, peserta juga akan mengenal tokoh-tokoh pahlawan di masa Majapahit yang direpresentasikan melalui Museum.

iTalk ini diadakan pada Senin, 30 November 2020 pada pukul 15.00 – 17.00 WIB dan dihadiri oleh 51 peserta dan mengundang dua narasumber, yaitu Adrian Perkasa, S.Hum., M.A. (Kandidat Doktor Universitas Leiden, Belanda, Penulis Buku Orang-orang Tionghoa & Islam di Majapahit) dan Ajeng Ayu Arainikasih, S.Hum., M.A. (Peneliti Museum, Kandidat PHD Universitas Leiden, Belanda, Penulis Buku #MuseumTravelogue series).

Ketika kita mengetahui sejarah kita, maka kita akan lebih paham dan mendapat kejelasan dalam kehidupan kita kedepannya. Bapak Adrian Perkasa, S.HUM., M.A. merupakan salah satu narasumber yang akan menyampaikan topik pada sore hari itu. Pada sesi pertama ini, ia menjelaskan beberapa hal penting yang menunjukkan betapa berdampaknya Kerajaan Majapahit pada kehidupan kita di zaman sekarang. Tahukah kalian bahwa model ‘pemerintahan’ nusantara pada masa ini sebetulnya ternyata hasil dari pengamatan dari Kerajaan Majapahit loh! Mulai dari pembentukan symbol pohon beringin di Garuda, hingga banyak lainnya yang merupakan inspirasi untuk menentukan bentuk NKRI. Tidak hanya kepada Negara, namun berdampak juga pada ilmu pengetahuan hingga ajaran-ajaran penting seperti sifat utama kepemimpinan. Sadar gak sih kita sebenarnya bahwa banyak hal yang kita gunakan di masa kini yang ternyata adalah hasil dari masa lampau? Pertanyaannya sekarang hanya apakah kita mau menggali lebih dalam untuk menarik garis sejarah tersebut?

Nah, tentunya banyak dari kita yang pasti sudah merasa bosan untuk mempelajari sejarah yang gitu-gitu aja. Itulah sebabnya ada beberapa bentuk modernisasi yang dapat membantu kita mempelajari sejarah tersebut loh! Topik yang kedua ini dilanjutkan oleh narasumber kedua yaitu Ibu Ajeng Ayu Arainikasih, S.Hum., M.A. Ia menjelaskan bahwa peninggalan-peninggalan tentunya merupakan clue yang patut kita lihat dan pelajari, karena memang itu sangat mempengaruhi kehidupan kita! Toh ngga ada ruginya loh menambah ilmu, apalagi dengan cara yang asik! Ibu Ayu menjelaskan mengenai museum abad 21 yang sekarang dilengkapi dengan banyak fasilitas untuk membantu kita lebih ‘enjoy’ dalam menjelajahi sejarah. Ada beberapa point museum abad 21 yang disampaikannya pada sesi ini, antara lainnya adalah people oriented, interactive and 5 senses exhibits and participatory, visitors as users, museums are accessible 24/7, inclusive museum, hingga socially responsible museum. Wah, banyak juga yah! kira-kira apa sih itu semua?

People oriented, not object oriented, yang dimana berarti museum itu tetap mementingkan manusia yang berkunjung, bukan bendanya. Meskipun museum itu berisikan barang peninggalan ataupun barang penting, namun barang atau objek tersebut hanyalah sebuah cerita yang memberi kita sebagai pengunjung sebuah ilustrasi agar kita bisa membayangkan cerita apa yang ada dibalik object tersebut. Tentunya, dilanjutkan dengan interactive and 5 senses exhibits dimana pengunjung juga bisa ikut untuk menikmati, menyentuh, dan memiliki eksperiens tersendiri dalam museum tersebut. Mungkin hal ini bisa ditunjukan hanya dengan bagaimana pengunjung membuat clay, membuka tutup label, atau sekedar hanya dengan mengikuti bayangan. Selanjutnya, ada juga inclusive museum dimana berarti museum itu tidak tertutup untuk suatu golongan manusia tertentu. Namun, ada juga fasilitas yang diberikan untuk orang-orang dengan disabilitas, atau mungkin juga ada museum yang aman bagi anak-anak kunjungi. Tentu dengan adanya inclusive museum ini, sangat membantu orang-orang agar lebih mudah menikmati museum tersebut ya kan!. Kemudian yang terakhir, ada juga socially responsible museum dimana tentunya bisa membantu kita untuk menciptakan kehidupan social yang lebih harmonis dan baik!

Setelah kita mendengar iTalk tersebut, apakah masih berpikir bahwa sejarah itu membosankan? Ternyata tidak loh teman-teman! Kalian malah bisa belajar lebih banyak lagi dengan bantuan internet yang ada untuk mengakses mengenai budaya dan sejarah dengan cara yang lebih modern dan tidak membosankan! Jadi yuk, kita bisa bersama-sama belajar dari orang-orang pada masa lampau dan mengaplikasikan hal tersebut di kehidupan kita sehari-hari!

Salam Literasi.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *